
1 bulan telah berlalu, tepat di malam hari pukul 12 lewat Leon sedang sibuk mengerjakan pekerjaan kantor. Selama Vivi sakit sang suami selalu siap siaga untuk menjaga, serta memantau keadaan tanpa kata lelah.
Leon begitu sabar mengurus istrinya sampai lupa akan kesehatan sendiri. Cuma jangan salah, hasil dari perjuangan Leon tidak sia-sia. Sang istri mulai terbangun dari tidur panjang setelah hampir 4 bulan lebih.
Perlahan jari jemari Vivi bergerak bersamaan dengan kedua mata yang mulai mengedip-ngedip. Hanya hitungan detik, mata terbuka kecil sambil menyesuaikan cahaya kamar yang sudah lama tidak Vivi lihat.
Setelah kedua mata terbuka lebar, Vivi mulai melihat keseluruh sudut ruangan untuk mencoba mengenali tempat yang sangat berbeda. Sedikit bingung, tetapi tidak masalah. Wajah Vivi menoleh ke arah sumber suara ketikan jari Leon yang ada di laptop.
Vivi terdiam menatap pria tampan. Rahang yang biasanya bersih tanpa bulu-bulu halus, kini telah ditumbuhi oleh bulu yang cukup menggelikan. Apalagi, terdapt kumis tipis di bawah hidung di atas bibir.
Wanita itu mencoba untuk mengenali wajah Leon yang sedang sibuk dalam waktu beberapa menit. Sebelum Vivi mengenali suaminya, tidak sengaja mata Leon langsung bertemu dengan mata Vivi. Mereka saling memandang satu sama lain tanpa berkata apa-apa.
Tatapan keduanya kali ini benar-benar mendalam. Mereka tidak tahu harus mengatakan apa, selain memandangi wajah yang sudah lama tidak di pandang seperti sekarang. Leon baru menyadari bahwa, apa yang dilihat bukanlah mimpi. Kedua tangan Leon mengucek mata, lalu melihat ke arah Vivi sampai tiga kali.
Di rasa itu benar-benar istrinya yang sudah bangun, Leon bergegas meninggalkan pekerjaan dan langsung memeluk Vivi dalam waktu yang cukup lama. Vivi terdiam mematung, wajahnya terlihat bingung ketika tubuhnya dipeluk oleh seorang pria.
"Syukurlah, kamu sudah bangun, Sayang. Terima kasih, Tuhan. Terima kasih! Aku seneng lihat kamu udah membuka mata setelah sekian lama aku menunggu. Aaa ... Aku kangen banget sama kamu, Sayang. Aku kangen banget," ucap Leon dengan perasaan bahagia. Air mata Leon mulai menetes perlahan menghiasi wajah dan hati.
Sungguh, tidak bisa dijelaskan betapa bahagia dan senangnya pria itu saat sang istri sudah bisa kembali tersadar dari komanya. Walaupun, semua yang terjadi nyata, tetapi Leon masih merasa seperti mimpi.
Maklum saja, beberapa kali Leon sempat bermimpi kalau Vivi sudah bisa membuka matanya dan mereka hidup bahagia seperti sedia kala. Akan tetapi, kenyataanya tidak. Leon hanya sekedar merindukan sang istri sampai terbawa tidur, cuma kali ini tidak lagi.
Leon melepaskan pelukannya, lalu menciumi seluruh wajah Vivi dalam keadaan wajah tersenyum penuh air mata. Untuk lebih memastikan benarkah ini mimpi atau bukan, Leon menampar keras kedua pipi secara bergantian, dan mencubit kulit lengannya sampai dipelintir. Sakit sih, cuma Leon tidak masalah. Jika rasanya benar sakit, itu pertanda kalau Vivi memang sudah terbebas dari kema*tian.
__ADS_1
Saking bahagianya, Leon segera berlari mencari ponsel yang ternyata ada di dekat laptopnya. Baru juga Leon ingin menghubungi Naila untuk memberikan kabr bahagia ini, tiba-tiba saja Vivi mulai berbicara dengan suara yang sangat kecil.
"Ka-kamu si-siapa? Ke-kenapa aku ada di sini?" tanya Vivi, matanya terus menatap Leon yang terkejut hingga ponselny terlepas dari genggalan tangan yang berada ditelinga.
Suara ponsel jatuh terdengar jelas. Di mana ponsel Leon langsung mati total dalam keadaan layar pecah akibat posisi ponsel dalam keadaan kaca lebih dulu membentur lantai.
"A-aku, Leon, su-suamimu. Ka-kamu seriusan tidak mengenaliku sama sekali? Apa kamu lupa wajah suamimu ini? Atau, ketampananku telah menghilang?"
Pertanyaan terus Leon lontarkan kepada Vivi. Baru juga beberapa saat lalu dia bahagia karena istri tercinta telah kembali di dalam pelukannya. Akan tetapi, ketika kata-kata tersebut keluar dari mulut Vivi semua yang membuat Leon bahagia, hilang begitu saja.
Vivi menganggukan kepala kecil sambil mengedipkan mata perlahan. Hanya dengan kode itu, hati Leon benar-benar hancur. Kedua kakinya melemas, lalu terjatuh dalam keadaan duduk tidak berdaya.
Wajah Leon berubah menjadi lesu, tidak ada lagi semangat yang tadi membara. Leon memang sudah mengetahui ini jauh-jauh hari, cuma tetap saja pria itu selalu berpikir positif kalau istrknya akan terbangun dalam keadaan baik-baik saja.
Namun, sayang sekali. Apa yang dokter katakan memang benar terjadi, Vivi terlihat tidak mengenali wajah suaminya. Tatapannya juga sangat kosong, persis orang yang baru bangun tidur untuk mengumpulkan nyawa.
Vivi menggerakan seluruh tubuhnya sesuai sama apa yang Leon katakan. Dari mulai tangan, kaki, bahkan berusaha keras untuk menggeser tubuhnya sambil dijaga oleh Leon.
Syukurnya, Vivi tidak mengalami kelumpuhan seperti apa yang sudah diwanti-wanti oleh sang dokter. Meskipun Leon merasa senang, tetap saja ada sebuah ingatan penting yang sepertinya menghilang dari isi memori Vivi.
Mungkin, jika memang harus memilih antara ingatan atau kelumpuhan. Leon akan memilih kelumpuhan. Leon siap lahir batin kalau harus mengurus Vivi yang tidak bisa bergerak seumur hidupnya, daripada harus kehilangan memori indah mereka ketika bersama.
Jangankan memori indah mereka, mengenai wajah Leon saja Vivi tidak bisa. Untung Leon tidak jadi menghubungi Naila, coba saja kalau Naila mengetahui semua itu. Sudah pasti, sang anak akan merasa terluka berkali-kali lipat.
__ADS_1
Tahu sendiri, Naila benar-benar merasa menyesal dan bersalah atas kecelakaan yang menimpa Vivi sampai mengalami koma. Jika harus ditambah dengan adanya penyakit lupa ingatan ini, Leon tidak bisa membayangkan bagaimana hancurnya hati Naila. Gadis malang itu harus merasakan rasa salah secara terus menerus seumur hidup, apabila keadaan Vivi masih seperti ini.
"Apakah wajahku terlalu jelek sampai kamu tidak mengenali suamimu sendiri?" tanya Leon, memastikan kembali.
"I-iya, ka-kau terlihat seperti tarjan di hutan yang rambutnya acak-acakan, bahkan ada banyak bulu diwajahmu," jawab Vivi, tanpa berdosa.
"Sejelek itukah aku?" tanya Leon, berulang kali.
"Iya, sangat jelek. Cu-cuma, ka-kalau memang benar kamu suamiku. Mi-mimpi apa aku bisa memiliki suami sejelek ini, seperti cucian tidak keurus berbulan-bulan."
Jawaban dari Vivi hanya mampu menggerakan tangan Leon untuk mengusap dadanya secara berulang kali. Walaupun kesal, Leon tetap menunjukkan senyuman kecil ke arah sang istri.
Hahh ... Sabar, Leon, sabar. Kuatkan hatimu, luaskan kesabaranmu dan tetap tersenyum. Maklumin saja, istrimu ini sedang lupa ingatan. Jadi, jangan sampai kamu memarahinya.
Cuma ... Kesel banget, aaaa ... Kenapa harus menyamakan aku dengan tarjan sih, kaya enggak ada istilah lain aja. Lagi pula aku begini juga karena fokus jagain kamu, jadi tidak peduli dengan penampilanku sendiri yang urakan ini. Tapi, setelah kamu bangun kenapa sifatmu jauh lebih menyebalkan dari biasanya?
Andaikan dengan cara menggentok kepalamu sedikit saja, sudah membuatmu kembali mengingatku. Maka, aku akan lakukan sekarang nuga dengan senang hati. Huhh ... Semoga aku kuat menghadapi istriku ini, semangat, Leon. Kamu pasti bisa mengembalikan ingatannya. Jangan sampai kenangan yang sudah bertahun-tahun kalian lewati bersama kandas begitu saja. Yok, semangat, semangat, semangat!
Batin Leon terus mengoceh tanpa henti untuk memarahi istrinya dari dalam hati. Sebisa mungkin Leon mengandalkan segala cara untuk berjuang mengingatkan memori yang sudah hilang. Apakah Leon sanggup mengembalikan ingatan Vivi kembali? Latas bagaimana kondisi Naila, jika dia mengetahui tentang ini?
.......
.......
__ADS_1
.......
...💜💜>Bersambung<💜💜...