Menikahi ustad tampan

Menikahi ustad tampan
Mulai pencarian


__ADS_3

Pagi ini tampak Zahra sudah siap dengan tas besarnya, di depan sang kakak laki-laki sudah menunggunya.


"Sebenarnya kalian mau ke mana to? Mas mau juga gitu, tiba-tiba pulang terus ngajak kamu pergi!?" Bu Narsih tampak penasaran dengan apa yang akan dilakukan anak-anak nya, walaupun Imron maupun Zahra sudah menjelaskan maksudnya, tapi Bu Narsih tidak percaya.


"Imron sengaja Bu, ngajak Zahra jalan-jalan biar tidak kepikiran dengan masalah yang dia hadapi buk!"


"Ya sudah lah, kalau begitu kalian hati-hati ya, jangan lama-lama juga. Takut nanti jika nak Zaki mencari Zahra dan Zahra nggak ada, dia kecewa!"


"Iya buk, pasti! Imron juga sudah minta Zahra buat pamit sama ustad Zaki."


"Syukurlah!"


Setelah berpamitan dengan Bu Narsih dan pak Warsi, akhrinya mereka benar-benar berangkat dengan mengendarai motornya, mereka sengaja berangkat dari rumah menggunakan motor dan akan berlanjut dengan naik kereta, Imron akan menitipkan motornya di tempat penitipan sepeda motor.


Kini mereka sudah duduk di salah satu gerbong kereta, Zahra masih terus diam dan menatap ke luar jendela, menikmati pemandangan yang ia dapat gratis selama perjalanan,


"Minumlah!" Imron menyodorkan sebotol air mineral yang sengaja ia beli sebelum naik kereta.


Zahra pun menerimanya dan meneguknya perlahan, Zahra terdiam sebentar dan menoleh pada sang kakak,


"Mas, menurut mas Imron, mbak Imah berbohong atau tidak ya?"


Imron yang juga tengah meneguk minumannya segera menutup kembali botol yang ada di tangannya itu dan menatap sang adik,


"Mas belum tahu, semoga saja semuanya tidak benar dan kita bisa mendapatkan bukti jika suamimu tidak bersalah, tapi jika_!" Imron tampak ragu untuk melanjutkan ucapannya.


"Tapi jika apa, mas?"


"Bukan apa-apa, jangan di pikirkan. Semua akan baik-baik saja! Sebentar lagi kita sampai, setelah ini kita naik bus untuk sampai di alamat ini!" Imron sengaja mengalihkan pembicaraan, ia tahu beban adiknya sudah cukup berat di usianya yang masih terlalu muda, ia tidak ingin membuat adiknya semakin kepikiran.


Akhirnya mereka sampai juga di Trenggalek, sebelum lanjut naik bus, mereka terlebih dulu singgah di masjid untuk sholat dhuhur.


Setelah lanjut naik bus akhirnya mereka sampai di alamat yang mereka tuju, sebelum mencari alamat pria bernama Anwar, mereka terlebih dulu mencari penginapan yang tidak jauh dari tempat itu karena mungkin butuh waktu sampai dua hari untuk berada di tempat itu, lagi pula jika hari ini mereka sudah mendapatkan jawaban, mereka tidak mungkin langsung pulang karena jarak mereka yang lumayan jauh dari rumah.


"Nggak pa pa kan kita tinggal di sini? Penginapan ini memang kecil tapi lumayan nyaman, Zah!"

__ADS_1


"Nggak pa pa, mas!"


"Ya udah, mas ke kamar sebelah ya, kita istirahat dulu nanti ba'dha ashar kita mulai pencarian!"


"Iya mas!"


Setelah Imron meninggalkan kamarnya, Zahra segera merebahkan tubuhnya untuk menghilangkan rasa penatnya.


***


Tepat ba'dha ashar seperti yang di rencanakan, Imron sudah menjemput Zahra ke kamarnya, ia juga sudah menyewa sebuah sepeda motor sebagai kendaraan untuk mereka.


Dengan berbekal sebuah alamat, mereka mendatangi sebuah rumah. Rumah sederhana yang berada di seberang jalan setapak yang menghubungkan dengan jalan utama dekat penginapan mereka.


"Sepertinya sepi, zah!"


"Masak sih mas!" Zahra tampak tidak percaya, ia memilih membuka pagar yang hanya di kaitkan dengan seorang bambu kecil yang berbentuk persegi panjang seukuran korek api. Imron pun akhirnya memilih mengikuti sang adik.


Mereka berhenti tepat di depan pintu yang tampak masih baru karena pintu kayu itu bahkan belum tersentuh oleh cat, sebagian tembok rumah itu juga tampak belum ditutp semen hingga batanga masih terlihat.


Zahra mengetuk pintu itu perlahan dan beberapa kali mengucapkan salam dan barulah salam yang terakhir terdengar sahutan dari dalam,


Seorang wanita tua muncul dari balik pintu yang awalnya tertutup rapat itu,


"Kalian siapa ya?" tanya wanita itu penasaran, terlihat dari kerutan di wajahnya yang semakin banyak tak kala ia mengerutkan keningnya.


"Assalamualaikum nek,"


"Waalaikum salam." jawabnya masih dengan penasaran menunggu tamunya memperkenalkan diri.


"Kenalkan, saya Zahra dan ini mas saya namanya Imron! Kami ke sini mau cari mas Anwar, apa benar ini rumahnya mas Anwar?"


Nenek itu tidak langsung menjawab, ia memilih untuk mengajak Zahra dan Imron untuk masuk ke dalam rumah.


Dua gelas kopi sudah terhidang di atas meja, nenek itu tampak begitu luwes menyajikannya. Zahra masih mengamati rumah yang tampak baru di bangun itu, bangunan itu jelas bangunan modern. Walaupun baru setengah jadi, tapi sudah terlihat jika itu rumah minimalis.

__ADS_1


Nenek itu kemudian ikut duduk di sofa yang juga tampak baru,


"Nak, sebenarnya kalian ini dari mana? Kenapa dari kemarin ada saja yang mencari cucu saya, Anwar?" wajah tuanya menampakkan kekhawatiran.


"Maaf nek, sebenarnya kami dari Blitar, kami teman Anwar di Blitar. Kebetulan dia pulang tanpa berpamitan dengan kami, jadi kami sengaja mencarinya!" ucap Imron sengaja untuk menenangkan hati sang nenek. "Jadi kalau boleh tahu Anwar nya sekarang di mana ya nek?"


Nenek terdiam sejenak, "Sebenarnya nenek di sini hanya diminta Anwar untuk menjaga rumah ini, rumah ini Anwar bangun sendiri katanya dia akan pulang dengan membawa calon istrinya, tapi sejak kepulangannya beberapa Minggu ini, dia bahkan tidak membawa calonnya. Ia malah sibuk bekerja kembali, setiap kali nenek menyinggung soal calon istri, dia hanya tersenyum dan memilih menghindar!" nenek itu meluapkan emosinya, merasa ada yang bisa mendengar keluh kesahnya, "Dia itu sudah waktunya berumah tangga, tapi entah apa yang tengah dia tunggu. nenek ini sudah sangat tua untuk terus menemaninya, terkadang nenek kasihan dengannya. Hanya nenek yang dia punya, kedua orang tuanya sudah meninggal semenjak dia kecil, tidak punya saudara. Nenek sudah merawatnya sejak kecil hingga sekarang, nenek berharap dia segera mendapatkan pasangan hidup biar ada yang di ajak bicara, berunding!"


Nenek bicara sambil sesekali mengusap air matanya, Zahra yang merasa simpati segera mendekat dan menenangkan sang nenek,


"Sabar ya nek! Mas Anwar pasti akan dapat jodoh!"


Nenek pun sepertinya tersadar akan sesuatu,


"Apa kamu ya nak, calon istri Anwar!"


Dengan cepat Zahra menelan Salivanya, ia juga melepas pegangannya pada punggung sang nenek, ia juga segera mengibaskan tangannya,


"Enggak nek, bukan saya. Saya sudah punya suami!"


"Hehhhhh, sudah nenek duga. Kalian pasti suami istri!"


"Bu_, bukan!?" Zahra kembali melambaikan tangannya, "Dia_!"


"Iya nek, dia istri saya!" Imron segera memotong ucapan Zahra, ia tidak mau berlama-lama membahas status mereka. Itu akan cukup membuang waktu.


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya


Ig @tri.ani5249


...Happy Reading 🥰🥰🥰...

__ADS_1


__ADS_2