
"Mas!"
"Hmm?"
"Itu bukannya Bu Chusna!" ucap Zahra sambil menunjuk ke wanita itu.
"Iya! Itu sama anak kecil!"
"Iya, kita sapa yuk mas!" ajak Zahra, ia pun segera berdiri setelah merasa lebih segar lagi. Ia berlari cepat seolah-olah punya tenaga ekstra.
Seperti sebelumnya, ustad Zaki hanya terus mengikutinya dari belakang.
"Bu Chusna!" sapa Zahra membuat wanita dengan hijab segi empat itu terlihat mencari-cari sumber suara karena suasana taman hiburan cukup ramai. Hingga akhirnya Bu Chusna menemukan sosok Zahra. Senyumnya langsung mengembang,
"Dek, sini!" panggilnya dan anak laki-laki berusia sekitar empat tahun itu berlari mendekati Bu Chusna, Bu Chusna pun menggandeng tangannya dan mengajaknya menghampiri Zahra yang terlihat berdiri sendiri karena ustad Zaki masih berada jauh di belakangnya.
"Assalamualaikum!" sapanya sambil mengulurkan tangannya pada Zahra, memberi pelukan sebentar pada Zahra.
"Bagaimana kamu bisa di sini? Sama siapa?" tanyanya karena belum melihat keberadaan ustad Zaki.
"Itu, sama mas ustad!" ucap Zahra sambil menunjuk ke arah ustad Zaki yang berjalan menghampiri mereka.
"Assalamualaikum, ustad Zaki!" sapa Bu Chusna kemudian saat ustad Zaki sudah berada di belakang Zahra.
"Waalaikum salam Bu Chusna! Dengan siapa?" tanya ustad Zaki balik, ia merasa tidak begitu asing dengan anak kecil yang bersama Bu Chusna.
Bu Chusna tampak terdiam, ia seperti tengah mencari-cari seseorang dan benar saja setelah menemukan yang ia cari, Bu Chusna pun melambaikan tangannya.
"Abi!?" panggilnya dan pria dengan sarung juga peci yang menghiasi kepalanya itu segera mendekat.
Tampak ia begitu terkejut melihat keberadaan ustad Zaki di sana,
"Ustad Zaki?"
Ustad Zaki pun tidak kalah terkejutnya, "Ustad Zein?"
"Iya benar!?" dengan cepat pria itu mengulurkan tangannya dan menarik tubuh ustad Zaki, memberi pelukan sejenak dan kembali melepaskannya, "Sudah lama sekali nggak ketemu sama antum, bagaimana kabarnya?" tanya ustad Zein.
"Alhamdulillah baik ustad!" jawab ustad Zaki sedangkan Zahra dan Bu Chusna hanya saling pandang, mereka tidak menyangka dua pria itu sudah saling kenal.
"Jadi kalian sudah saling kenal?" tanya Bu Chusna kemudian dan ustad Zein pun tersenyum pada Bu Chusna,
"Ustad Zaki ini teman Abi di pondok, ummi!"
"Bukan teman Bu, tapi murid!" ucap ustad Zaki meralat ucapan ustad Zein.
"Ustad Zaki nih terlalu merendah!" ucapnya lagi, kemudian tatapannya beralih pada Zahra yang berdiri di samping ustad Zaki,
"Ini siapa?".tanyanya pada ustad Zaki saat melihat Zahra.
Ustad Zaki pun segera menggandeng tangan Zahra dan mencium punggung tangan Zahra yang bertaut dengan tangannya,
"Dia istri saya, ustad!"
"Barakallah ..., jadi dapat istri orang sini juga ya?."
"Alhamdulillah iya!"
"Bagaimana kalau kita ngobrol berdua, sudah lama kan nggak ngobrol berdua, kangen aku sama obrolan panjang kita dulu!" ucap ustad Zein dan ustad Zaki pun mengangukkan kepalanya.
"Ummi, Abi titip Syakil dulu ya. Abi pengen ngobrol dulu sama kawan lama!"
"Iya bi, kalau gitu aku ke sana sana Zahra ya!" ucap Bu Chusna sambil menunjuk ke tempat bermain anak, karena menurutnya di sana tempat yang paling tepat untuk ngobrol sambil menjaga Syakil.
"Iya, hati-hati!"
Bu Chusna pun akhrinya mengajak Syakil dan Zahra ke taman bermain anak, Zahra tampak langsung akrab dengan Syakil.
"Bagaimana magang kamu?"
"Alhamdulillah, lancar buk!"
"Tinggal satu Minggu lagi kan kalau nggak salah!?"
"Iya!"
__ADS_1
Bu chusna dan Zahra pun terus mengobrol dan sesekali berbaik dengan Syakil.
Kedua pria yang sepertinya sudah lama tidak bertemu itu pun memilih sebuah angkringan sebagai tempat ngobrol sebari di temani dua cangkir kopi panas.
"Kalau nggak salah sudah hampir empat tahun ya kita nggak ketemu!"
"Ya, begitulah ustad!"
"Akhirnya kamu dapat istri di sini, kayaknya kita memang berjodoh!?" ucap ustad Zein.
"Bu Chusna? Bagaimana_, maksudnya bukankah Bu Chusna masih belum menikah?"
"Sudah_!" ucap ustad Zein. membuat ustad Zaki mengerutkan keningnya, "Kami baru menikah sekitar dua Minggu ini!"
Ohhh pantes ....
"Lalu ustadzah Diah?" tanya ustad Zaki kemudian begitu sadar jika sekitar enam tahun yang lalu pria itu sudah pernah menikahi seorang gadis bernama Diah, dia adalah putri dari pengasuh pesantren tempat Zaki menuntut ilmu.
"Diah sudah meninggalkan empat tahun yang lalu saat melahirkan Syakil!"
"Innalilahi wa innailaihi Raji'un, maaf ustad!"
"Tidak pa pa, semua sudah menjadi takdir Allah, kita sebagai hambaNya hanya bisa berencana,"
"Syakil begitu mirip dengan ustad!"
"Semua orang juga mengatakan hal itu!"
Mereka pun lanjut bercerita panjang lebar tentang mereka di masa lalu.
Jika lupa, maka akan author ingatkan lagi ya!
Ustad Zein adalah pria yang tanpa sengaja menjatuhkan brosur pesantren ke kepala ustad Zaki remaja.
Tapi rupanya Allah kembali mempertemukan mereka di kereta saat ustad Zaki berangkat ke jawa timur, mereka pun mulai mengobrol banyak dan menjadi akrab.
Saat itu, ustad Zein adalah salah satu pengasuh pesantren tempat ustad Zaki akan belajar, usia mereka hanya terpaut lima tahun, saat itu ustad Zein sebagai pengasuh termuda.
Kedekatan mereka pun akhirnya berlanjut hingga ustad Zaki lulus dari sana dan di kirim oleh pesantrennya ke salah satu kampung di Blitar yang menjadi tempatnya bertemu dengan Zahra saat ini.
Di tempat lain, terlihat Zahra dan Bu Chusna tidak kalah asyik mengobrol.
Bu Chusna tersenyum mendapatkan pertanyaan seperti itu,
"Apa menurutmu wajah ibuk tampak tertekan, sedih, menderita?"
Zahra pun menggelengkan kepalanya, "Yang Zahra lihat malah sebaliknya, Bu chusna lebih sering tersenyum sekarang!"
"Punya anak itu menyenangkan zah!"
"Tapi bagi yang siap kan buk!"
"Ya kamu benar, kesiapan itu memang sangat penting! Jika memang kamu belum siap, kamu bisa mendiskusikan itu pada suami kamu!"
"Gitu ya buk!?"
"Iya, sekecil apapun komunikasi itu penting, jangan sampai karena kita nggak diskusi dulu malah terjadi miskomunikasi, terjadi salah faham!"
Apa iya ...
Zahra tampak berpikir ulang untuk tidak memberi tahu suaminya tentang pil KB itu.
"Jadi kalau aku merasa belum siap, menurut ibuk suamiku juga tidak akan memaksa?"
"Ya, yang ibu tahu gitu. Apalagi ustad Zaki, ibuk yakin dia cukup bisa diajak kompromi."
Zahra pun mengangukkan kepalanya,
Mungkin benar, aku harus membicarakan ini pada mas ustad bagaimana pun hasilnya, tapi aku pikir benar seperti yang di katakan Bu Chusna, mas ustad bukan tipe pemaksa, yang suka maksa kan biasanya aku ...., Zahra tersenyum sendiri mengingat kelakuannya yang kadang suka bikin jengkel itu.
"Kenapa senyum sendiri gitu?" tanya Bu Chusna yang ternyata menyadari Zahra tengah tersenyum sendiri.
"Nggak buk, Nggak pa pa. Oh iya buk Zahra jadi penasaran gimana ceritanya bisa nikah sama tuh ustad duda, ganteng lagi kayak orang Arab!"
Bu Chusna tersenyum, "Jodoh itu emang indah Zahra, datangnya nggak di sangka-sangka!"
__ADS_1
"Maksudnya?"
"Di saat aku sibuk mencoba mengenal ustad Zaki, ternyata orang tua ibuk sudah mempunyai calon yang mungkin tidak kalah baiknya dengan ustad Zaki!"
"Kami tanpa sengaja di pertemukan di acara nikahan teman ibuk, saat itu ustad Zein tengah mengisi pengajian di sana, kami berkenalan tapi saat itu ibuk bahkan tidak tahu kalau orang tua ibuk sudah berencana menjodohkan ibuk dengan seseorang!"
"Trus gimana?"
"Sempet ibuk menolak, tapi karena ibuk nggak mau durhaka sama orang tua, akhrinya ibuk pun setuju, dan kamu bertemu lagi."
"Jadi ibuk langsung setuju?" tanya Zahra penasaran dan Bu Chusna pun menganggukkan kepalanya.
"Meskipun ibuk tahu ustad Zein sudah punya anak?"
"Iya!"
Saat Zahra akan bertanya lagi, ustad Zaki dan ustad Zein sudah lebih dulu menghampiri mereka,
"Sudah malam, bagaimana kalau kita pulang sekarang." ajak ustad Zein pada Bu Chusna.
"Baiklah, bentar ya bi, aku panggil Syakil dulu!"
Bu chusna masuk ke tempat bermain anak,
"Syakil, yuk pulang nak!" ajak Bu Chusna pada anak laki-laki itu dan anak laki-laki itu langsung berhambur memeluk Bu Chusna, mereka sudah tampak begitu akrab.
"Saya nggak nyangka kalau ustad Zaki bisa nikah sama murid istri saya, senang kenal sama dek Zahra!" ucap ustad Zein pada Zahra.
"Zahra juga senang ustad! Sering-sering aja begini!"
"Insyaallah kita bisa sering-sering bertemu setelah ini karena saya juga akan menetap di sini!" ucap ustad Zein.
"Ya sudah, kami pulang dulu ya," ucapnya lagi saat Bu Chusna sudah kembali dengan syakil.
"Hati-hati di jalan, ustad!" ucap ustad Zaki sambil menarik bahu Zahra hingga tidak ada jarak lagi antara mereka.
"Assalamualaikum!"
"Waalaikum salam!"
Zahra dan ustad Zaki masih setia melihat kepergian keluarga yang tampak begitu bahagia itu,
"Seneng ya lihat mereka!?" ucap ustad Zaki kemudian.
"Iya, mereka terlihat begitu bahagia!"
"Iya. Mas sudah nggak sabar bisa punya keluarga lengkap seperti itu. Nggak kebayang bagaimana nanti saat kita punya makhluk-makhluk kecil yang lucu!"
Kayaknya mas ustad berharap banget aku segera punya anak, bagaimana bisa aku mengatakan tentang pil KB itu? Apa dia akan terima? Usianya sudah mapan untuk mempunyai anak, sedangkan aku_, bagaimana ini?
"Dek, kamu kenapa? Nggak sakit kan?" tanya ustad Zaki saat melihat wajah sang istri yang tiba-tiba muram.
"Nggak mas, ayo pulang. Zahra capek!"
"Ayo, biar mas gendong ya!" ucap ustad Zaki yang langsung mengangkat tubuh Zahra ke dalam gendongannya.
"Ya ampun mas, nggak usah!?"
"Nggak pa pa, dek!"
"Tapi mas ustad nanti kecapekan!"
"Siapa bilang, jangankan cuma gendong sampai motor, sampai rumah aja mas bisa!"
Mereka terus saja berdebat sampai ke tempat parkiran. Ustad zaki seolah tidak peduli dengan tatapan orang-orang.
...Mungkin memang begitu banyak yang aku pertimbangkan, begitu banyak pilihan dan begitu banyak harapan, tapi aku yakin kamulah satu-satunya yang menjadi pilihanku, harapanku....
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga yang banyak biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
__ADS_1
Ig @tri.ani5249
...Happy reading 🥰🥰🥰...