Jangan Renggut Kebahagiaanku!

Jangan Renggut Kebahagiaanku!
Titip Anakku


__ADS_3

"Permisi, apakah di sini ada keluarga korban atas nama keluarga dari adik Naila?" tanya sang dokter dengan wajah yang benar-benar terlihat panik.


Degh!


Paman dan bibi Naila langsung spontans berdiri dalam keadaan detak jantung yang hampir copot saat nama Naila dipanggil.


"Sa-saya pamannya, Dok."


"Saya bibinya, Dok."


Mereka menjawab secara bersamaan dengan kondisi pikiran sudah mulai ke mana-mana. Keduanya sudah tidak tahu harus berbuat apa selain berdoa supaya berita yang dokter sampaikan bukanlah hal buruk.


"Syukurlah kalian sudah datang, pasien sudah menunggu di dalam. Mari ikut saya!" pinta sang dokter berhasil membuat mereka bingung.


"A-ada apa ini, Dok? Ka-kakak ipar saya dan anaknya baik-baik aja, 'kan?" tanya paman Naila, semakin terlihat panik dengan wajah memerah.


"Keadaan ibunya Naila semakin kritis, Tuan. Sementara Naila sendiri sedang menjalani pemeriksaan untuk matanya, kami takut jika ada serpihan kaca yang menempel di kornea matanya. Demi memastikan semuanya saat ini Naila sedang ditangani oleh dokter spesialis anak dan dokter mata. Cuman ...."


Dokter menggantungkan perkataannya membuat paman, serta bibi Naila semakin cemas. Rasanya jantung mereka hampir copot ketika harus mengalami suasana semenegangkan ini.


"Cu-cuman apa, Dok? Katakan dengan jelas!" bentak paman Naila yang benar-benar sudah tidak bisa lagi menahan rasa sabarnya.


"Denyut nadi serta detak jantung ibu Naila semakin melemah, bahkan dia ingin segera bertemu dengan keluarganya karena ada yang ingin disampaikan. Sebelum terlambat, cepatlah masuk. Ikuti saya!"


Bagaikan tersambar ribuan petir, membuat tubuh mereka mulai melemas. Kedua kaki mereka terasa begitu berat ketika ingin melangkah masuk ke dalam mengikuti sang dokter.

__ADS_1


Kedua pundak mereka benar-benar terasa seperti sedang memikul beban yang cukup berat sampai membuat mereka tidak bisa berkata apa-apa, selain terdiam dalam kondusi pasrah.


Akan tetapi, keduanya masih memiliki pikiran positif kalau kakak iparnya kembali sehat agar kelak bisa menemani Naila tumbuh menjadi wanita dewasa yang penuh kesuksesan.


Setelah paman dan bibi Naila sampai di dalam ruangan, mereka melihat tubuh dan pakaian kakak iparnya penuh dengan cairan merah sungguh membuat kedua kaki mereka semakin lemas.


Sebuah alat pernapasan telah menutupi mulut hingga hidung bundanya Naila. Tatapan dari matanya sungguh menyakitkan karena mereka sangat tahu ini sudah bukan seperti kakak iparnya yang biasa.


"Ka-kakak ...." panggil keduanya dengan suara yang sangat pelan dan bibirnya bergetar disertai air mata menetes deras tanpa henti.


"Ma-maaf ... Ji-jika a-aku ti-tidak bi-bisa me-menjaga su-suamiku. Ma-maaf ... Ji-jika a-aku ga-gagal me-menyelamatkan ka-kakakmu. Ma-maafkan a-aku ...."


Tarikan napas yang tidak beraturan membuat bundanya Naila kesulitan untuk berbicara dengan normal. Setiap kata yang terucap selalu terpenggal membuat bibi dari Naila harus lebih mendekatkan wajahnya supaya bisa membaca serta mendengar suara yang sangat pelan.


"Sudah, Kak. Jangan berbicara aku mohon, Kakak harus bisa bertahan, Kakak harus berjuang sedikit lagi demi Naila. Aku mohon, Kak. Kakak tidak boleh pergi, kasihan Naila, Kak. Kasihan hiks ...."


"A-akuhh ... Su-sudah ti-tidak ku-kuat la-lagi, a-aku i-ingin i-ikut be-bersama su-suamiku. Ka-kasihan di-dia se-sendirian ...."


Paman Naila langsung menghentikan perkataan bunda Naila dengan suara yang sangat keras. Bentakan itu membuat istrinya menoleh sambil memberikan kode gelengan kepala. Akan tetapi, itu semua tidak digubris olehnya.


"Cukup, Kak, cukup. Hentikan perkataanmu itu! Kakakku sudah pergi jauh meninggalkan anak dan istrinya, sekarang Kakak juga mau meninggalkan anak Kakak demi bersama suami Kakak, iya? Apa Kakak tidak kasihan dengan Naila? Dia harus hidup sendiri tanpa kedua orang tuanya, kasihan gadis kecil itu, Kak. Kasihan hiks ...."


"Jika memang kakakku telah tiada, tapi aku mohon Kakak harus tetap semangat buat melawan semua rasa sakit itu demi Naila. Dia sangat membutuhkan kehadiran orang tuanya, kalau kalian tidak ada bagaimana Naila bisa hidup dan tumbuh menjadi anak yang baik? Gimana, Kak. Gimana? Hiks ...."


Tangis mereka pecah membuat sang dokter yang ada di sana tidak kuat melihat kesedihan di wajah mereka. Apalagi dokter sangat tahu bagaimana kondisi Naila saat ini, gadis kecil itu masih sangat membutuhkan kasih sayang kedua orang tuanya.

__ADS_1


Lantas, jika mereka pergi bagaimana nasib Naila ke depannya? Itulah yang mereka semua sedang pikirkan, tambah lagi melihat kondisi bundanya seperti ini malah semakin membuat mereka emosi bercampur takut.


"Ji-jika a-aku be-berta-tahan, pe-percuma ... A-aku hi-hidup ba-bagaikan o-orang ma-ma*ti ya-yang tidak bi-bisa be-bergerak. Le-lebih ba-baik a-aku i-ikut de-dengan su-suamiku sa-saja. Di-dia su-sudah me-menungguku di-di depan pi-pintu."


Seketika semua orang langsung menatap ke arah pintu keluar dari ruangan UGD, tetapi tidak melihat apa-apa di sana. Hanya bunda Naila yang bisa melihat semua itu, di mana suaminya sedang tersenyum sambil memberikan kode untuk mengajaknya pergi.


"Cukup, Kak. Aku mohon jangan berbicara lagi, perkataan Kakak sudah sangat jauh. Lebih baik fokus pada kesehatan Kakak, bagaimana caranya Kakak bisa kembali sembuh dan menemani Naila sampai tumbuh menjadi wanita dewasa. Apa Kakak tidak mau? Kalau Kakak pergi, Naila akan meri dukan sosok Ayah dan Bundanya. Bagaimana kami bisa memberitahu mereka kejadian ini, aku tidak kuat, Kak. Aku tidak mau Kakak pergi, aku mohon hiks ...."


Bibi Naila memeluk kakak iparnya sambil menangis sesegukan karena tidak ingin kehilangan seorang kakak. Hanya saja, tiba-tiba suara monitor jantung mulai berbunyi tidak karuan membut dokter merasa panik. Keadaan bunda Naila juga mulai tidak stabil karena tubuhnya bergetar, tetapi dia tetap berusah menyampaikan pesan terakhir.


"A-aku ti-tidak ku-kuat lagi ... To-tolong ja-jaga Na-naila, ja-jadikan di-dia a-adalah a-anak kalian. To-tolong sa-sayangin Naila me-melebihi ka-kalian sa-sayang pa-pada anak kalian sendiri na-nantinya. Tu-tugas su-suamiku da-dan a-aku te-telah se-selesai, a-aku be-berikan tu-tugas ini pa-pada ka-kalian. A-aku mo-mohon, ja-jangan bu-buat pe-periku me-menangis."


"Sa-sampaikan sa-salamku pa-pada anakku ka-kalau ka-kami sa-sangat me-menyayanginya. Sa-sampai ka-kapan pun di-dia akan me-menjadi pe-peri ka-kami. Ti-titip a-anakku, ja-jangan pe-pernah sa-sakiti di-dia. A-aku a-akan me-menjemputnya ke-kembali, ji-jika su-sudah wa-waktunya. A-aku pe-percaya sama ka-kamu Vivi, ka-kamu akan me-menjadi i-ibu ya-yang baik untuk Na-naila. Dan, ka-kamu Le-leon!"


"Ka-kamu ha-harus bisa be-bertanggung jawab me-membahagiakan is-istri dan a-anak-a-anakmu ke-kelak. Ja-jangan bi-biarkan me-mereka me-menderita, i-ingatlah! Ka-kakakmu i-itu o-orang ba-baik, ja-jadi ka-kamu ha-harus me-mengikuti je-jejaknya a-agar ka-kakakmu ba-bangga me-memiliki a-adik se-sepertimu. Te-terima ka-kasih, a-aku ti-titip Na-naila. Ja-jangan ga-ganti na-namanya, ta-tapi ga-gantilah sta-statusnya me-menjadi a-anak ka-kalian ...."


Suara monitor terdengar jelas pertanda, bahwa detak jantungnya sudah tidak lagi bergerak. Itu berarti bunda Naila benar-benar telah tiada, membuat Vivi dan Leon langsung menangis, meraung karena telah kehilangan kedua orang yang sangat mereka sayangi.


.......


.......


.......


...💜💜>Bersambung<💜💜...

__ADS_1



__ADS_2