
Hembusan napas Ragil terdengar kasar, artinya dia sedang mencoba mengendalikan diri agar tidak menimbulkan perdebatan seperti biasa.
Perlahan Ragil berdiri dalam keadaan lemas sambil membawa jas kerja untuk ditaruh di tempat yang seharusnya. "Ya, udah aku mandi dulu. Nanti tolong buatkan aku wedang jahe, soalnya badanku rasanya tidak enak."
"Ya, nanti aku buatkan. Mandi pakai air hangat jangan air dingin, paham 'kan?" ucap Rani diangguki oleh Ragil.
Rani kembali menyelesaikan skin care malam agar kulitnya terus terjaga dan sehat. Semua itu Rani lakukan supaya suaminya tidak merasa bosan, kalau sang istri sangat pandai merawat tubuh.
Namun, ketika Rani ingin memakai pelembab bibir, tiba-tiba Ragil kembali menanyakan sesuatu pada sang istri. "Joey ke mana? Tumben pas aku pulang dia tidak ada di ruang tengah, bisanya selalu di situ main games."
"Kayanya kecapean, soalnya pas siang Joey bilang mau jalan ke Mall sebentar, bosan di rumah," jawab Rani yang sudah selesai dengan ritual skin carenya.
"Oh, ya---"
"Cepatlah mandi, suamiku sayang, astaga! Lihat, udah jam berapa itu!" seru Rani membuat Ragil cengengesan di balik pintu kamar mandi.
"Hehe, ma-maaf, Sayang. Ya, udah aku mandi dulu jangan lupa bikinkan aku---"
"Cepetan mandi atau mau aku lempar pakai botol ini!" jawab Rani melototkan matanya sambil mengangkat botol parfum milik dia sendiri.
"I-iya, iya, aku mandi!" pekik Ragil langsung menutup pintu kamar mandi dengan sedikit keras. Lalu, Rani kembali menaruh parfum dengan mengusap-usap botol tersebut lantaran khilaf ingin melukainya.
Maklum saja, itu parfum kesayangan Rani yang tidak sengaja menjadi korban dari amukan pada sang suami. Semua Rani lakukan karena dia tidak ingin Ragil jatuh sakit, tahu sendiri seegois apapun Rani dia tetap perhatian pada suami juga anak meski caranya yang sedikit salah.
__ADS_1
Setelah selesai, Rani segera bergegas pergi keluar dari kamar menuju dapur. Di mana Rani melihat pembantunya sedang memasak makan malam untuk mereka semua, tanpa panjang kali lebar Rani ikut membantu agar pekerjaan Bibi cepat selesai.
15 menit berlalu, masakan sudah tertata rapi di atas meja makan membuat Ragil yang baru datang ke ruang makan langsung merasa lapar. Ragil duduk sambil tersenyum menatap Rani yang semakin hari terlihat semakin cantik juga muda.
"Ini masakanmu?" tanya Ragil menatap Rani yang sedang mengambilkan nasi ke atas piring suaminya.
"Mana ada, tahu sendiri aku tidak ada waktu buat masak. Ini juga cuman bantu buat ngaduk doang, selebihnya Bibi yang masak. Kenapa?" tanya Rani, balik.
"Gapapa, kok. Setidaknya kamu sudah berusaha menjadi istri juga Mamih terbaik buat aku sama Joey. Oh, ya, di mana Joey? Kamu belum memanggil dia buat makan malam?"
Rani yang menyadari semua itu langsung menepuk dahinya, lalu dia tersenyum menatap suami tercinta. Ragil hanya menggelengkan kepala melihat tingkah Rani yang bisa-bisanya melupakan kehadiran sang anak.
"Joey, Sayang? Ayo mak---"
Wajah Rani juga Ragil langsung terlihat syok. Mereka saling menatap satu sama lain penuh tanda tanya. Rani tidak menyangka kalau anaknya sampai jam segini belum pulang, padahal Joey mengatakan hanya sebentar pergi ke Mall. Akan tetapi, sampai detik ini dia malah belum sampai di rumah.
"Apa maksudnya semua ini, Ran? Tadi saat aku tanya tentang Joey, kamu bilang dia ada di kamar, terus barusan Bibi kasih tahu kita kalau Joey pulang pulang. Apa kamu sengaja mau bohongi aku, iya?"
"E-enggak ... enggak gitu, Gil. A-aku kira Joey udah pulang, soalnya pas aku mau ke kamarnya kaya ada suara tv gitu. Makannya aku bisa ngomong gitu," jawab Rani, wajahnya berubah panik.
"Mungkin Nyonya salah paham, solanya tadi saya lagi beresin kamar Den Joey tidak sengaja remot tv ketindihan dengkul pas lagi beresin kasur. Terus tv nyala, lalu saya matikan lagi. Saya kira malahan Nyonya belum pulang, tapi pas saya lagi buang sampah di samping melihat mobil Nyonya. Ya, udah saya langsung angetin masakan buat makan malam. Kirain Nyonya tahu kalau Den Joey belum pulang, makannya tidak nanyain sama saya. Biasanya kalau Nyonya tidak tahu pasti nanya, cuman ini enggak makannya saya diam aja.
Penjelasan dari Bibi membuat perasaan Rani semakin tidak karuan, bola matanya melirik ke arah Ragil yang terdiam. Rani takut Ragil salah paham dan mengira kalau Rani sudah membohonginya. Melihat sifat diam Ragil dengan tangan menggenggam di atas meja untuk dijadikan tupuan dagu sambil menyimak apa yang sedang disampaikan oleh asisten rumah tangga.
__ADS_1
Selesai menceritakan semua itu, Ragil meminta sang Bibi untuk meninggalkan ruang makan dengan memberikan kode tangan. Kini hanya menyisakan Rani dan Ragil berdua dalam keadaan mata mereka saling menatap satu sama lain.
"Kenapa, Ran? Kenapa kamu kurang memperhatikan pada anakmu sendiri, hem? Kau itu seorang Ibu, sudah tugas dan kewajibanmu untuk memperhatikan anak. Sementara aku ... aku sibuk mencari nafkah untuk mada depan kita, sekolah Joey, pengobatan Joey dan sebagainya. Terus kenapa masalah sepele begini aja kamu tidak tahu, sampai mikir kalai anakmu udah pulang tanpa mengeceknya ada atau tidak di dalam kamar!"
Wajah Ragil terlihat datar, berarti dia sedang menahan rasa amarah pada sang istri yang benar-benar menguras perasaan. Siapa sangka, Rani juga tidak ingin kalah dari sang suami walaupun dia salah.
"Ya, aku tahu aku salah, aku tidak mengecek dulu apakah Joey ada di kamar atau tidak. Tapi, kamu juga tidak bisa sepenuhnya menyalahkan aku. Kita orang tua, kita buat Joey juga sama-sama jadi kamu tidak berhak menyerahkan semua tanggung jawab Joey padaku. Meskipun tugasmu identik untuk mencari nafkah, kamu pun ikut serta dalam mendidik anak, menjaga anak semuanya kita harus lakukan bersama. Bukan mentang-mentang aku seorang Ibu, semuanya tentang anak kamu serahkan padaku. Sama saja kamu lepas tangan, bukan?"
"Udah begini aja aku yang selalu disalahkan, bagian Joey berprestasi kamu maju paling depan dengan membanggakan dirimu sendiri. Dasar egois! Kalau kamu belum siap punya anak, kenapa waktu itu kamu minta buru-buru program anak padahal pernikahan kita baru usia satu bulan. Kenapa, hah?"
Rani berdiri menbungkukkan badannya menatap manik mata Ragil penuh keseriusan. Seakan-akan dia sedang menantang suaminya sendiri, tanpa sadari Joey sudah menyaksikan semua pertengkaran itu bersama Sus Rini yang dari tadi berusaha untuk mengalihkan Joey.
Namun, Joey lebih memilih untuk melihat pertengkaran tersebut sampai perkataan kedua orang tuanya membuat Joey hanya bisa tersenyum dengan mata berkaca-kaca.
"Kalau memang Mamih sama Papih belum siap punya anak seperti Joey, tidak apa-apa. Joey bisa hidup sendiri, kok. Bukannya waktu itu Joey pernah minta sekolah di luar negeri, jadi kalian tidak perlu repot mengurus Joey karena di sana sudah ada pengurusnya sendiri. Dari pada Joey ada di sini, malah buat kalian ribut terus. Emangnya kalian pikir Joey tidak pusing memikirkan perdebatan ini!"
Sus Rini memegang kedua bahu Joey sesekali mencoba menghentikan semua perkataannya. Hanya saja, Joey tetap berbicara membuat Rani dan Ragil benar-benar terkejut bukan main. Mereka spontan berdiri tegak menatap ke arah sang anak yang berada tidak jauh dari meja makan.
.......
.......
.......
__ADS_1
...💜💜>Bersambung<💜💜...