Menikahi ustad tampan

Menikahi ustad tampan
Ternyata Mertua


__ADS_3

Bukannya menjawab, Zahra memilih meraih tangan ustad Zaki dan mencium punggung tangannya membuat dua orang itu saling pandang kebingungan.


"Tadi Zahra beli ini," ucapnya sambil menunjukkan bungkusan plastik kecil yang berisi obat-obatan milik bapaknya. Ia yakin dengan menunjukkan obat itu, ustad Zaki tidak akan marah padanya.


Srekkkk


Tiba-tiba ustad Zaki menarik tubuh zahra ke dalam pelukannya, Zahra tidak mencoba untuk melepaskan pelukannya itu. Ia tahu jika ustad Zaki melakukan itu, tandanya ia tengah marah padanya.


"Zaki!?" suara berat nan keras itu berhasil membuat ustad Zaki melepaskan pelukannya, sepertinya karena terlalu panik ia lupa dengan dua orang yang ada di antara mereka.


"Ini apa-apaan?" tanya pria itu, pria itu tidak kalah tampan dengan ustad Zaki, hanya saja usianya yang lebih tua. Mungkin jika masih muda, dia akan setampan ustad Zaki sekarang.


"Abi, umi!"


Abi, umi, apa itu artinya mereka orang tua mas ustad? Zahra masih mencoba mencerna apa yang tengah terjadi.


"Ini sebenarnya ada apa?" tanya wanita yang di panggil umi oleh ustad Zaki.


"Sebaiknya kita masuk, Abi, umi. Kita bicara di dalam, kasihan dek Zahra capek. Biarkan dia berbersih dulu!"


Akhirnya mereka pun memutuskan untuk membicarakan hal ini di dalam, atas perintah ustad Zaki, Zahra pun masuk ke kamarnya untuk mengganti baju.


"Dia siapa?" tanya wanita yang di panggil umi oleh ustad Zaki itu.


"Dia istri Zaki, umi, Abi. Bukankah waktu itu Zaki sudah mengirimkan foto pernikahan kami!"


Dia orang itu tampak saling pandang,


"Tapi anak SMA? Benarkah?" tanya wanita itu lagi, ia pun segera mengambil ponselnya dan membuka galeri foto, memastikan jika gadis yang baru saja ia lihat sama dengan yang ada di foto.

__ADS_1


"Kalau dilihat-lihat sih memang mirip!"


"Bukan mirip umi, tapi memang dia."


Kali ini pria berkumis itu tampak memperhatikan putranya dengan tatapan penuh selidik,


"Kamu nggak berbuat aneh-aneh kan sama gadis itu, sampai di minta untuk menikahi gadis itu kan?"


"Astagfirullah Abi, Zaki masih takut sama Allah, abi. Bagaimana bisa Abi berpikir seperti itu sama Zaki!"


"Ya kan Abi hanya berjaga-jaga, abi takut kamu bikin malu di sini."


"Insyaallah, Zaki akan tetap menjaga nama baik abi dan umi."


"Syukurlah!"


Tok tok tok


"Assalamualaikum dek, mas boleh masuk nggak?"


Zahra hafal dengan suara itu, ia dengan cepat menghampiri pintu dan membukakannya dari dalam, meskipun tidak di kunci ia tahu jika suaminya itu tidak akan berani masuk tanpa persetujuan dari dirinya.


"Waalaikum salam!" Zahra segera berjalan meninggalkan pintu setelah pintu terbuka. Ustad Zaki segera masuk dan menutup kembali pintu nya.


Ia menghampiri Zahra yang sudah duduk di tepi tempat tidur,


"Dek, kamu marah ya sama mas?" tanyanya yang sudah ikut duduk.


"Mas ustad kenapa nggak ngomong sih kalau orang tua mas ustad akan datang?"

__ADS_1


Ustad Zaki segera menggenggam tangan Zahra membuat Zahra menatap ke arahnya,


"Tadi rencananya mas mau bilang saat mas jemput kamu sekolah."


"Tapi kan mas ustad bisa ngomong pas berangkat sekolah, lagi pula Zahra kan juga bawa ponsel kenapa_?" Zahra segera menghentikan ucapannya karena ia sendiri yang salah soal itu, ia sengaja mematikan ponselnya agar ustad Zaki tidak bisa menghubunginya.


"Kenapa ponselnya mati?"


"Zahra lupa belum cas ponselnya makanya mati. Masalahnya bukan itu, kenapa tidak bilang tadi pagi?"


"Maaf, mas juga nggak tahu. Tadi pagi soalnya Abi sama umi cuma bilang kalau ada paket, makanya mas ambil di bandara, tapi ternyata mereka yang harus mas jemput. Dek Zahra nggak marah kan sama mas?"


"Mau gimana lagi, sudah terlanjur juga."


"Ya sudah, mas ke masjid dulu sama Abi, dek Zahra nggak pa pa kan sama umi di rumah? Umi orangnya enak kok di ajak bicara, nanti dek Zahra pasti suka."


"Hmmmm!" walaupun tidak benar-benar siap di tinggal sendiri dengan orang asing yang tiba-tiba menjadi mertuanya, tapi mau gimana lagi ia juga tidak mungkin menolaknya.


"Ya udah, mas siap-siap dulu!" ustad Zaki pun mengusap kepala Zahra dam berdiri meninggalkannya. Ia mengambil satu dan pecinya, mengganti celana panjangnya dengan celana pendek dan sarung. Zahra hanya bisa terus memperhatikan pria yang sudah berstatus sebagai semuanya itu.


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya


IG @tri.ani5249


...Happy Reading 🥰🥰🥰🥰...

__ADS_1


__ADS_2