Jangan Renggut Kebahagiaanku!

Jangan Renggut Kebahagiaanku!
Keajaiban Datang


__ADS_3

Sekarang giliran Yola yang menemui Joey seorang diri tanpa ditemani oleh siapa pun, semua itu berkat persetujuan mereka supaya gadis kecil itu merasa nyaman untuk mengungkapkan apa yang dirasa. Semua keluarga menaruh harap lebih kepada Yola hingga membuat kedua pundaknya terasa berat.


Yola menoleh ke arah semua orang menatap satu persatu wajah mereka sebelum memasuki ruangan. Namun, hanya dua wajah yang terlihat sangat mengemis bantuannya yaitu, Rani dan Ragil. Merekalah orang tua Joey yang menaruh semua nasib sang anak ditangan gadis kecil itu yang tidak tahu bagaimana cara membangunkan Joey.


Akan tetapi, melihat mereka terus menyemangati Yola membuatnya tersenyum menganggukan kepala. Mungkin dia tidak tahu cara membangunkan Joey, hanya saja gadis tersebut dapat mencobanya dengan bantuan dari doa semua orang.


Perlahan Yola kembali melangkahkan kaki ditemani oleh sang suster, kemudian seperti biasa melakukan semua arahan prosedur untuk memakai alat medis sebelum bertemu pasien. Selepas itu, Yola jalan sendiri mendekati bangkar pria yang selama ini ada di sampingnya kini telah terbaring lemas di bangkar tanpa melakukan apa pun.


"Ha-hai, Kak. A-apa kabar?" tanya Yola tersenyum dengan air mata perlahan sudah menetes di pipi.


"Bo-boleh Yo-yola pegang tangan Kakak seperti Kakak memegang tangan Yola ketika Yola merasa lemah?" tanya Yola kembali, bibirnya suda mulai bergetar.


Suster duduk di tempatnya memperhatikan serta mendengarkan apa yang akan disampaikan oleh anak seusia Yola itu. Cuma, entah mengapa hati suster tersentuh saat melihat Yola memegang tangan pasien. Di mana dia menempelkan tangan kanan sang pria di pipi kanan hingga air mata ikut membasahi tangan Joey.


"Kakak pernah bilang padaku, kalo Kakak janji akan selalu nemenin aku sampai kita besar bahkan orang tua Kakak sendiri bilang kalo aku udah lulus kita akan nikah. Tapi ... Tapi, kenapa Kakak tidak pernah bilang sama aku kalo Kakak sakit? Sementara aku saja tidak boleh memendam perasaan apa pun dan harus menceritakan sama Kakak, terus kenapa Kakak sendiri memendamnya? Apakah penyakit itu sangat sakit sampai membuat Kakak tidak bisa bangun kaya gini?"


Mata Yola menatap lekat wajah Naku tanpa memalingkan wajahnya. Dia merasa begitu khawatir dengan keadaan samg pria saat ini.


"Kakak tahu gak, Yola baru aja sembuh dari sakit bahkan Yola mimpi Kakak pergi sangat jauh sampai Yola tidak bisa mengejar Kakak lagi. Apa itu pertanda Kakak bakalan pergi? Jika benar, bolehkah Yola meminta satu permintaan. Kalo Kakak mau pergi tolong ajak Yola, kita pergi sama-sama, kita main sama-sama. Yola gak mau sendiri di sini, Kak Naku pasangannya Kak Nai, Mommy sama Daddy, Tante sama Om, semua ada pasangan. Terus Yola sama siapa kalo Kakak pergi? Apa Kakak tega ninggalin Yola sendiri? Apa Kakak tega lihat Yola nangis kaya gini? Apa Kakak pengen hidup Yola hancur sampai Yola nangis dar*rah karena air mata Yola kering selalu nangisin Kakak, apa Kakak mau begitu?"

__ADS_1


Kata-kata yang Yola ucapkan membuat suster tersenyum, matanya mulai berkaca-kaca membayangkan apabila yang ada di hadapan dia adalah anaknya.


Kepolosanmu tanpa sadar membuktikan bahwa kamu telah mencintainya, Yola. Pasien itu pasti sangat beruntung kalo dia bisa bangun dan mengelap air mata berharga itu. Namun, sayangnya dia tidak bisa melakukan itu karena takdir belum berpihak padanya. Dari semua orang yang datang menjenguknya, tidak ada satu orang pun yang melupakan namamu, Yola. Mereka selalu menyelipkan nama manismu itu untuk dijadikan patokkan agar pasien lebih semangat lagi melawan semua rasa sakit dan kembali membuka mata untuk menemanimu. Aku sebagai suster di sini hanya bisa membantu doa semoga dengan kalian bertemi seperti ini pasien bisa merasakan keberadaanmu dan secepatnya sadar kembali.


Suster berbicara di dalam hati saat tidak tahu harus mengatakan apa lagi. Dia hanya mendoakan semoga pasien segera tersadar dan kembali berkumpul dengan keluarganya, terutama menemani gadis manis itu.


Suster merasa kasihan pada Yola, membuat dia bergerak mendekati gadis kecil itu untuk memberikan kursi supaya tidak capek berdiri terus. Yola tersenyum dibalik tangisnya sambil mengucapkan terima kasih.


"Yola tahu kok, pasti selama ini Kakak tersiksa kesakitan ya, ngerasain penyakit itu sendirian. Kalo Tuhan kasih Yola tiga permintaan seperti Om Jin pasti Yola akan minta untuk menyembuhkan semua penyakit Kakak, membuat Kakak bangun kembali, dan kita bisa menikah kaya Mommy sama Daddy. Kakak mau 'kan, nikah sama Yola? Kalo mau Kakak bangun ya, awas kalo gak mau Yola janji, Yola gak akan pernah nikah titik! Pokoknya Yola cuma mau sama Kak Joey, itu doang gak mau yang lain karena Yola sayang sama Kakak hiks ...."


Yola kembali menangis ketidak tidak tahu harus melakukan apa supaya Joey dapat membuka matanya seperti sediakala. Namun, tanpa disadari telinga Joey mendengar tangisan yang sangat membuat hatinya begitu sakit hingga dia meneteskan air mata.


"Ka-kakak? Ka-kakak nangis?" ucap Yola terkejut sambil berdiri tanpa melepaskan pegangan tangannya dari Joey.


Suster pun ikut terkejut dan langsung menghampiri Yola. Dia melihat dengan mata kepala sendiri untuk pertama kali pasien memberikan respon yang sangat baik. Hanya dengan tangisan, itu berarti pendengaran pasien merespon apa yang gadis tersebut katakan.


Sang suster menasihati Yola untuk kembali duduk untuk meneruskan semua yang ingin di sampaikan. Dia berpesan supaya Yola tidak berhenti untuk mengungkapkan apa yang dirasakan dan menyelipkan beberapa memori indah ketika mereka berdua bahagia.


Yola mengerti. Dia langsung menceritakan pertama kali mereka bertemu sampai berujung saling menaruh perasaan sayang satu sama lain. Namun, jangan salah rasa sayang yang Yola tanggap dari semua pembicaraan Joey padanya merupakan rasa sayang sebagai adik dan kakak.

__ADS_1


Akan tetapi, Joey tidak peduli. Dikarenakan perkataan Yola dengan ketulusan Yola sangatlah berbeda. Mulut berbicara tentang rasa sayang layaknya saudara. Namun, ketulusan hati Yola membuat Joey mampu menyimpulkan kalau rasa sayang itu merupakan rasa sayang terhadap pasangan. Berhubung usia Yola masih di bawah umur sudah pasti dia tidak mengerti atau membedakan mana kasih sayang terhadap saudara dan mana kasih sayang terhadap pasangan.


Suster mengejek semua kondisi Joey sesekali melihat ke arah Yola penuh senyuman. Ternyata benar, ikatakan batin di anatara mereka sangatlah kuat. Orang tua kandung saja tidak mampu membuat Joey memberikan respons. Namun Yola, langsung berhasil membuat perasan Joey menjadi campur aduk.


Tidak disangka-sangka hanya dalam hitungan menit, tiba-tiba mata Joey terbuka membuat suster terkejut bukan main. Yola tersenyum dibalik tangisnya dan segera memeluk Joey membuatnya perlahan membalas.


Pria itu tersenyum meneteskan air mata ketika merasakan kehangatan tubuh wanita yang sangat dirindukan. Tanpa berlama-lama suster segera menekan tombol untuk memanggil dokter.


Semua orang yang ada di depan ruangan terkejut bukan main ketika melihat dokter datang berlari bersama asistennya dan langsung masuk begitu saja. Mereka semua yang berusaha mendekat, tidak mempan menahan dokter. Semua pertanyaan mereka tetap tidak ada satu pun jawaban dari dokter meskipun, Ragil dan Rani terus menggedor pintu ruangan sang anak yang sudah tertutup.


Apa yang akan terjadi bila Naku mengetahui musuhnya sudah sadarkan diri secepat itu, padahal sebelumnya Naku hanya spontans mengatakan hal tersebut demi mengancamnya supaya tidak mendekati sang adik. Namun, apa jadinya bila Naku mengetahui semua itu?


.......


.......


.......


...💜💜>Bersambung<💜💜...

__ADS_1


__ADS_2