
3 bulan talah berlalu, kondisi Vivi masih seperti semula. Hanya ada suara alat-alat yang saling bersahutan tanpa terdengar suara lain dari bibir Vivi. Rasanya begitu sepi, ketika Naila harus menjalani hati-hatinya tanpa sentuhan lembut tangan sang bunda.
Sama halnya adik serta sang ayah, mereka berdua juga terlihat semakin tidak terurus semenjak Vivi masih dalam keadaan koma. Setiap hari, Leon selalu menjaga Vivi dan akan meninggalkannya kalau ada pekerjaan yang benar-benar tidak bisa ditinggalkan.
Sementara itu, Naila beberapa kali bolak-balik ke rumah sakit bersama perawat yang Leon sewa untuk menjaga si kecil sampai kondisi Vivi benar-benar sembuh total.
Entah, sampai kapan Vivi harus melewati hari-hari tanpa membuka mata. Wanita paruh baya itu hanya bisa tertidur di atas kasur tanpa sedikit melakukan pergerakan. Sejauh ini tidak ada tanda-tanda yang mereka temukan. Baik tanda kemajuan atau penurunan, semua kondisi Vivi tetap stabil.
Mereka selalu berdoa semoga Vivi segera diberikan kesembuhan dan tidak ada lagi ujian selanjutnya yang mereka terima. Kasihan, apabila Naila harus menghadapi kenyataan pahit karena beberapa kali dia selalu menyalahkan dirinya sendiri atas apa yang terjadi pada sang bunda.
Naila juga sudah tahu semuanya dari Leon. Beberapa bukti berupa video serta foto-foto waktu Naila kecil ternyata sudah dibungkus rapi oleh Leon di dalam satu album khusus. Album itu di simpan rapat-rapat oleh Leon di kantor, tepat di dalam kotak kecil yang sering kali digunakan untuk menyimpan uang.
Brangkas dengan kode tertentu hanya Leon yang bisa membukanya. Semua orang mengira isi di dalamnya itu berupa uang tabungan atau semacamnya, tetapi salah. Ternyata di situ semua hanya tersimpan sebuah kaset dan album khusus yang Leon jaga setelah kehilangan sang kakak.
Leon pikir hanya inilah bukti satu-satunya yang suatu saat akan membantu Leon. Di situ juga ada rekaman ketika mendiang kedua orang tua Naila di makamkan, serta video dan foto-foto kebersamaan mereka semua.
Dari situlah, Naila merasa sangat bersalah. Seharusnya dia bersyukur karena memiliki paman dan bibi yang begitu menyayangi Naila melebihi diri mereka sendiri. Tidak banyak anak yang memiliki keberuntungan seperti Naila, bisa kembali memiliki keluarga meskipun, bukan keluarga asli. Akan tetapi, mereka tetap masih ada hubungan da*rah yang berarti kerabat, bukan orang lain.
...🌟🌟🌟🌟🌟...
Di taman rumah sakit, Naila sedang duduk seorang diri tepat di bawah pohon sambil melihat pemandangan anak-anak kecil sedang bermain bersama teman atau ibunya. Walaupun, ada beberapa anak yang memakai kursi roda atau impusan tetap saja mereka terlihat senang saat ditemani keluarga.
__ADS_1
Sementara Naila? Gadis itu hanya bisa menyendiri. Dia memikirkan bagaimana nasib sang adik yang sudah mulai bisa berjalan meskipun, masih sering jatuh. Kemudian, keadaan Leon yang semakin ke sini penampilannya semakin tidak terurus.
Naila berpikir, pengaruh besar atas kebahagiaan mereka ternyata dipegang kendali oleh Vivi. Mungkin, jika Leon yang ada di posisi itu Naila tidak akan terlalu pusing memikirkan keadaan semuanya. Hanya saja, Naila juga tidak ingin Leon bernasib sama dengan Vivi.
"Hahh ... Andai saja, waktu itu aku tidak pergi dalam keadaan emosi. Mungkin, saat ini Bunda tidak ada di rumah sakit. Kita bisa menjalani hari-hari seperto biasa. Cuma, bo*dohnya aku. Kenapa aku kurang bersyukur atas apa yang aku miliki saat ini? Coba saja waktu itu aku tidak marah, pasti keadaannya tidak akn serumit ini."
"Bunda dan Ayah memang bukan orang tua kandungku, tetapi mereka telah menunjukkan padaku bahwa, mereka berusaha keras untuk menjadi orang tuaku sampai aku tidak memiliki pirasaat apa pun tentang mereka. Kalau sudah begini, apa yang bisa aku lakukan buat Bunda? Tidak ada, bukan? Kamu hanya bisa memikirkan egomu sendiri, dasar bod*doh!"
Naila mengoceh sambil memukuli kedua kaki serta kepalanya sendiri, sesekali menjambak rambut panjangnya akibat penyesalan yang terus berada di dalam isi kepalanya.
Air mata kembali mengalir menghiasi wajah gadis itu yang semakin terlihat sayu bagaikan bunga yang tidak di siram. Naila sudah tidak tahu lagi, cara apa yang harus dilakukan supaya Vivi bisa kembali bangun.
Naila hanya takut kalau Vivi akan selamanya seperti ini. Jika itu terjadi, bagaimana nasib Leon yang sudah lama tidak merasakan sentuhan istrinya? Apalagi si kecil juga yang sudah tidak pernah lagi merasakan pelukan hangat sang bunda. Naila sangat mewanti-wanti Leon, supaya dia tidak mencari kenyaman pada wanita lain.
Gadis itu terus memukuli kepalanya hingga terasa sakit dan pusing, membuat seseorang yang melihatnya langsung berlari kemudian duduk di sebelah Naila sambil menahan kedua tangannya.
"Sudah cukup kamu melakukan hal ini! Berapa kali aku bilang, jangan pernah pergi sendirian. Ayahmu bilang kamu pergi ke kantin untuk membeli makan, terus kenapa kamu ada di sini?"
"Dokter bilang, kamu tidak boleh sendiri karena itu akan sangat berbahaya bagi dirimu. Trauma, depresi yang kamu rasakan sewaktu-waktu bisa muncul kalau kamu mengikutinya. Terbukti, 'kan? Kamu lagi-lagi menyakiti dirimu sendiri, buat apa, Naila? Buat apa!"
"Apa yang bundamu rasakan bukan sepenuhnya kesalahanmu, ini adalah takdir yang Tuhan tentutan dengan jalan seperti itu. Bukan berarti kamu harus berlarut-larut di dalam penyesalan kaya gini. Boleh kamu menyesal, tapi jadikan itu pelajaran agar kami bisa lebih baik lagi. Bukan malah menyiksa tubuhmu sendiri kaya gini, lihatlah! Tubuhmu sudah semakin kurus, rambutmu acak-acakan udah gitu rontok, di mana Naila yang aku kenal, hem?"
__ADS_1
Nasihat dari orang itu membuat Naila terdiam sejenak mendengarkan apa yang disampaikan. Mereka saling menatap satu sama lain tanpa mengalihkan pandangannya.
"Oppa mau tahu di mana Naila yang Oppa kenal, iya? Naila itu sudah lama ma*ti! Sekarang hanya ada Naila yang gila, Naila yang depresi, Naila yang penuh dengan trauma dan Naila yang hidup tanpa tujuan!"
"Naila capek, Oppa. Naila capek hidup kaya gini! Semua ini terjadi karena Naila. Ayah tidak bisa tertawa tanpa Bunda, Ade tidak bisa lagi merasakan kasih sayang Bunda. Mereka semua tersiksa hanya karena Naila, Oppa, Naila!"
"Naila pembawa si*al bagi hidup mereka, andaikan Naila yang kecelakaan mungkin mereka tidak akan menderita seperti ini. Biarkan Naila yang alami semua ini, tetapi tidak dengan mereka. Naila sayang sama mereka, Naila gak mau mereka sakit. Naila gak mau Oppa, Naila gak bisa hiks ...."
Seseorang yang menemui Naila tidak lain adalah Naku. Hanya dialah satu-satunya pria yang selalu Naila panggil dengan sebutan Oppa. Melihat keadaan gadis ini semakin tidak baik-baik saja, membuat hatinya langsung terasa sesak.
Tidak ada yang bisa Naku lakukan selain memeluk Naila. Keadaan seperti ini Naila hanya butuh sandaran, semangat dan kelembutan. Bukan berarti Naku mencari kesempatan di dalam kesempitan, hanya saja Naku tidak tega mendengar semua kalimat yang Naila katakan seperti sebuah tekanan di hati.
Tanpa disadari, ada seseorang yang sedang mendekat ke arah mereka dan berhasil membuyarkan suasana hangat di antara keduanya.
.......
.......
.......
...💜💜>Bersambung<💜💜...
__ADS_1