Jangan Renggut Kebahagiaanku!

Jangan Renggut Kebahagiaanku!
Kekhawatiran Naila


__ADS_3

Jika di sana ada kebahagiaan dari keluarga baru Yola dan Naku, lalu di sini hanya terdapat kesedihan dari keluarga Joey, lain cerita dengan keluarga seseorang yang lagi hangat-hangatnya memiliki anak.


Diusia yang terbilang tidak terlalu muda juga tidak tua, rumah tangga mereka kambali dikarunia seorang anak yang lucu dan tampan. Mereka semua tidak menyangka ternyata pejuang garis biru yang selama ini dijalani sudah membuahkan hasil sesuai dengan permintaan sang kakak yang ingin memiliki adik.


Tidak terasa anak tersebut sudah berusia kurang lebih beberapa bulan. Kelucuan serta kegemasan terus bertambah membuat sang kakak tidak pernah ingin berjauhan dengan sang adik.


Setiap pulang sekolah, les dan sebagainya sang kakak selalu mencari sang adik pertama kali. Ibaratkan seseorang baru mendapatkan mainan yang sangat disukai, sehingga mainan itu akan terus disayang, digendong pada masa-masa awal.


Tepat di jam 1 siang, sang kakak baru saja pulang sekolah. Wajah lelah ketika berada di sekolah, kini sudah menghilang saat dia baru saja sampai di perkarangan rumah. Dengan cepat sang kakak turun dari mobil, kemudian berlari masuk ke arah pintu utama dan berteriak memanggil sang adik saking rindunya.


"Ade, yuhuu ... Kakak yang cantik dan imut udah pulang nih, Ade di mana?" teriak sang kakak sat sudah sampai di ruang khusus kumpul keluarga.


"Loh, Sayang udah pulang? Katanya ngirim pesan mau pulang jam setengah 3 ada pelajaran tambahan, terus ini?" tanya sang bunda sedikit terkejut.


Sang kakak langsung memeluk sang bunda begitu erat sambil mencium pipi. Inilah yang setiap kali mereka lakukan ketika berpisah beberapa jam karena sang anak harus menuntut ilmu di luar rumah.


"Entahlah, Bun. Naila juga tidak tahu, tadi bilangnya sih, katanya guru yang mau kasih pelajaran tambahan lagi sakit jadi enggak bisa ngajar dulu gitu. Cuman gapapa, jadi Naila bisa main sama Ade lebih cepat hihi ...." Naila melepaskan pelukannya sambil cengengesan ketika merasa senang karena bisa pulang seoerti biasa.


"Oh, ya. Ade di mana, Bun? Biasanya Ade lagi main sama Bunda di sini, kok ini enggak kelihatan? Apa Ade bobo di kamar?" tanya Naila barulang kali dengan wajah bingung dan sedikit penasaran ketika melihat sang adik tidak terlihat seperti biasanya.


Ya, inilah keluarga Naila yang baru merasakan kebahagiaan atas kelahiran sang adik yang baru genap beberapa bulan. Sayangnya, dibalik wajah Naila yang sudah begitu bersemangat untuk bermain bersama sang adik, tiba-tiba saja sang bunda mengatakan sesuatu yang membuat dia merasa bersedih.


"Sayang, hari ini boleh izinkan Ademu istirahat dulu, hem?" tanya sang bunda yang tidak lain adalah Vivi. Tangannya mulai mengelus pipi Naila sambil tersenyum.

__ADS_1


"Loh, emang Ade kenapa, Bun? Ade sakit, iya? Kok, bisa? Ayo, kita bawa ke rum---"


Naila menghentikan ucapannya saat jari Vivi menempel di bibir comel sang anak. Begitu sayang Naila pada sang adik, sehingga sedikit saja mendengar adiknya sakit reaksi Naila langsung berubah menjadi cemas, khawatir juga gelisah.


Namun, Vivi mencoba untuk menjelaskan sama Naila supaya tidak terlalu panik mengkhawtirkan sang adik yang memang dalam keadaan baik-baik saja.


"Sayang, dengarkan, Bunda. Ade itu tidak kenapa-kenapa, wajar Ade sakit karena sekarang sudah tambah pintar. Selagi panasnya masih dalam batas wajar, Bunda masih bisa mengatasinya kok, obat Ade juga ada. Ini juga udah mendingan, Ade baru bisa bobo dengan nyenyak. Makannya itu, Bunda minta sama Naila jangan ganggu Ade dulu ya, bisa?"


Naila menganggukan kecil, raut wajah yang awalnya terlihat senang ingin bermain bersama sang adik kini, berubah menjadi sedih. Tak apa, setidaknya sang adik masih dalam keadaan baik-baik saja.


"Ta-tapi ... Tapi, kalau Naila lihat adik boleh 'kan, Bun? Naila janji enggak akan ganggu Ade, cuman lihat sama cek Ade aja. Boleh?" tanya Naila, matanya mulai berkaca-kaca demi memohon bertemu dengan sang adik.


Dengan senang hati, Vivi menganggukan kepalanya sambil tersenyum. "Boleh, Sayang. Boleh banget, kok. Sekarang Naila ganti baju dulu ya, bersih-bersih terus makan siang baru nanti ketemu Ade. Oke?"


"Loh, loh, loh ... Kenapa anak Bunda jadi lemes begini, hem? Jangan sedih dong, Ade gapapa kok, Naila doa'in aja ya, supaya Ade bisa sembuh lagi. Nanti kala Ade udah sembuh, kita jalan-jalan, mau?"


Vivi kembali memeluk Naila penuh kasih sayang, walaupun usia Naila sudah sekitar 15 tahun tetap saja, bagi Vivi Naila adalah putri kecilnya yang selama ini membuat dia jauh lebih bersemangat. Ditambah lagi dia sudah memiliki sepasang anak, sudah pasti rasa bahagianya akan bertambah besar.


"Naila ke kamar dulu ya, Bun," ucap Naila lesu.


"Oke, Bunda bikinin nasi goreng mau?" tanya Vivi.


"Terserah Bunda aja, Naila ke kamar dulu," sahut Naila, langsung pergi begitu saja membuat Vivi hanya bisa menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Anak itu benar-benar sangat sayang sama adiknya, hanya mendengar adiknya sakit biasa sudah langsung lemas seperti itu. Jelas-jelas tadi dia begitu bersemangat mau main, sungguh ... Aku benar-benar beruntung memiliki anak seperti Naila, semoga aja apa yang aku takutkan selama ini tidak pernah terjadi. Aamin ...."


Begitulah harapan Vivi, seorang ibunda yang tidak menginginkan hal buruk terjadi pada anak-anaknya. Doa-doa baik akan selalu dia panjatkan untuk kebahagiaan keluarga kecil yang selama ini penuh kehangatan.


Sudah hampir 15 tahun lebih hubungan rumah tangga Vivi dengan sang suami, Leon. Selalu berjalan mulu tanpa ada masalah besar atau adanya pihak-pihak lain yang berusaha ingin menghancurkan. Kekuatan cinta mereka juga kepercayaan satu sama lain begitu kuat, sehingga sedikit ada godaan dari pihak luar tidak membuat mereka berselisih paham.


Jika bentrok masalah kecil mungkin setiap.rumah tangga sering terjadi, tetapi tidak sampai menimbulkan keributan yang besar. Itulah yang membuat Vivi selalu merasa bahagia memiliki keluarga yang jauh lebih baik dari orang lain.


Hanya saja, ada satu ketakutan yang besar di dalam benak Vivi sampai setiap malam harus merasakan mimpi buruk tiada henti. Leon sebagai suami selalu mendukung sang istri, meskipun tahu bagaimana cemasnya Vivi ketika mimpi buruk itu terus menghantui setiap malam. Akan tetapi, Leon tetap berusaha untuk berpikir positif agar tidak membuat Vivi hidup di dalam ketakutan.


Vivi pergi ke arah dapur untuk memasak menu makan siang untuk gadis kecil yang selama ini menjadi kesayangan. Sementara Naila, terlihat lesu tidak bersemangat untuk melakukan apa pun.


Naila membuka sepatu di bawah tangga, meletakkannya dengan rapi kemudian berjalan menaiki anak tangga dalam keadaan lemas. Saat sampai di depan kamar, Naila langsung masuk ke dalam lalu menutupnya.


Naila berjalan ke arah meja belajar dan menaruh tasnya seperti semula. tidak ada senyuman di wajah Naila karena pikirannya hanya fokus pada sang adik. Tanpa berlama-lama Naila segera menggantin pakaian di dalam kamar mandi. Setelah itu, Naila kembali turun menuju ruang makan di mana Vivi sudah menyiapkan makanan kesukaannya.


.......


.......


.......


...💜💜>Bersambung<💜💜...

__ADS_1


__ADS_2