Menikahi ustad tampan

Menikahi ustad tampan
Menginap di hotel (1)


__ADS_3

Mobil mulai melaju kembali menuju ke sebuah hotel, Zahra semakin di buat terpesona dengan pemandangan yang sangat jarang ia temui,


"Mas, mau ke mana?" tanya Zahra saat ustad Zaki tiba-tiba membuka pintu mobil padahal mereka belum sampai di parkiran, mereka masih berada tepat di depan pintu masuk hotel.


"Turun!"


"Kok turun, Zahra gimana?"


"Tunggu sebentar!" ustad Zaki pun benar-benar turun saat Zahra melepaskan tangannya, ternyata ustad Zaki berlari mengitari mobil dan berdiri di sebelah pintu yang dekat dengan Zahra, ia tengah membukakan pintu untuk zahra,


"Turunlah!"


"Zahra juga?"


"Hmmm!"


Zahra pun tidak punya pilihan lain selain menuruti permintaan ustad Zaki, ia pun segera turun dari mobil.


Tangan ustad Zaki segera menggenggam tangan Zahra setelah menutup kembali pintu mobil, tidak lupa ia juga membawa sebuah tas rangsel besar di tangan kanannya.


Langkahnya terhenti saat seorang belt boy menyambut kedatangan mereka,


"Selamat malam, selamat datang di hotel kami!"


Ustad Zaki pun menurunkan kembali tasnya tapi tidak berniat untuk melepaskan tangan Zahra.


"Mas minta tolong, parkiran mobil saya ya!" pinta ustad Zaki sambil menyerahkan kunci mobil miliknya yang baru saja ia ambil dari saku jaketnya.


"Baik mas!" ucap pria itu dengan begitu sopan.


Tidak lupa ustad Zaki juga menyerahkan selembar uang lima puluh ribuan membuat mata Zahra tercengang.


Dia ngasih uang lima puluh ribu cuma buat minta tolong parkir, enak banget, mending di kasih ke aku, batin Zahra tidak iklas.


Setelah belt boy itu berlaku, Zahra segera menarik kemeja ustad Zaki, dan sedikit menahan tangannya hingga ustad Zaki mengurungkan niatnya untuk melangkahkan kakinya,


"Mas!"


"Hmmm?" tanya ustad Zaki sambil mengerutkan keningnya hingga kedua alisnya hampir saja menyatu.


"Itu uangnya sayang, aku punya dua puluh ribu kalau mau di tukar! Lima puluh ribu loh, cuma buat bayar bantuan parkir."


Ustad Zaki menggelengkan kepalanya,

__ADS_1


"Memang kamu mau ambil lagi uangnya?"


"Emang boleh?" tanya Zahra dan ustad Zaki bukan menjawab dengan ucapan melainkan ia mengencangkan genggamannya ke tangan Zahra, sebenarnya ia tengah menahan senyum. Ia sengaja ingin membuat Zahra sadar akan kesalahannya.


Zahra pun mengerti dengan maksud ustad Zaki yang itu, ia tidak membantah lagi dan mengikuti langkah suaminya, walaupun begitu ia tetap menggerutu.


"Lagi pula kita kan bisa langsung pulang, kenapa juga menginap di sini? Membuatku takut saja!" gumam Zahra dengan suara lirih tapi masih bisa di dengar oleh ustad Zaki.


Langkah mereka terhenti saat sampai di depan meja resepsionis, terlihat ustad Zaki tengah memesan sebuah kamar, ia juga memperlihatkan surat nikah mereka agar tidak terjadi salah faham karena jelas Zahra masih terlihat seperti anak sekolah pada umumnya.


Hingga akhirnya petugas itu menyerahkan sebuah kunci untuk ustad Zaki,


"Mari saya antar!" ucapnya lagi sambil berjalan meninggalkan mejanya.


Ustad Zaki pun mengikuti wanita itu begitu juga dengan Zahra.


"Silahkan mas, jika perlu sesuatu silahkan hubungi melalui panggilan utama!"


"Baik terimakasih!"


Akhirnya ustad Zaki membuka pintu itu menggunakan kunci yang di serahkan oleh petugas resepsionis.


"Assalamualaikum!" ustad Zaki mengucapkan salam setelah melangkahkan kakinya ke dalam kamar, ia kembali berbalik dan menggeser tubuhnya, "Masuklah!" perintahnya pada Zahra.


"Aku masuk juga ya? Memang tidak pa pa anak sekolah masuk hotel?" tanya Zahra ragu.


Ustad Zaki tersenyum tipis, lebih tepatnya sama hingga Zahra tidak menyadari senyum suaminya itu,


"Baiklah, kalau kamu nggak mau masuk, mas akan menutupnya lagi. Mas gerah mau mandi!"


Ustad Zaki sudah menutup setengah pintu itu tapi tangan Zahra segera menahannya,


"Jangan dong, aku kan tadi cuma tanya!" Zahra dengan cepat masuk ke dalam kamar.


Ia kembali di buat tercengang dengan pemandangan di dalam kamar itu,


Ya ampun, ini benar-benar luar biasa. Begini ya rupanya yang namanya hotel ...


Tatapan Zahra langsung tertuju pada tempat tidur king size yang ada di tengah ruangan dengan nuansa warna putih dan coklat itu. Dengan cepat ia berlari dan melompat ke atas tempat tidur persis seperti anak kecil yang tidak pernah melihat tempat tidur empuk membuat ustad Zaki menggelengkan kepalanya.


Ustad Zaki meletakan tas rangselnya di atas sofa, ia terlihat mencari-cari barang pribadinya di dalam tas,


"Mas mau mandi dulu, kamu nggak mau mandi?" tanya ustad Zaki masih dengan nada dinginya membuat Zahra menghentikan kegiatannya yang tengah melompat-lompat di atas tempat tidur, ia berhenti dalam posisi duduk bersimpuh sambil menatap ustad Zaki.

__ADS_1


"Aku nggak bawa baju ganti!" ucap Zahra tapi dengan cepat ustad Zaki mengeluarkan sesuatu dari dalam tas miliknya.


Kapan dia memasukkan bajuku ke dalam tas itu? ucapnya di dalam batin tapi dengan cepat ia melotot, ia pun segera berlari menghampiri ustad Zaki, lebih tepatnya menghampiri tas itu.


"Kalau ada bajunya, berarti ada_?" ucapannya menggantung saat tangan ustad Zaki tengah menggantung pakaian skralnya.


"Ya ampun, mesum sekali!" ucapnya sambil menyambar bra dan CD miliknya itu. Ia segera menyembunyikan dua benda sakral itu di balik punggungnya.


Seolah tidak peduli dengan kepanikan Zahra, ustad Zaki memilih berlalu begitu saja dan masuk ke dalam kamar mandi.


Hehhhh ....


Zahra menghela nafas, ia seperti merindukan kejahilan ustad Zaki. Saat ustad Zaki bersikap dingin seperti itu membuatnya merasa kesepian.


"Ya ampun, dia masih marah aja." gumam sambil melihat kembali CD dan bra miliknya itu, ia pun memilih duduk di samping tas ransel milik ustad Zaki dan mengecek isi tas itu dan ternyata hanya berisi baju miliknya dan baju milik ustad Zaki.


"Kayaknya dia sudah ada rencana buat menginap di hotel. Dasar misterius!"


Ceklek


Zahra kembali terkejut saat pintu kamar mandi terbuka kembali setelah sepuluh menit, mata Zahra benar-benar tidak bisa beralih dari pemandangan indah itu.


Ustad Zaki keluar dengan rambut basahnya, totol-totol air dari rambutnya membasahi tubuhnya yang terbuka tanpa baju, ia hanya mengenakan celana kolor dan handuk yang menggantung di lehernya.


"Cepetan mandi!?" perintahnya pada Zahra sambil mengalungkan handuk kering di leher Zahra membuat Zahra yang reflek mengarahkan kedua tangannya ke dada ustad Zaki, lebih tepatnya memegang kedua dada ustad Zaki membuat ustad Zaki tercengang di buatnya begitupun dengan Zahra.


Hahhhh, ini apa-apaan. rasanya ingin segera menarik tangannya menjauh dari dada ustad Zaki tapi tidak bisa tangannya seperti ada lem yang membuatnya sulit untuk menariknya.


Nggak, nggak, aku nggak boleh mesum seperti ini, dengan segala kekuatannya Zahra akhrinya berhasil menarik tangannya,


"Maaf, aku nggak sengaja!" dengan wajah memerahnya Zahra segera beranjak dari duduknya dan berlari ke dalam kamar mandi, meninggalkan ustad Zaki yang masih terpaku di tempatnya.


Setelah Zahra masuk ke dalam kamar mandi, ustad Zaki segera memegangi dadanya yang tadi di pegang oleh Zahra,


"Kenapa rasanya seperti mau meletus!?" gumamnya masih sambil memegangi dadanya.


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya


IG @tri.ani5249

__ADS_1


...Happy Reading 🥰🥰🥰...


__ADS_2