
"Baiklah, jika kamu terdiam seperti ini tidak mau jawab apa yang aku katakan, tak apa. Biar aku saja yang akan menghubungi keluarga Yola, supaya anakku bisa selamat berdoa doa-doa yang mereka berikan!"
Dengan rasa kesal, Rani langsung mengambil ponsel dari tas kecil yang selalu dia selempangkan. Di dalam tas kecil itu, hanya berisikan dompet serta ponsel seperlunya sekedar berjaga-jaga. Selebihnya, barang penting yang lain ditinggal di kamar rawat Joey.
Saaf ponsel berhasil Rani ambil dari dalam tas, tiba-tiba saja Ragil segera merampasnya dan membuat sang istri merasa sangat kesal. Dari tadi sang suami hanya terdiam tanpa melakukan apa yang disuruh istrinya, tetapi ketika Rani ingin melakukannya semua langsung ditahan begitu saja.
"Kembalikan ponselku, Ragil. Kembalikan!" bentak Rani, sudah tidak tahu harus melakukan apa selain menghubungi keluarga Yola.
"Aku akan kembalikan ponselku, asalkan kamu tenang!" pinta Ragil, tatapan matanya dipenuhi oleh rasa khawatir jika apa yang dilakukan sang istri akan membuat Joey merasa sedih.
"Tenang katamu, hahh? Bagaimana aku bisa tenang, Gil, bagaimana! Sentara di dalam sana anakku sedang berjuang, tapi kenapa di saat aku mau meminta bantuan sekedar doa bukan duit, kamu malah melarangku. Kenapa? Apa kamu ingin anak kita----"
"Cukup, Ran, cukup! Ingat, ini rumah sakit. Di dalam ada para dokter yang sedang berjuang menyelamatkan anak kita, kalau kamu berteriak seperti itu akan membuat mereka hilang konsentrasi!"
Perkataan yang Ragil ucapkan dengan tegas membuat Rani langsung terdiam. Sang suami menatap wajah istri tercinta yang sangat terlihat setres memikirkan nasib anak semata wayang mereka.
Sebenarnya, Ragil juga merasakan apa yang Rani rasakan, bahkan jauh lebih dari yang dirasakan. Cuma, tidak ada jalan selain mereka harus berpikir jernih dalam melakukan sesuatu yang nanti tidak akan membuat panik semua orang.
__ADS_1
Rani menangis sambil menutupi wajah dalam keadaan menunduk, membuat hati sang suami trgores menyaksikan betapa frustrasi istrinya ketika mereka harus menghadapi ujian sebesar ini. Tidak tahu apa yang akan terjadi pada sanga anak, tetapi harapan akan kesembuhan selalu mereka tanamkan di dalam lubuk hati terdalam meskipun, harus melawan pikiran-pikiran yang sangat menyakitkan.
Perlahan Ragil membawa sang istri ke dalam pelukannya, lalu mengembalikan ponsel ke tangan Rani, "Tenang, Sayang. Aku tahu kamu takut Joey kenapa-kenapa, aku paham karena aku juga merasakan semua itu. Cuma, gimana? Joey sudah berpesan sama kita. Sebelum dia selesai operasi, jangan sampai kita memberikan kabar apa pun dengan keluarga Yola."
"Joey meminta agar kita bersabar, setelah operas selesai dan kita mengetahui semua itu barulah kita akan mengabari mereka semua. Intinya, sekarang kita harus berjuang berdoa agar Joey tetap bisa melewati semua ini. Fokus kita sekarang cukup untuk Joey, jangan ke mana-mana. Anak kita sedang berjuang untuk hidup dan ma*tinya, jadinkita harus menghargai itu semua."
"Seandainya kita mengabari keluarga Yola di saat genting seperti ini, itu malah akan membuat kita semua menjadi panik. Lebih baik kita tenangkan pikiran dan perbanyak doa supaya Tuhan segera mengabulkan doa-doa kita. Sekarang aku mohon, tenang ya, Sayang. Kita bisa lewati semua ini, anak kita anaknyang hebat, dia kuat, pasti kuat. Percayalah, Joey akan sembuh dan kita bisa bahagia lagi."
Ragil mengusap air mata istrinya, mencoba untuk selalu tersenyum demi membuat Rani merasa nyaman dan tenang. Walaupun, di dalam hati sang suami sangat berantakan, tetap saja Ragil kepala rumah tangga. Suka tidak suka, kepahitan dia telan sendiri, supaya mampu menangani semua ini dalam keadaan setenang mungkin.
Tidak ada yang harus Ragil jawab dari pertanyaan Rani. Semakin dia menjawab, maka pikiran sang istri akan semakin lari ke mana-mana. Lebih baik, sang suami terdiam sekedar menenangkannya supaya perasaan dan pikiran buruk itu tidak semakin berlarut-larut.
2 jam berlalu, operasi Joey masih terus berjalan tanpa adanya kabar sedikit pun dari dokter yang menanganinya. Melihat jam sudah menunjukkan pukul 12 siang, sudah waktunya mereka mengisi perut supaya tidak sampai kosong. Meskipun, pikiran mereka tertuju pada sang anak tetap saja harus menjaga kesehatan dengan baik.
"Kita mau makan di kantin apa mau aku bungkusin aja, kita makan di sini?" tanya Ragil, mengelus kepala sang istri.
"Kamu aja, aku gak naf*su makan. Sebelum aku tahu keadaan Joey, aku tidak akan mau menyentuh minuman atau makanan sekaligus, titik!" jawab Rani tanpa menatap suaminya dan lebih memilih melihat ke arah pintu operasi yang dari tadi tak kunjung terbuka.
__ADS_1
"Sayang, dengarkan aku. Kalau kamu bersikap seperti ini, kasihan Joey. Kalau nanti Joey sembuh, terus gantian kita yang sakit, gimana? Terus, siapa yang akan mengurus Joey, hem? Pasti gak ada 'kan, maka dari itu. Selagi Joey berjuang buat kesehatannya, kita juga harua berjuang mengumpulkan tenaga supaya nanti saat kabar bahagia itu tiba, kita bisa mengurus Joey sampai sembuh. Jadi, please ... Makan ya, Sayang. Aku belikan, oke? Atau, aku suapin kita makan bareng-bareng kaya waktu kita masih pacaran ya, hehe ...."
Ragil selalu berusaha mencairkan suasana tegang, juga sedih yang saat ini Rani rasakan. Tanpa membantah perkataan sang suami, wanita itu hanya menganggukan kepala dan tersenyum sangat tipis meski rasanya sangat sakit ketika mereka harus tetap merasa senang di atas penderitaan sang anak yang sedang berjuang.
"Ya, sudah. Kamu tunggu dulu di sini, aku belikan makanan untuk kita. Jangan lupa segera kabarkan padaku, jika ada perkembangan tentang Joey. Oke?"
Rani mengangguk perlahan, membuat sang suami segera bangkit dari tempat duduknya sambil mencium kening sang istri dan pergi meninggalkannya seorang diri. Baru beberapa langkah jauh dari sang istri, air mata pria itu menetes karena mengingat semua kebersamaannya bersama sang anak. Namun, secepat mungkin dia langsung menghapusnya, lalu meneruskan langkah kaki menuju kantin.
Bila keluarga Joey sedang dilanda rasa ketakutan yang sangat mendalam, dikeluarga sebelah juga sedang mengalami kepanikan yang luar biasa ketika mengetahui sesuatu terjadi pada salah satu anggota keluarganya.
.......
.......
.......
...💜💜>Bersambung<💜💜...
__ADS_1