
Selang beberapa hari, Naku sudah mulai kembali melanjutkan aktifitasnya seperti biasa. Di mana dia harus fokus belajar demi membahagiakan Becca, apa lagi saat ini dia sudah mendapatkan haknya dari Gala. Sehingga tidak lagi membuat Naku merasa ketakutan akan menjalani hidup yang lebih menyakitkan.
Di sini juga, Naku sudah kembali ke sekolah menggunakan mobil yang di beli dari penghasilan Becca. Ya, walaupun bukan mobil mahal, setidaknya Naku tidak lagi merasa kepanasan atau kehujanan jika ingin bersekolah.
Becca masih menggunakan jasanya sendiri untuk mengantar jemput anaknya, di sela kesibukan harus mengurus 2 bisnis sekalipun, antara salon dan toko cake.
Berulang-ulang kali, Becca mengucapkan rasa syukur atas kemajuan bisnis salonnya ketika dia sudah mendapatkan seorang teman bisnis yang sangat baik, yaitu seseorang yang di kenali oleh Rio.
Jika di bilang, peran Rio di sini sangat-sangat penting untuk kehidupan Becca dan juga Naku. Bukan berarti dia mulai menyukai Rio, melainkan Rio selalu bisa membuat Becca kembali bangkit dari keterpurukannya.
...🌟🌟🌟🌟🌟...
Di sekolah, Naku sedang fokus memperhatikan pelajaran yang lumayan sulit. Apa lagi, kalau bukan pelajaran Matematika. Naku harus menentukan nilai X dan Y, dengan penjabaran menggunakan beberapa metode.
Namun, tenang saja. Naku bisa mengerjakan semua soal itu dalam beberapa menit, berbeda sama gadis yang ada di sampingnya. Wajahnya terlihat begitu frustasi dan lesu, akibat tidak ada satu soal pun yang bisa dia kerjakan dengan baik.
10 soal telah di berikan oleh seorang guru Matematika, apa bila soal tersebut telah selesai di kerjakan dan dari 10 soal benar semua. Maka, murid tersebut bisa lebih dulu beristirahat tanpa harus menunggu bel istirahat yang masih kurang lebih 40 menit lagi.
"Aishh ... Ini gimana sih, kenapa juga harus nilai X dan Y. Emangnya enggak ada huruf lainnya apa? Menyebalkan!" seru Naila, merebahkan kepalanya di atas meja dalam keadaan lemas.
"Akhh, rasanya aku ingin tidur dan bermimpi kalau Oppa Jungkook akan hadir untuk membantuku mengerjakan soal busuk ini, huhh!" sahut Naila, kembali.
__ADS_1
Keluhan yang beberapa kali Naku dengar dari telinga kanannya sama sekali tidak dia gubris sedikit pun. Fokusnya saat ini, hanya pada selembar ketas dan juga pensil.
Beberapa menit, Naila melirik ke arah Naku sesekali, kemudian dia pun kembali duduk dalam posisi tegaknya. Matanya perlahan mengintip ke arah buku Naku, Naila melihat bagaimana cara Naku bisa mengerjakan semua itu sekilat mungkin tanpa sedikit pun mengeluh sepertinya.
Padahal tanpa Naila sadari, Naku pun sudah mulai pusing saat 2 soal terakhir tidak menemukan jawabannya. Itu artinya, ada kesalahan dalam penjebaran nilai X dan Y. Akhirnya, Naku mencoba merombaknya menggunakan beberapa metode lainnya sampai akhirnya beberapa kertas menjadi korban coret-coretannya.
Senyum jahil Naila mulai terukir jelas di wajahnya, dia berpura-pura untuk berpikir sambil melirik kesana-kemari. Nyatanya, dia menyalin semua jawaban dari Naku yang sudah berhasil di kerjakan. Entah itu benar atau salah, terpenting Naila sudah mengerjakannya dan tidak terlihat seperti orang bo*doh.
"Nananana ... Hem, nilai 2x + 3y = 13. Berarti X itu ... Ahhaa, aku tahu!" ucap Naila cukup berisik, membuat Naku menoleh dan menatap kesal ke arahnya.
Naila menyengir ala kuda saat mendapati lirikan maut dari Naku, dia terkekeh sedikit menghilangkan rasa gugupnya lantaran takut kalau metode contek itu ketahuan olehnya.
Naku kembali mengerjakan 1 soal lagi yang masih lumayan rumit, belum ada pemecahan yang menemukan jawabannya.
"Hihi, maafkan aku, Oppa. Kalau bukan seperti ini aku tidak bisa istirahat lebih cepat, jadi jangan marah ya?" ucap Naila tertawa geli di dalam hatinya.
"Oh, tentu saja, Sayang. Silakan salin jawabanku, dengan senang hati! Haha ...." Naila menjawab di dalam hatinya sendiri, mengikuti suara pria.
Tanpa di sadari Naku melirik ke arah Naila saat melihatnya tersenyum sendiri, bagaikan orang gila yang ada di pinggir jalan.
Namun, Naku belum menyadari jika Naila bertingkah seperti itu karena sedang menertawai dirinya, ketika terlalu mudah untuk di bohongi.
__ADS_1
15 menit telah berlalu, Naila sudah selesai menyalin semua jawaban dari buku Naku yang dia intip dengan sangat hati-hati. Mungkin, jika ada lomba saling menyontek satu sama lain. Naila bisa langsung memenangkan lomba tersebut, menggunakan taktik kelihaian dalam mengalihkan keadaan.
Setelah Naku selesai mengerjakan 10 soal, dan baru saja ingin berdiri menyerahkan soal itu pada sang guru. Akan tetapi, Naila sudah lebih dulu berlari menyerahkan bukunya dengan wajah yang sangat bahagia.
"Akhirnya aku jadi orang pertama yang akan istirahat lebih dulu dari semuanya, jadi aku bisa sepuas mungkin makan di kantin tanpa harus mengantre. Haha ... Good job, Naila. Good job!" seru Naila, di dalam hatinya sendiri sambil melihat ke arah guru yang sedang mengecek bukunya.
Naku merasa sangat syok, saat menyaksikan Naila sudah lebih dulu menyerahkan semua itu. Setahu Naku, saat dia tinggal mengerjakan 2 soal lagi. Satu soal pun, Naila belum mengisinya. Lantas bagaimana cara Naila bisa mendapatkan jawaban sekilat itu?
Semua itu membuat Naku berpikir keras, dia kembali duduk ketika belum yakin dengan jawaban nomor 10. Apakah benar atau salah, jadi Naku kembali harus merombaknya untuk meyakinkan diriny sendiri.
"Hahh? Ba-bagaimana bisa dia mengerjakan secepat itu, sementara dari tadi dia hanya bisa mengeluh? Aneh, benar-benar aneh!" gumam Naku, di dalam hatinya menatap ke arah depan kelas.
Naila tersenyum lebar ke arah Naku sambil memberikan simbol cinta ala orang Korea dari tangannya yang mungil.
Akan tetapi, sesuatu berhasil mengejutkan Naila. Sehingga dia benar-benar syok dan berhasil menghapus semua senyum di bibirnya.
Nahloh, apa yang terjadi pada Naila? Apakah dia melakukan kesalahan dalam mengisi hasil contekan dari Naku, atau ada masalah yang lain? Saksikan terus kisah Naku dan Naila, semoga saja author bisa memberikan kisah ketika mereka sampai memiliki keluarga atau pun anak.
.......
.......
__ADS_1
.......
...***💜💜>Bersambung