
"Mas tahu nggak, ada ustadzah Nafis juga kan? Seneng deh, besok mintain tanda tangan ya!?"
Ustad Zaki begitu terkejut dengan pertanyaan Zahra.
Bagaimana dek Zahra bisa kenal dengan ustadzah Nafis?
"Bagaimana bisa dek Zahra kenal sama ustadzah Nafis?" tanya ustad Zaki penasaran, selama ini mereka sama sekali tidak pernah membahas tentang wanita itu. Tidak pernah sekalipun atau mungkin memang ustad Zaki belum ada kesempatan.
"Bagaimana nggak kenal, di itu termasuk influencer kalangan muda mas, followernya banyak dan mas ustad tau nggak? novel online yang Zahra biasa baca, itu karyanya kak Nafis, nama penanya z_nafiz, aku pikir karena namanya Zida jadi dia kasih inisial z di nama penanya."
"Ohhh!" ustad Zaki cukup tertegun.
"Tulisannya bagus banget, bahkan beberapa karyanya sudah di bukukan, malah ada yang sudah di filmkan, pokoknya nanti kalau aku ke Bandung pengen deh ketemu sama dia." Zahra benar-benar antusias menceritakan wanita anggun dengan berbagai kelebihan itu.
"Buat apa?" tanya ustad Zaki yang terlihat tidak konsentrasi.
"Ya buat foto Selfi lah, mas! Mas ngapain bengong aja? Jangan-jangan mas ustad jatuh cinta ya sama ustadzah Nafis?" tanya Zahra sambil memicingkan matanya.
Hukkkk hukkk hukkk
Tiba-tiba ustad Zaki tersedak mendengar pertanyaan dari Zahra.
Ya Allah, kenapa bisa begini? tampak ustad Zaki semakin tidak fokus.
"Mas ustad kenapa sih? Jangan bilang mas ustad jatuh cinta pada pandangan pertama ya, awas ya kalau berani begitu aku cincang-cincang jadi kayak daging cincang, mau!?"
"Astaghfirullah dek, nggak gitu. Insyaallah mas setia sama dek Zahra!"
Zahra mencebirkan bibirnya tidak percaya.
"Jangan di gitukan bibirnya, bagaimana kalau mas nggak tahan?"
"Nggak tahan kenapa?"
"Nggak bisa tahan buat nahan rindu, ini masih 288 jam, 54 menit, 37 detik buat bisa menyentuh bibir itu lagi,"
__ADS_1
"Astaghfirullah, mesum banget jadi ustad!"
"Mesumnya sama istri sendiri dek. Ya sudah dek, kok jadi bahas mas terus. Bagaimana kalau sekarang gantian bahas hari pertama magang tadi?!"
"Aohh iya, kesannya lelah banget. Sekarang aja mata zahra sudah kayak dilem, pokoknya berat banget di buka, kelihatan kan?" tanya Zahra sambil memperlihatkan kelopak matanya yang terasa berat membuat ustad Zaki tersenyum.
"Tadi kata pak Dul_!" ustad Zaki belum sempat menyelesaikan perkataannya, Zahra sudah lebih dulu memotongnya, ia segera merubah posisinya dari tengkurap hingga duduk bersila.
"Aahhhh itu, aku nggak enak mas sama pak Dul, bagaimana bisa mas ustad pagi-pagi nyuruh pak Dul datang ke rumah cuma buat jemput Zahra, emang pak Dul nggak punya kerjaan!"
"Ya itu memang kerjaan pak Dul, dek!" ucap ustad Zaki tanpa sadar.
"Maksudnya?" mata Zahra sampai terbelalak lebar mendengar perkataan sang suami.
Ustad Zaki segera tersadar jika ia telah salah bicara, "Maksud mas, mas memang sengaja minta tolong sama pak Dul buat jagain dek Zahra selama mas di Bandung!"
"Nggak ahhh, pokoknya Zahra nggak mau ya! Lagi pula Weni kan juga satu tempat magang sama Zahra, jadi tadi Zahra sudah minta Weni buat jemput Zahra besok pagi, dan seterusnya. Jadi mas ustad kasih tahu pak Dul ya buat jangan jemput Zahra! Please!?" Zahra menakupkan kedua tangannya di depan dada.
"Lihat aja besok dek, ya udah dek Zahra tidur gih, katanya matanya sudah berat. Nanti malam mas banguni buat sholat tahajud ya!"
"Sabar ya, nanti awas aja kalau mas pulang nggak mau lihatin wajah mas, mas gigit kamu!" ancam ustad Zaki.
"Jangan dong, emang nggak sakit di gigit!" ucap Zahra sambil tersenyum.
"Gigitnya mas kan beda!?"
"Beda apanya, yang namanya di gigit itu tetep aja sakit!"
"Gigitan mas bikin nagih dek, nggak percaya? mau coba?" tanya ustad Zaki sambil mengernyitkan matanya.
"Apaan sih!?" wajah Zahra seketika memerah membayangkan hal itu, "Sudah ah, Zahra ngantuk. Assalamualaikum!" Zahra segara mematikan sambungan telponnya bahkan sebelum sang suami menjawab salamnya, ia segera menakup kedua pipinya yang terasa panas karena ulah suaminya.
"Ahhhh mesum banget sih pikiranku!?" gumam Zahra sambil membayangkan hal itu.
"Nggak bisa nih kayak gini terus, aku harus tidur biar nggak memikirkan hal-hal kotor kayak gitu, nihhh benar-benar gara-gara mas ustad, dia sudah membuat otak kecilku terkontaminasi, mana jauh lagi, mau di lampiasin sama siapa? Sama kucing?"
__ADS_1
"Achhhhh!?" Zahra segera menutup tubuhnya dengan selimut dan mematikan lampu kamarnya agar tidak berpikir macam-macam.
Sedangkan di tempat ustad Zaki, ia menatap layar ponselnya yang sudah mati,
"Waalaikum salam!" jawabnya pelan, walaupun mungkin Zahra tidak mendengarnya, ia tetap ingin menjawab salam itu.
Kembali ia tertegun saat menyadari sesuatu, saat mengingat sesuatu. Mengingat pertemuannya kembali dengan gadis itu.
Setelah lima tahun tidak bertemu dan mereka harus di pertemuan kembali dalam keadaan yang berbeda.
Ustad Zaki meletakkan ponselnya di atas meja, ia memilih berjalan ke arah jendela, ada balkon kecil di sana yang langsung mengarah ke pesantren dan jika ia sedikit menyudut, ada jalan raya di sana dan di seberang sana, sebuah rumah yang dulu kerap ia tunggui jendela lantai duanya terbuka.
Astaghfirullah ...., batinnya ia kembali mengalihkan tatapannya ke arah pesantren. Sudah larut malam, tapi beberapa lampu masih terlihat menyala, biasanya jam-jam seperti ini beberapa santri memanfaatkan waktu untuk sekedar bercengkerama dengan teman sekamarnya sebelum beristirahat.
Hampir satu jam ustad Zaki berdiri di situ, menikmati pemandangan kota Bandung dari balkon rumahnya, ia pun memutuskan untuk kembali masuk,
Baru saja berbalik, pandangannya tiba-tiba teralihkan pada lantai dua yang ada di seberang jalan, entah sejak menit ke berapa jendela itu terbuka, dan gadis itu sudah berdiri di sana tengah menatapnya.
Sejenak mata mereka beradu dan dengan cepat ustad saku menundukkan pandangannya. Terlihat seulas senyum menghiasi wajah cantik gadis itu sebelum akhirnya ustad Zaki memutuskan untuk masuk ke dalam kamar dan menutup kembali jendela kamarnya.
Sepertinya benar kata orang, sebuah pernikahan itu akan datang cobaannya di waktu tertentu, dan keutuhannya tergantung bagaimana kesanggupan kita untuk melewati semua cobaan pernikahan itu sendiri.
Tidak ada pernikahan yang benar-benar lempeng hanya ada manisnya saja, sesekali kerikil kecil perlu untuk memperkuat sebuah hubungan.
Tapi kerikil kecil itu akan mampun melukai kaki jika tidak hati-hati, jadi jangan suka meremehkan hal yang meski itu kecil.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
Ig @tri.ani5249
...Happy Reading 🥰🥰🥰...
__ADS_1