Jangan Renggut Kebahagiaanku!

Jangan Renggut Kebahagiaanku!
Meminta Maaf


__ADS_3

Naku yang dari tadi terdiam mematung melihat adiknya sudah kembali, tanpa berlama-lama lagi langsung berlari memeluk Yola untuk meminta maaf atas semua perkataan yang pernah diucapkan.


Waktu saat itu Naku hanya berniat untuk bercanda, hanya saja candaan tersebut malah menjadi kesalah pahaman diantara mereka semua. Dari sini Naku bisa mengambil pelajaran bahwa tidak semua ucapan bisa dijadikan sendau gurau sesuai isi kepalanya.


"Akhirnya kamu kembali juga, Dek. Maafkan semua ucapan Kakak, ya. Kakak tidak bermaksud untuk membuatmu sedih seperti ini, niat Kakak waktu itu hanya bercanda. Suer, Kakak enggak bohong, kok!"


"Awalnya Kakak mengatakan semua cuman untuk menguji kasihh sayang kamu sama adik kita. Kamu masih ingat, 'kan? Waktu itu kamu pernah beberapa kali bilang kalau kamu gapapa punya adik laki-laki, tapi kalau bisa perempuan aja. Soalnya kalau perempuan bisa lebih lama main sama kamu. Nah, dari situ Kakka berpikir kalau kamu belum sepenuhnya bisa menerimanya."


"Jadi, Kakak buatlah ujian dengan kata-kata seperti itu yang akan membuatmu berpikir kalau kamu tidak akan kembali mempermasalah semua itu. Terpenting adik kita sehat, kita bisa main sama-sama dan menjadi Kakak yang tidak akan meninggalkan dia dalam keadaan apapun. Namun, maaf ... Mungkin, cara Kakak untuk menyadarkanmu salah, sehingga kamu malah menjadi salah paham."


"Sekali maafkan Kakak ya, Dek. Kakak janji, Kakak gak akan iseng, jahil, ataupun uji-uji kamu lagi kaya gitu. Kakak udah kapok, Kakak gak mau kamu marah kaya gini. Kakak khawatir banget sama kamu, tapi Daddy tidak mengizinkan Kakak untuk ngejar kamu. Please, Dek! Maafin kesalahan Kakak, ya. Kakak teraktir deh, mau?"


Semua orang hanya menatap penuh senyuman ke arah Naku dan Yola. Tidak lupa Joey sudah berada tepat ditengah-tengah kedua orang tuanya sambil terus memperhatikan pemandangan indah itu.

__ADS_1


Berbeda sama Rio, rasanya dia ingin sekali menjewer telinga Naku lantaran memberikan iming-imingi kepada Yola agar bisa memaafkan dirinya dengan sogokkan.


Namun, apa daya. Rio mengurungkan niatan saat melihat Naku mendapat prilaku tidak menyenangkan dari Yola. Wajah gadis itu sungguh menakutkan karena tidak terlihat senang setelah mendengar semua penjelasan dari sang kakak.


Hati Yola benar-benar kesal karena sang kakak sudah sangat keterlaluan menjahilinya. Tanpa basa-basi lagi, sang adik melepaskan pelukan Naku sedikit kasar hingga membuat sang kakak mundur beberapa langkah.


Dengan refleks, Joey berlari kecil untuk melindung Naku agar tidak sampai terjatuh akibat ketidak seimbangan tubuhnya. Bukannya terima kasih, Naku malah melirik sinis ke arah Joey sambil melepaskan diri penuh rasa kesal.


"Aku tidak mau lagi ngobrol sama Kakak, hatiku sakit mendengar semua itu. Apa lagi Kakak selalu saja menganggap Kak Joey sebagai musuh, padahal dia sudah terlalu baik sama kita. Seandainya bukan Kak Joey yang kasih tahu Yola, pasti Yola sampai sekarang belum kembali ke sini. Pokoknya Kakak jangan ngomong sama Yola sebelum Kakak baikan dan tidak pernah lagi memarahin Kak Joey!"


Yola menangis memeluk leher sang daddy sambil menaruh dagunya dipundak Rio. Perkataan maaf beberapa kali Yola ucapkan membuat Rio tersenyum. Tidak menyangka, anak yang dulu ditimang-timang kini sudah tumbuh dewasa menjadi gadis kecil yang bijaksana. Yola mampu mengatakan maaf tanpa rasa gengsi sedikitpun, membuat Rio semakin bangga padanya.


Tidak hanya Yola, Rio juga bangga terhadap Naku yang begitu menyayangi putri kecilnya sebagai adik kandung sendiri. Sebisa mungkin Rio memperlakukan anak-anaknya dengan sangat adil, sehingga kelak mereka tidak akan merasa iri satu sama lain.

__ADS_1


Rio melepaskan tangan Yola secara perlahan, lalu mengusap semua air mata di wajah sang anak dengan satu tangan sambil tersenyum.


"Sudah cukup nangis ya, Sayang. Kasihan wajahmu ini sudah sembab, nanti bisa sakit mata, juga pusing kalau kebanyakan nangis. Wajar saja kalau Yola bersikap seperti itu karena emosi Yola belum stabil. Cuman ingat, ya! Ini yang terakhir kalinya Yola bertindak tanpa memikirkan imbasnya. Lihatlah, Mommy. Dia tertidur karena merasa setres memikirkan Yola, jadi dokter harus menyuntikkan obat bius untuk Mommy agar bisa tidur nyenyak beberapa jam ke depan."


"Belum lagi, Kakakmu. Itu! Dia kaya kerasukan se*tan, setiap menit selalu saja ngamuk membuat Daddy, Om Ragil, dan Tante Rani kewalahan. Dari tadi Kakakmu mondar-mandir kaya setrikaan cuman gara-gara mencemaskan kamu di luar sana. Dia tidak tenang akibat rasa bersalahnya sampai membuat kamu lari tanpa sebabbyang jelas. Untungnya Joey bisa menemukanmu dan membawamu balik, kalau tidak pasti Joey tidak akan boleh menemui kamu dalam waktu kurang lebih dua sampai tiga bulan ke depan sesuai perjanjian kedua orang tua Joey sama Kakakmu."


Mata Yola melirik ke arah Rani dan Ragil secara bergantian. Mereka mengangguk sambil tersenyum manis menatap gadis kecil itu dalam perasaan tenang melihatnya kembali. Tangan Ragil mengusap kepala Yola beberapa detik, membuat bibir Yola sedikit bergetar untuk meminta maaf karena sudah membuat mereka khawatir.


Rani dan Ragil tidak masalah, oleh karena itu mereka sangat percaya kalau anaknya bisa membawa Yola kembali. Terbukti, bukan? Joey memang paling bisa mengendalikan emosi Yola, sama halnya seperti Naku yang bisa dikendalikan oleh Rio. Ibara kata Yola memiliki pawang yaitu, Joey. Sementara Naku, pawangnya adalah Rio. Lalu, Becca? Malah dialah pawang dari segala pawang dikeluarga kecilnya.


.......


.......

__ADS_1


.......


...💜💜>Bersambung<💜💜...


__ADS_2