
Anwar terdiam mendengar ucapan dari ustad Zaki, tapi bibir tipisnya tersenyum. Senyum itu tampak mengandung luka.
"Hahhhh ...!" Anwar menghela nafas dan kembali bicara, "Hebat ya, benar-benar hebat."
Srekkkk
Tiba-tiba ia berdiri dari duduknya hingga membuat kursinya tergeser dengan keras membuat ustad Zaki terkejut, ia juga siap melayangkan tinjuan ke wajah ustad Zaki, beruntung ustad Zaki dapat segera menangkisnya.
Imron dan Zahra pun hampir saja menghampiri mereka, tapi segera ia urungkan begitu ustad Zaki bisa mengendalikan situasi.
"Apa yang kamu lakukan?" tanya ustad Zaki yang masih menggengam pergelangan tangan Anwar.
"Aku tidak tahu jika telah meninggalkan Imah pada pria sepertimu!?" ucapnya dengan penuh amarah, "Jika saja aku tahu kamu lebih memilih wanita lain, aku pasti akan tetap memperjuangkannya!" kali ini ucapannya terlihat sedikit melemah dan penuh penyesalan.
"Maaf, tapi sungguh aku tidak bisa memberikan hatiku pada Imah. Aku sudah menjadi suami dari seorang wanita yang duduk di sana!" ustad Zaki menunjuk ke arah Zahra dan Anwar pun mengikuti arah telunjuk ustad Zaki.
Zahra yang merasa di perhatikan mengangukkan kepalanya menyapa.
Anwar melunakkan tangannya hingga ustad Zaki melepaskan genggamannya, pria itu kembali duduk di tempatnya dengan wajah frustasi.
Ustad Zaki pun memberi kesempatan pada Anwar untuk menenangkan diri sesaat sebelum ia kembali berbicara.
Hingga beberapa menit kemudian, ustad Zaki mulai kembali pembicaraan mereka,
"Apa kamu tahu kalau Imah hamil?"
Pertanyaan itu seperti kembali membangunkan singa yang tengah tertidur,
"Maksud kamu Imah_?" Anwar tidak sanggup melanjutkan pertanyaannya.
"Ya! Imah hamil, aku harap Imah hamil dengan kamu!?"
"Jadi Imah benar hamil?!" terlihat sekali saat ini pria itu tengah dilema, sedih sekaligus bahagia bercampur menjadi satu, "Apa yang harus aku lakukan sekarang?"
"Jika benar kamu ayah dari bayi yang di kandung Imah, bukankah sebaiknya kamu mengakuinya dan bertanggung jawab atas bayi itu?!"
__ADS_1
"Apa Imah bersedia_?"
"Tidak ada pilihan lain!"
***
Kisah Imah dan Anwar bermula.
Bukanlah sebuah kebetulan, Imah adalah gadis yang cukup cerdas tapi nyatanya rasa kagumnya telah membutakan hatinya.
Imah yang begitu mengagumi ustad Zaki, mengharapkan sosok itu menjadi pasangannya kelak nyatanya takdir berkata lain, ustad Zaki berjodoh dengan wanita lain.
Untuk menghilangkan rasa kesalnya, ia kerap melampiaskan dengan membaca berbagai macam buku, selain perpustakaan tempat yang kerap ia kunjungi adalah toko buku.
Karena terlalu banyak buku yang sudah ia baca, ia sampai bingung harus memilih buku yang bagaimana lagi, ia hanya terus mengambil dan mengembalikan buku yang sudah ia pilih,
"Mau cari buku apa?" pertanyaan dari seseorang yang tengah membantunya mengambil buku yang cukup tinggi itu seakan mengalihkan dunianya, pria yang begitu mirip dengan seseorang yang sangat ia kagumi.
"Ustad Zaki!?" gumamnya pelan dan beberapa saat kemudian ia segera menggelengkan kepalanya begitu menyadari pria di depannya bukan pria yang ia maksud,
"Maaf!?"
Pria itu segera mengambil sebuah bolpoin di saku kemejanya dan menulis sesuatu di buku yang berada di tangan Imah,
"Itu nomor telpon ku, jika kamu keberatan memberi tahu nama kamu sekarang, nanti bisa kirimkan nama kami via pesan."
Anwar pun hampir saja berlalu tapi Imah segera memanggilnya,
"Ehhh tunggu!?"
Anwar tersenyum dan berbalik, "Apa sudah berubah pikiran? Siapa nama kamu?"
"Bukan, buku ini. Aku_!"
"Buku itu gratis untukmu!" ucapnya lalu benar-benar berlalu meninggalkan Imah.
__ADS_1
Tapi pertemuan itu menjadi awal dari pertemuan-pertemuan mereka selanjutnya, Imah jadi sering ke toko buku itu bahkan Anwar juga kerap menjemput Imah di kampus.
Hingga malam yang seharusnya tidak terjadi itu akhirnya terjadi juga, saat itu Imah tengah ada acara mengisi sebuah pengajian sebagai qori dan ternyata pengajian itu dekat tempat tinggal Anwar, awalnya Imah yang ingin singgah sebentar di tempat Anwar.
Tapi rupanya hujan turun lebat, membuat Imah tidak bisa kembali tempat yang disediakan oleh panitia untuk menginap dan mereka berakhir dengan bermalam bersama.
Tapi semejak malam itu, Imah malah menjauhi Anwar, ia bahkan tidak mau bertemu atau membalas pesan dari Anwar. Berkali-kali Anwar berusaha menemui Imah tapi Imah selalu menolaknya,
Hingga akhirnya Imah mengatakan alasan kenapa ia mau dekat dengan Anwar, semua karena Anwar mirip dengan pria yang ia sukai.
Semejak hari itu Anwar pun memutuskan untuk kembali ke kampung halamannya, bahkan sebelumnya ia sudah berharap bisa membangun rumah untuk pasangannya kelak, tapi kenyataan berkata lain.
Anwar mulai mengalihkan pikirannya dengan menjalani kehidupan malam. Anwar yang ceria tiba-tiba berubah menjadi Anwar yang tertutup dan dingin.
***
Tidak menunggu lusa, sore ini juga mereka bertiga langsung kembali ke Blitar.
Zahra masih penasaran dengan kelanjutannya,
"Trus bagaimana? Apa Anwar bersedia untuk tanggung jawab?" tanya Zahra dan ustad Zaki tersenyum padanya, tangannya terus mengusap punggung tangan istrinya itu. Seakan tidak ingin melepaskan genggaman tangannya.
Imron dan pak Dul yang duduk di depan memilih mengobrol sendiri dari pada iri dengan pasangan yang duduk di belakang.
"Mas, aku tanyanya serius!?" protes Zahra sambil menarik tangannya, tapi ustad Zaki tidak mau kalah ia segera menarik pinggang Zahra hingga tubuh mereka begitu dekat.
"Nanti dek Zahra juga tahu sendiri."
"Kebiasaan!?" ucap Zahra pura-pura kesal.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
__ADS_1
Ig @tri.ani5249
Happy Reading 🥰🥰🥰