
Sore hari sekitar jam 5 semuanya sudah mulai bersiap-siap. Mereka menyusun semua koper yang akan di bawa di satu mobil khusus, sementara semuanya akan menaiki mobil keluarga supaya mereka berada di dalam satu mobil yang sama.
Sebelum berangkat ke bandara, mereka semua langsung mandi satu persatu sampai selesai. Selepas itu mereka makan terlebih dahulu untuk mengganjal perut. Kurang lebih jam 6 kurang 10 menit, mereka segera berangkat ke bandara jauh lebih awal dari keberangkatan pesawat jam 10 malam.
Selama di perjalanan mereka tertawa dan bercanda bersama sambil nyanyi-nyanyi sekedar menghibur Juan, Nuel, dan Yola. Syukurnya kondisi gadis kecil itu baik-baik saja, meskipun dia terlihat sedikit murung tetap masih tertawa melihat kelucuan adik-adiknya. Setidaknya Yola tidak seperti tadi yang menangis tidak karuan.
Kurang lebih jam 8 malam lewat 20 menit mereka sampai di bandara dan langsung masuk tanpa basa-basi. Keluarga Naku, Yola dan Naila bergegas menunggu di ruangan khusus karena kebwrangkatan pesawat pukul 10 malam. Sehingga masih banyak waktu yang tersisa untuk mereka sekedar meluangkan waktu sesekali mengabari keluarga Joey bahwa mereka akan datang ke sana.
Sedih, haru, sakit semua bercampur menjadi satu apa lagi saat video call tersambung menunjukkan wajah Joey yang terbaring lemah dengan semua alat-alat rumah sakit menempel jelas di tubuhnya membuat semua merasa tidak tega. Apalagi, wajah Rani semakin terlihat pucat kurang istirahat dan sebagainya.
Sebelum menutup ponsel, mereka memberikan semangat kepada kedua orang tua Joey untuk tetap sabar menghadapi ujian dan semangat untuk Joey yang sedang berjuang. Setelah itu, ponsel dimatikan karena semuanya harus segera bersiap-siap untuk keberangkatakan ke Singapura.
...🌟🌟🌟🌟🌟...
Di dalam pesawat mereka harus duduk tenang sambil nyemil makanan selama 2 jam ke depan. Kemungkinan jam 1 kurang mereka akan sampai dan keluar bandara sekitar jam setengah 2 atau setengah 3 selesai barang-barang sudah kembali di tangannya mereka masing-masing.
Benar bukan, dugaan mereka jam 2 lewat 2 menit mereka keluar dari bandara menuju Apartemen. Semua ini sudah dipersiapkan oleh Rio melalui asistennya untuk menyewa 2 Apartemen saling bersebelahan untuk keluarga Naku dan Naila yang tidak terlalu jauh dari rumah sakit.
Entah berapa lama mereka berada di sana, setidaknya Rio telah menyewa dua Apartemen selama 1 minggu yang akan datang. Jika ingin lebih mereka dapat memperpanjang sewanya sesuai dengan keinginan. Untungnya semua ini bertepatan dengan hari libur panjang kenaikan kelas atau kelulusan, jadi mereka tidak terlalu khawatir kalau sang anak tidak sekolah.
Hanya saja Rio dan Leon yang harus mengalah untuk tidak pergi ke kantor dan mempercayai asisten serta sekretaris saja untuk mengelola perusahaan. Selebihnya, mereka akan memantau semua melalui email atau ada rapat penting yang tidak dapat diwakilkan tetap berjalan, tetapi melalui sambungan video call dari layar.
Pokoknya sebisa mungkin semua akan Leon dan Rio lakukan supaya kerjaan tidak terbengkalai serta urusan Joey pun tetap berjalan untuk mencari solusi terbaik.
__ADS_1
Tepat jam 8 pagi semuanya sudah siap. Mereka bergegas pergi ke rumah sakit menggunakan 1 mobil besar yang di sewa keluarga Rio untuk mengantarkan mereka bolak-balik rumah sakit dan Apartemen.
Jarak tempuh dari Apartemen ke rumah sakit kurang lebih 40 menit. Tidak ada satu pun yang kepikiran untuk sarapan, semua hanya mengandalkan roti yang dibeli di supermarket mereka lewati hanya sekedar mengganjal perut anak-anak. Tahu sendiri bukan, anak kecil jika lapar pasti akan memilih menangis. Jadi, untuk berjaga-jaga para orang tua sudah menyiapkan semua itu selama perjalanan.
Sesampainya di rumah sakit semuanya turun perlahan, lalu masuk ke dalam menuju lift. Tidak perlu menanyakan kembali keberadaan kamar Joey, dikarenakan mereka telah mengetahuinya.
Tepat di lantai 10 kamar VIP nomor 10, mereka langsung melihat dari jauh keberadaan Rani dan Ragil yang dudu menatap ke arah kamar.
Tangis Rani pecah di dalam pelukan Becca. Keduanya menangis membuat Vivi, Yola, dan Naila pun ikut terharu. Tangan Vivi mengusap tubuh wanita itu untuk memberikan semangat. Setelah itu bergantian Rani memeluk Vivi, Naila, terakhi Yola.
Melihat keadaan itu entah mengapa rasanya begitu sedih dan sungguh menyesakkan hati mereka. Di mana Yola menangis sesegukkan bersama Rani yang terus memeluknya.
Sama seperti Leon dan Rio, mereka juga bergantian memeluk Ragil yang saat ini sudah meneteskan air mata. Semua dapat merasakan bagaimana rasanya menjadi kedua orang tua Joey yang harus dituntut kuat meskipun, semua itu terasa sangatlah berat dan menyakiti hati.
Selesai melepas rindu dan segala macam, mereka duduk tenang sambil membicarakan tentang perkembangan Joey. Sayangnya, sampai detik ini tidak ada perkembangan apa-apa. Joey juga di jaga ketat oleh salah satu suster yang berada di dalam untuk tetap memantaunya yang sering bergantian dengan suster piket lainnya. Namun, hanya ada 2 suster yang berjaga. Suster pertana jaga dari siang sampai pagi, dan suster kedua dari pagi sampai siang lagi.
Hanya dua suster itulah yang setia menemani Joey 24 jam, sementara kedua orang tua hanya melihatnya dari jauh sesekali melihat dari dekat. Kedua suster tersebut pun tidak boleh digantikan oleh suster lain, kalau sampai diganti pasti akan membuat bingung lantaran mereka yang sangat mengetahui tentang kondisi Joey dari awal.
"Apa Joey sudah boleh jenguk?" tanya Rio mewakilkan semuanya.
"Yola mau lihat Kak Joey, Tante, Om. Boleh ya, please ... Yola kangen banget," ucap Yola penuh permohonan.
"Sabar ya, Cantik. Jam besuknya sudah habis, tadi Tante sama Om habis lihat keadaan Joey. Kemungkinan jam 7 malam nanti akan dibuka lagi, tapi dengan syarat yang masuk hanya boleh 2 orang secara bergantian dan anK diusia 7 tahun ke bawah tidak diperkenankan masuk kecuali berhubungan dengan kerabat dekat."
__ADS_1
Penjelasan dari Rani membuat semuanya mencoba untuk memahami, tetapi tidak dengan Yola. Dia merasa sedih harus menunggu kembali hanya untuk sekedar menemuinya, biasa juga Yola dengan suka hati bermain dan bercanda tanpa harus mengunakan jadwal.
"Ya, sudah, jika memang prosedurnya seperti itu tidak apa-apa. Lebih baik, kita makan dulu yuk, dari pagi belum sarapan jangan sampai kita semua sakit kasihan Joey nanti gak ada yang jagain," ucap Rio, diangguki oleh semuanya, kecuali Yola dan Rani.
"Kalian duluan saja, aku mau di sini nunggu anakku," jawab Rani tersenyum dibalik wajah lesu, dan pucatnya.
"Yola juga, Yola mau nemenin Tante Rani sama Kak Joey. Kalian makan aja, Yola gampang kok," sambung gadisnitu membuat semuanya saling menatap satu sama lain.
"Jika Tante dan Yola tidak ingin makan, kami semua pun tidak akan makan. Adil, bukan? Satu sakit, semua harus ikut sakit!"
Hanya kata-kata Naku yang berhasil membuat semuanya tidak dapat berkutik. Sumpah, kalimat itu sangat menusuk di hati semua orang seolah-olah Naku mendoakan tidak baik untuk mereka. Namun, itulah Naku. Sikap cueknya mampu membuat semuanya ikut bersamanya.
Rani perlahan mengetuk pintu kamar Naku, membuat suster keluar. Di situ dia memberikan amanah untuk menjaga Naku sebentar karena mereka ingin makan siang bersama. Suster tersenyum mengangguk, kemudian mereka semua pergi berbondong-bondong menuju kantin rumah sakit yang ternyata penuh.
Suka tidak suka mereka harus mencari Restoran di luar dari rumah sakit hanya sekedar makan siang, ngopi, bersantai supaya pikiran Rani dan Ragil bisa fres kembali tidak hanya terpacu pada penyakit sang anak.
.......
.......
.......
...💜💜>Bersambung<💜💜...
__ADS_1