Jangan Renggut Kebahagiaanku!

Jangan Renggut Kebahagiaanku!
Mencemaskan Keadaan Joey


__ADS_3

Namun, hanya ada satu orang yang tidak menghadiri acara penting itu. Sampai membuat gadis kecil yang gemoy itu merasa sedikit sedih karena Pangeran yang selalu membuatnya tersenyum tidak bisa datang menemaninya.


Siapa lagi kalau bukan Joey, pria tampan yang sangat hamble. Tidak seperti Naku yang bisanya selalu menjahili sang adik sampai merasa kesal. Naku sedikit asyik bermain games disela-sela mereka beristirahat.


Sementara, Rio sedang mengunjungi beberapa kolega bisnisnya untuk sekedar berbincang-bincang. Becca yang baru saja kembali menyusui Baby Juan di belakang panggung menjadi bingung ketika melihat wajah gadis kecilnya terlihat begitu murung.


Yola beberapa kali mengecek ponsel, tetapi tidak ada satu pun chat darinya yang dibalas oleh Joey. Padahal, whatsapp Joey aktif dan centang dua, hanya saja terakhir dilihat adalah semalam.


Rasa cemas di wajah Yola benar-benar terlihat jelas, tanpa berlama-lama Becca pun mendekati sang anak. Tangan Becca merangkul Yola membuatnya langsung menatap dengan wajah kusut.


"Ada apa, Sayang? Kenapa wajahnya murung seperti itu, hem? Perasaan tadi sebelum Baby Juan nyusu, Yola baik-baik aja. Terus kenapa sekarang jadi cemberut?"


Becca sengaja memasang wajah kasihan melihat gadis kecil yang selama ini membuatnya tersenyum, tiba-tiba saja menjadi tidak mood. Sebenarnya, tanpa harus bertanya Becca sudah paham apa yang terjadi pada Yola. Hanya saja, Becca ingin mendengar sendiri dari mulut putri kesayangan itu.


"Hahh, rasanya bete banget enggak ada Kak Joey, Mom. Memangnya Kak Joey ke mana, sih? Apa Om Ragil sama Tante Rani gak bilang apa-apa gitu, ke Mommy atau Daddy?"


"Masa iya, sih, mereka gak bisa datang ke sini. Sore apa malam gitu, Mom, bisa kali. Acara Baby Juan juga sampai malam, 'kan?"


Becca tersenyum mendengar kicauan Yola bagaikan burung Kenari yang sedang bernyanyi. Mungkin, bagi Naku suara Yola terdengar nyaring dan berisik. Akan tetapi, tidak untuk Becca. Suara putrinya itu benar-benar menggemaskan membuat Becca mencubit kecil hidung Yola supaya menghentikan celotehannya.


"Tidak perlu khawatir, Cantik. Mommy yakin, Kakak Joeymu itu tidak mungkin sengaja melupakanmu. Mommy dengar dari Daddy kalau mereka lagi ada urusan di luar negeri untuk beberapa hari karena mendadak. Jadi, nanti kalau sudah pulang mereka akan langsung main ke rumah kita."


"Udah akh, jangan marah-marah lagi. Ini riasan wajah cantinya kasihan nanti bisa hilang loh, masa tukang riasnya harus tancap-tancap lagi. Tapi, percuma juga riasannya terluhat bagus kalau senyumannya diganti sama cemberut. Pasti orang-orang yang lihat Yola akan beranggapan kalau Yola tidak bahagia punya adik. Yola mau kaya gitu, hem?"

__ADS_1


Yola menggelengkan kepala secara cepat, "Tidak, Yola tidak mau, Mom. Yola sayang banget sama Baby Juan, tidak mungkin Yola tidak bahagia. Ya, udah deh, Yola senyum. Tapi, benar 'kan, setelah Kak Joey pulang dari luar negeri langsung main ke rumah? Mommy gak lagi bohongi Yola, 'kan?"


"Tidak, Sayangku. Hem, gemes banget, sih." Becca mencubit kecil dagu Yola membuatnya terkekeh. "Nah, gitu dong, udah akhh, jangan sedih-sedih lagi. Kita harus happy, oke?"


"Oke, Mom. Oh, ya, Daddy mana?" tanya Yola ketika tidak menemukan Rio di sekitar mereka.


"Daddy lagi jalan-jalan ketemu sama temannya, bentar lagi juga acara akan di mulai lagi. Setelah itu, nanti Yola istirahat saja sama Baby Juan di kamar ya, temani Baby Juan. Soalnya Baby Juan gak boleh lama-lama di sini, kasihan juga. Biar Mommy sama Daddy di sini, paling acara juga selesai jam 7 malam. Kalau perlu Yola sama Kakak jagain Baby---"


"Enggak! Aku mau di sini jagain Mommy, biar Yola aja jagain Baby Juan. Kita bagi-bagi tugas supaya Mommy sama Baby Juan tidak merasa sendiri."


Naku langsung memotong perkataan Becca dan kembali menyudahi permainan ponselnya. Tidak tahu harus berkata apa lagi, Becca hanya bisa mengucapkan terima kasih pada kedua anak dewasanya yang sudah berbaik hati untuk membantu Becca menjaga Baby Juan, sama seperti suami tercinta.


Becca, Naku dan Yola berpelukan bertiga secara perlahan agar tidak mengenai perut Becca yang belum sembuh total. Hanya berselang beberapa menit, acara kembali di mulai sampai selesai.


Sementara, Naku selalu membantu Becca untuk mengambil minum atau makanan yang ingin dia makan. Beda sama Rio yang terus berkeliling demi menyambut kolega yang baru hadir.


Tidak terasa, waktu terus berjalan. Acara pun selesai dilakukan. Rio meminta Naku untuk membawa Becca ke kamar menggunakan kursi roda agar bisa beristirahat lebih dulu. Rio akan menyelesaikan semuanya sendiri sampai para tamu yang hadir telh kembali ke rumah masing-masing.


...🌟🌟🌟🌟🌟...


Di luar negeri, tepatnya Korea. Seorang pria kecil sedang melakukan beberapa tes yang memerlukan waktu tidak hanya sehari. Pria kecil itu tidak lain adalah Joey.


Akhir-akhir ini, setelah keluarga Joey kembali membaik Ragil dan Rani selalu menemaninya untuk menjalani pengecekan untuk mengetahui sudah sejauh mana penyakit yang Joey rasakan menyebar luas.

__ADS_1


Untung, penyakit seperti ini langsung ditangani oleh beberapa dokter spesialis atau profesor sekali pun. Sehingga sedikit demi sedikit ada pencegahan supaya penyakit tidak cepat menyebar ke dalam tubuh sampai membuat daya tahan tubuh anak seusia Joey melemah.


Saat ini Rani dan Ragil sedikit merasa cemas sambil duduk di depan ruangan untuk menunggu Joey. Putra mereka baru 10 menit yang lalu masuk dalam ruangan. Harusnya dalam kondisi seperti ini Joeylah yang merasa gelisah karena akan mengetahui sampai di mana penyakitinya menyerang.


Akan tetapi, Joey di dalam ruangan malah terlihat santau tanpa rasa takut sedikit pun. Tidak seperti Rani yang dari tadi berjalan ke sana kemari bagaikan setrikaan. Ragil hanya bisa duduk sambil berdoa dengan harapan sang anak masih bisa ditangani secepatnya demi masa depan yang masih sangat panjang.


Jika memang harus ada yang bekorban, biarlah Ragil sebagai pendonor apabila hatinya sama hati sang anak cocok 99,99 persen. Setidaknya Joey bisa melanjuti masa depan dengan impian juga semangat yang membara, daripada Ragil harus melihat anaknya tergeletak di atas ranjang tanpa bisa melakukan apa pun.


"Ck! Lama banget sih, ngapain aja mereka di dalam. Udah 15 menit aku nunggu masih belum kelar juga, dasar lelet!" ucap Rani bolak-balik mengintip jendela dan pintu yang tertutup hordeng berwarna biru langit.


"Akhh, menyebalkan sekali. Kenapa sih, aku gak boleh ikut ke dalam. Aku ini ibunya, loh. Akunyang melahirkan Joey, terus kenapa aku tidak boleh masuk. Menyebalkan sekali itu dokter!" sambung Rani membuat Ragil langsung menatapnya.


Tidak ada satu kata yang Ragil keluarkan, tetapi dia langsung bertindak untuk memaksa istri tercinta untuk duduk supaya bisa tenang. Jika Rani terus berdiri dalam keadaan gelisah, maka sampai kapan pun dia tidak akan bisa berpikir jernih.


.......


.......


.......


...💜💜>Bersambung<💜💜...


__ADS_1


__ADS_2