Jangan Renggut Kebahagiaanku!

Jangan Renggut Kebahagiaanku!
Keputusan Mutlak


__ADS_3

"Lebih baik kamu sekarang istirahat, pasti kamu kelelahan setelah melayaniku yang kurang kasih sayang ini. Dan untuk besok, lebih baik kamu mengajukan surat risegn aja dari kantor. Nanti akan aku langsung terima."


Perkataan Gala seperti ini memang bukan main-main lagi, dia sangat serius untuk melarang Lola agar bisa selalu mendekatinya.


Sementara Lola yang tidak terima, masih terdiam mencerna apa yang Gala katakan. Pada akhirnya Lola melepaskan pelukannya dan menatap lekat manik mata suaminya.


"A-apa Tuan bilang barusan? Tu-tuan ingin memecatku secara alus, begitu? Jika Tuan ingin menjauhkan saya dari Tuan, saya tidak mau! Sampai kapanpun, saya ingin tetap bekerja di sana. Titik!"


Suara lantang Lola terdengar nyaring di kuping Gala, hingga membuat gendang kupingnya hampir saja pecah. Tatapan tajam penuh kemarahan membuat Gala menjadi heran.


"Apaan sih, berisik tahu tidak! Bagaimana bila semua pengunjung Apartemen mendengar kegaduhan ini, apa kamu tidak malu, hahh!"


"Lagi pula aku menyuruhmu untuk mengundurkan diri, bukan berarti aku ingin menjauh darimu. Tapi, aku memikirkan perutmu yang sudah membesar. Bagaimana bila karyawan lainnya tahu, hem? Sedangkan posisimu belum menikah, lalu kamu hamil? Apa itu tidak akan menjadi guncangan mental kesehatanmu? Kamu tahu bukan, gosip jelek mudah sekali beredar dari pada gosing kebaikan? Maka dari itu, aku sedang menjaga semua itu dari orang-orang yang akan menganggapmu rendah!"


Lagi-lagi Lola meminta maaf pada Gala atas sikapnya yang sudah salah paham padanya. Dia hanya takut jika kehilangan Gala, semua itu karena dia sangat mencintai Gala dan begitu opsesi untuk memilikinya sampai sisa hidupnya.


"Tuan tenang saja, aku bisa menyembunyikan kehamilanku dengan berbagai cara supaya mereka semua tidak tahu jika aku telah hamil." jawab Lola, percaya diri.


"Mau sampai kapan kamu menyiksa dirimu dan juga anakmu? Ingat, 6 bulan ke bawah kamu bisa menutupinya. Akan tetapi, semakin anak itu berkembang. Maka semakin kamu akan merasakan sesak ketika kamu harus terus menyembunyikan perutmu yang gendut itu!"


"Aku tidak mau ambil resiko, lebih baik kamu ajukan surat resign lalu pergi jauh jangan mendekati arena perkantoran ataupun orang-orang yang mengenalmu. Paham?"

__ADS_1


"Jika masalah biaya dan sebagainya aku akan menanggung semuanya. Kamu hanya perlu duduk manis menjaga semua rahasia ini, sampai aku siap untuk menjelaskan pada keluargaku."


Penjelasan yang Gala jelaskan pada Lola, memang ada benarnya juga. Semua itu demi kebaikan mereka bersama, meski rasanya berat untuk Lola meninggalkan pekerjaan itu.


Namun, jika memang sudah keputusan mutlak dari Gala. Lola tidak bisa berkata apa-apa lagi, dia hanya menganggukan kepalanya sambil memeluk suaminya. Rasanya begitu tenang saat ada di dalam dekapan Gala, walau Gala sendiri masih terbilang cukup dingin terhadapnya.


Beberapa menit sudah terlewatkan, waktunya Gala pamit. Dia tetap akan kembali ke rumah meski, berusaha berulang kali di tahan oleh Lola.


"Aku tidak bisa berlama-lama di sini, istri dan anakku pasti sudah menunggu di rumah. Pokoknya malam ini kamu siapkan surat resign, lalu kirim melalui kantor. Aku tunggu!"


Gala pun mencoba untuk melepaskan tangan Lola sambil berdiri dari ranjang. Dengan susah payah melepaskan semua itu, Gala langsung pergi membawa tas kerja dan juga jas kerjanya. Dia berjalan keluar dari kamar Apartemen, menuju lift.


Setelah berada di dalam mobil, Gala merasakan perasaan yang sedikit aneh. Rasanya dia tidak ingin meninggalkan Lola sendirian, karena tidak tega. Akan tetapi istri dan anaknya jauh lebih dari segalanya.


Setibanya di rumah, Gala mendengar suara dentingan alat makan. Tanpa perlu berbasa-basi lagi dia bergegas untuk pergi ke arah ruang makan, dimana dia melihat Naku dan Becca sedang makan malam bersama.


"Tumben makan duluan, biasanya nunggu aku?" tanya Gala, sambil duduk di kursinya menatap ke arah Becca dan Naku secara bergantian.


"Ini sudah jam berapa? Kami pun telat makan malam karena menunggu dirimu yang tidak tahu rimbanya!" sahut Becca, cuek.


"Ma-maafkan aku, aku lagi banyak kerjaan jadi--"

__ADS_1


"Naku udah selesai, mau ke kamar!"


Naku berdiri tanpa melihat wajah Gala sedikitpun, setelah itu pergi begitu saja dalam keadaan wajah yang sangat datar.


Melihat ke anehan sifat anaknya, membuat Gala langsung menatap Becca yang sedang asyik makan. "Ada apa dengan Naku, apa dia ada masalah di sekolah?"


"Entahlah, mungkin saja. Atau dia sudah muak melihat Daddynya pulang larut tanpa meluangkan waktu untuknya!"


"Aku sedang berusaha, Becca. Kerjaan masih num--"


"Yayaya, terserah kau saja. Aku sudah kenyang!"


Becca pergi begitu saja, meninggalkan Gala di ruang makan. Gala menyaksikan sifat istri dan anaknya yang semakin dingin terhadapnya, membuat dia semakin setres di buatnya.


Gala berteriak kesal dengan menekankan suaranya agar tidak terlalu terdengar sampai kemana-mana. Tangganya menjambak rambunya sendiri penuh frustasi. Rasanya Gala benar-benar sudah gila menghadapi isi rumah yang semakin membosankan, tetapi dia sedang memperjuangkan kembali untuk mengembalikkan keadaan seperti semua.


.......


.......


.......

__ADS_1


...***💜💜>Bersambung


__ADS_2