Jangan Renggut Kebahagiaanku!

Jangan Renggut Kebahagiaanku!
Kabar Bahagia Yola


__ADS_3

Naku tidak tahu harus berkata apa, sedangkan ketika dia mendekati orang tuanya secara bergantian mereka hanya terdiam tanpa mengatakan satu kata pun. Semu itu sengaja dilakukan supaya Naku berpikir, bahwa dia sudah bukan anak kecil yang harus dinasihati baru akan melanjalankan.


Sementara sang adik, memiliki ikatan yang sangat kuat terhadap pria lain yang membuat Becca sama Rio pun bingung. Satu sisi anak di bawah usia sudah merasakan kuatnya ikatan cinta antara satu sama lain, tetapi anak yang berusia sudah cukup dewasa malah bersikap layaknya anak kecil.


Naku kembali ke kamar sang adik untuk duduk di sampingnya, lalu menggenggam erat tangan mungil yang hampir 1 hari ini tidak memperlihatkan kejahilannya untuk sekedar menghibur sang kakak.


"Dek, kapan kamu bangun? Kakak kangen banget sama kamu. Kakak gak tahu harus cerita sama siapa lagi, Mommy sama Daddy marah karena Kakak sudah menyakiti Kak Nainai. Apakah kamu juga marah sama Kakak? Pasti enggak, 'kan? Terus Kakak harus gimana, Dek? Beberapa kali Kakak minta maaf mereka tidak ada yang mau menjawab ucapan Kakak, sedangkan ponsel Kak Nai tidak aktif. Sekarang Kakak harus gimana? Kakak bingung ...."


Naku mencurahkan seluruh perasaan yang dari tadi dipendam. Tangannya terangkat untuk mengusap pipi Yola secara perlahan demi menumpahkan rasa kerinduan padanya.


"Kakak tahu, Kakak memang salah karena tadi gak sempat balas chat Kak Nai dan angkat telponnya. Ditambah Kak Nai kayanya dengar perkataan Kakak yang buruk itu, terus gimana sekarang, Dek? Kakak pengen kamu bangun, kamu katakan apa yang harus Kakak lakukan untuk menarik hati mereka semua kembali. Cuma kamu, Dek, yang bisa menarik perhatian mereka. Jadi, Kakak mohon bangun ya, Kakak tidak tega lihat kamu hanya tertidur seperti ini. Sumpah, rasanya sepi banget. Kakak juga capek harus jagain Juan sendiri, apalagi Juan udah mulai lincah. Kalau ada kamu Juan selalu nurut. Tapi, sama Kakak Juan gak ada nurut-nurutnya. Please, Dek. Bangun, ya, ayo, bangun!"


Rio yang mendengar Naku mengajak ngobrol Yola meskipun, keadaan sang adik masih tidak sadarkan diri Rio tetap merasa senang. Sebenarnya ini yang ingin dia lihat dari Naku, bukan malah sibuk bermain games hingga melukai hati seseorang. Sedangkan sang adik yang sedang sakit, hanya dijadikan sebagai pajangan untuknya.


Akan tetapi, kembali lagi. Marahnya Rio dan Becca bukan sekedar marah, melainkan semua itu hanya sebagai pembelajaran supaya Naku dapat lebih menghargai perasaan orang-orang disekitarnya.


Menjadi pria cuek memang boleh-boleh saja, tetapi tidak diperkenankan untuk orang-orang yang dia sayangi. Dikarenakan kedinginan Naku terkadang tidak terkontrol apalagi kata-kata yang keluar dari mulut cukuplah pedas.


Siapa sangka, ketika Naku terus berusaha mencurahkan isi hatinya, tiba-tiba saja tangan Yola bergerak membuatnya terkejut. Wajah sang kakak begitu tegang melihat jari adiknya sudah bergerak yang berarti sebentar lagi Yola akan sadarkan diri.


Benar saja dong, dalam hitungan beberapa detik mata Yola mulai terbuka secara perlahan menyesuaikan cahaya lampu ruangan yang ada di kamarnya. Perlahan sang adik mengedip-ngedipkan mata di depan wajah Naku yang sudah tersenyum lebar menyambut adik kesayangan sudah sadarkan diri.

__ADS_1


"Sstt ... Yo-yola di mana ini? Kenapa tempatnya seperti di rumah sakit? Apa Yola sakit? Tapi, Yola sakit apa? Perasaan Yola baik-baik aja, terus kenapa bisa sakit?"


Pertanyaan-pertanyaan konyol itu sungguh membuat jiwa Naku meronta-ronta. Kedua tangannya sudah sangat gatal untuk mencekram wajah sang adik, tetapi dia urungkan terpenting sekarang Yola sudah sadar tidak seperti sebelumnya.


"Ka-kakak, Yola memangnya sakit apa?" tanya Yola, menatap wajah Naku dengan tatapan yang masih sangat bingung.


Tidak ada satu pertanyaan pun yang Naku jawab. Dia langsung berlari mendekati kedua orang tua secara bergantian untuk memberikan kabar kalau Yola sudah bangun dari tidur yang cukup lama.


Wajah sumringah Rio dan Becca benar-benar tidak dapat diekspresikan. Intinya mereka berdua bahagia itu saja, sehingga mareka langsung berlari ke arah kamar Yola. Setelah itu Becca memeluk Yola dengan rasa terharu sesekali mencium wajahnya.


Rio saja sampai kagum, betapa sayangnya Becca terhadap anak sambungnya itu bahkan melebihi rasa sayang kepada Naku. Tangan sang suami hanya mengusap punggung istrinya yang masih memeluk Yola.


"Ya ampun, Sayang. Mommy khawatir banget tahu, Mommy takut kehilangan Yola. Panas Yola itu tinggi banget, Mommy sampai takut. Lain kali, kalo Yola gak enak badan bilang ya, Sayang. Gak boleh dipendem lagi, Mommy gak mau Yola sakit kaya gini, cukup ini yang terkakhir Yola bikin kita semua sedih. Jangan sakit lagi ya, Sayang. Yola harus sembuh, titik!"


"Maafin Yola, ya, Mom. Yola udah buat Mommy, Daddy, Kakak, sama Ade khawatir. Yola sendiri gak tahu kenapa Yola ada di sini, tapi kalo Yola di sini sudah pasti Yola sakit. Cuma masalahnya Yola sakit apa? Bukannya Yola baik-baik aja, 'kan? Di rumah juga Yola cuma demam biasa kata Mommy minum obat terus tidur nanti sehat lagi, tapi kenapa Yola sampai dirawat di rumah sakit?"


Becca melepaskan pelukannya, lalu menatap sang suami untuk meminta jawaban apa yang harus mereka katakan. Tidak mungkin mereka jujur padanya jika Yola sakit akibat merasakan sesuatu terhadap Joey.


Naku langsung memencet tombol yang berguna untuk memanggil sang dokter supaya segera memeriksa keadaan adiknya yang baru saja sadarkan diri.


Becca duduk di kursi, memberikan ruang untuk Rio menjawab semua itu sebab sang istri merasa takut, apabila mulutnya akan keceplosan membicarakan tentang kondisi Joey yang saat ini dalam keadaan kurang baik.

__ADS_1


"Ssstt ... Sudah ya, jangan banyak berbicara. Yola baru aja bangun, jadi minum dulu ya, biar tenggorokannya enggak kering. Kasihan bibirnya pecah-pecah nanti perih. Ayo, sekarang minum dulu di bantu sama Mommy."


Rio tersenyum perlahan menahan sedikit tubuh Yola untuk minum. Setelah itu, kembali menidurkan sang anak dikarenakan Yola merasa masih sangat pusing.


"Oh, ya, Mommy ada buah. Yola makan buah ya, Mommy potongin. Dari tadi Yola belum makan loh, pasti perutnya kosong," ucap Becca mengalihkan perhatian sang anak.


"Biar aku aja, Mom. Aku yang kupasin sama potongin buahnya. Mommy sama Daddy temani Yola aja," sahut Naku diangguki oleh kedua orang tuanya.


Naku segera mengambil buah apel, jeruk, pisang dan pir masing-masing satu buah. Kemudian membawanya ke meja dan duduk di sofa panjang sambil mengupas kulit serta memotong semuanya menjadi kecil-kecil. Dengan begitu akan memudahkan Yola untuk mengunyahnya.


Tak lama dokter datang bersama asistennya. Becca sama Rio sedikit menggeser tempat mereka memberikan ruang untuk dokter mengecek semua kondisi Yola. Saat dipastikan semuanya aman, itu artinya kondisi Yola sudah jauh lebih membaik dari sebelumnya.


Semua tersenyum dan senang karena Yola sudah sadarkan diri. Sehabis itu, dokter pergi dari ruangan tak lupa mengingatkan supaya Yola mengisi perutnya dengan buah-buahan yang mengandung banyak air Dengan begitu tidak membuat tubuh sang pasien kembali kekurangan cairan. Melihat dari bibir Yola yang pecah-pecah dapat dipastikan setinggi apa demam yang pada saat itu Yola rasakan.


Yola merasa senang diperhatikan semua orang. Dia makan buah disuapi oleh Becca secara perlahan lantaran giginya sedikit ngilu. Rio baru saja ingin melakukan panggilan video call terhadap keluarga Joey, tetapi tidak jadi. Rio tidak ingin mengambil resiko ketika Yola sedang senang-senangnya.


Pada akhirnya, Rio memutuskan untuk melakukan panggilan video call terhadap keluarga Naila saja. Dengan harapan semoga Naila sedikit terhibur dengan kabar baik ini, meskipun hatinya pasti masih kurang baik melihat wajah pria menyebalkan itu.


.......


.......

__ADS_1


.......


...💜💜>Bersambung<💜💜...


__ADS_2