
"Baiklah, jadi yang pertama_!" ustad Zaki sengaja memberi jeda pada ucapannya sebelum kembali melanjutkan.
Terlihat Zahra begitu menunggui kelanjutannya, pasti para reader pun juga demikian😁. Sengaja biar semakin penasaran.
"Jadi_?" tanya Zahra memancing ucapan sang suami.
"Jadi yang pertama karena Bayu!"
Kenapa bawa-bawa Bayu! batin Zahra tidak terima karena pembicaraannya mengenai Bayu sudah ia anggap selesai.
"Kenapa Bayu?" akhirnya Zahra memberanikan bertanya, ia bahkan sampai hampir saja bangun dari pangkuan sang suami tapi segera di tahan lagi.
"Mas takut ada Bayu, Bayu lain yang mencoba merayu, mempengaruhi atau mencoba mengambil dek Zahra dari mas."
"Maksudnya? Mas cemburu sama Bayu?"
Ustad Zaki tersenyum dan menganggukkan kepalanya membuat Zahra mengerutkan keningnya heran,
"Heran..., kenapa nggak ada gengsi-gengsinya sih!?" gerutu Zahra membuat ustad Zaki semakin tertawa.
"Kenapa malah ketawa? Memang ada yang lucu?" protes Zahra, kali ini ia benar-benar bangun dan duduk bersila, berhadapan dengan ustad Zaki.
"Ya apa salahnya mengakui perasaan kita pada orang yang kita cintai, memang dek Zahra nggak gitu?"
Zahra malah terdiam dan tampak berpikir, jika pun ia dia sudah menyadari perasaannya pastilah ia tidak akan segamblang itu mengatakannya.
"Ya_, ya mungkin saja!" ucap Zahra bingung.
"Baiklah, jadi intinya yang pertama mas nggak mau kamu pindah ke lain hati, baik itu ke Bayu atau siapapun lagi."
Ya ampun, posesif sekali ..., Zahra sampai memicingkan matanya tidak mempercayai apa yang ia dengar, padahal seharusnya sebaliknya. Siapa yang tidak mengagumi sosok ustad Zaki yang tampan, pintar dan Sholeh, banyak wanita bahkan rela untuk dijadikan istri ke dua ataupun ke tiga, seharusnya Zahra yang berpikir seperti itu. Seharusnya Zahra yang merasa takut jika nanti seseorang akan mengambil suaminya dari nya.
"Kenapa? Nggak percaya?"
"Ya aneh aja!" jawab Zahra dengan polosnya sambil mengangkat kedua bahunya.
"Aneh kenapa?"
"Aneh karena seharusnya Zahra yang takut mas ustad di gondok orang, buktinya kemarin aja Imah sampai rela nyembunyiin bapak dari anaknya demi bisa mendapatkan mas ustad. Itu masih satu dari beratus-ratus pengagum mas ustad, kalau Zahra mah untung aja ada Bayu yang mau jadi pacar Zahra."
"Mantan pacar, dek!"
"Iya, maksudnya itu!"
Gitu aja protes ..., batin Zahra sambil menatap kesal pada sang suami.
"Trus sekarang yang ke dua apa?" tanya Zahra lagi begitu ingat masih ada yang ke dua.
"Yang kedua ya!?" ustad Zaki malah tampak menghela nafas berat.
"Kenapa?" tanya Zahra lagi melihat ekspresi wajah sang suami yang seketika berubah.
Ustad Zaki pun segera menatap Zahra dengan tatapan yang dalam, sekali lagi ia memghela nafas,
"Dek,"
__ADS_1
"Hmmm, kenapa?" tiba-tiba perasaan Zahra berubah tidak enak.
"Kemarin kyai Hasyim telpon mas!"
"Iya, Zahra tahu!" jawab Zahra dengan begitu yakin hingga ia teringat sesuatu, "Kenapa? Apa kyai Hasyim juga ingin putrinya di nikahi sama mas ustad kayak kyai Rosyid?" Zahra semakin cemas menunguung jawaban ustad Zaki.
"Astaghfirullah dek!" ustad Zaki malah beristigfar.
"Kenapa mas? Jadi bener? Trus mas mau?" Zahra langsung memberomdongi suaminya dengan pertanyaan yang bertubi-tubi.
"Apaan sih dek, enggak. Anak kyai Hasyim kan cowok dek. Masak mas nikah sama cowok!?" ustad Zaki hanya bisa menggelengkan kepalanya.
Zahra yang teringat dengan hal itu hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "Ahhh iya ya, kenapa bisa lupa!?"
"Memang dek Zahra mau mas nikah sama cowok?" tanya ustad Zaki dan Zahra segera berkacak pinggang dengan mata yang bulat sempurna.
"Memang masih punya rencana buat nikah lagi?" tanyanya membuat ustad Zaki kehilangan nyali.
"Nggak dek, mas kan cuma seandainya!"
"Tadi nggak ada kata seandainya, perasaan!"
Astaghfirullah hal azim, salah ngomong lagi aku ...., batin ustad Zaki.
"Iya maaf, tadi kayaknya mas khilaf!"
Zahra mengerucutkan bibirnya sambil melipat kedua lengannya di depan dada.
"Maaf ya dek!" ustad Zaki segera meraih bahu sang istri dan kembali minta maaf, "Janji mas nggak akan macam-macam!"
Tunggu ..., tunggu ...., kayaknya yang kedua belum di sebutkan....
Zahra pun kembali duduk hingga membuat ustad Zaki menggeser duduknya,
"Ada apa dek?" Nggak jadi ngambeknya? lanjutnya hanya berani dalam hati.
"Jangan pura-pura lupa ya, tadi kyai Hasyim ngapain?" tanya Zahra lagi.
Ustad Zaki pun sama, ia juga menurunkan kakinya hingga kini mereka duduk bersebelahan hingga Zahra tidak bisa melihat ekspresi wajah sang suami.
"Mas harus gantiin kyai Hasyim buat seminar, dek!"
"Ya gantiin aja mas, biasanya mas ustad juga jadi pembicara di seminar. Lalu apa hubungannya dengan kita semalam?" tanyanya sedikit malu-malu membahas apa yang mereka lakukan tadi malam.
"Yang jadi masalah seminarnya di luar kota, dek. Dan mas butuh waktu sekitar dua Minggu untuk di sana!"
Zahra langsung terkejut, "Memang selama ini, luar kotanya mana sih?"
"Bandung!"
"Pulang kampung dong mas ustad? Ketemu sama ummi sama Abi dong?"
"Iya,"
"Yahhhhh!?"
__ADS_1
"Mas sebenernya pengen ngajak dek Zahra, tapi kan sekolah dek zahra_, apa lagi magangnya baru akan dimulai, mas nggak mungkin minta ijin sama bos di tempat magang dek Zahra!"
"Trus Zahra gimana dong?"
"Mas sudah bilang sama bapak dan ibuk buat nitipin dek Zahra dan mereka setuju!"
"Kenapa nggak kyai Hasyim aja sih yang pergi!?" protes Zahra, ia benar-benar tidak ikhlas di tinggal pergi suaminya.
"Anak pak kyai masuk rumah sakit dek, kena demam berdarah!"
"Hehhhhh!" Zahra menghela nafas kesal, padahal baru aja gituan, masak mau di tinggal aja ...
Ustad Zaki menarik.tubhh Zahra ke dalam pelukannya,
"Mas juga berat dek. Apa mas batalin aja ya, mas minta kyai Hasyim buat cari pengganti!?"
Zahra menggelengkan kepalanya yang berada di dalam pelukan sang suami,
"Jangan mas, nanti dikira mas nggak tanggung jawab lagi!"
"Tapi berat banget ninggalin dek Zahra sendiri." ustad Zaki pun sebenarnya tidak ingin meninggalkan Zahra sendiri.
"Nggak pa pa, hanya dua Minggu kan, Zahra pasti bisa!"
"Mas nggak yakin mas sanggup jauh dari dek Zahra!"
"Jangan lebay deh!?"
"Kok gitu sih dek!?" protes ustad Zaki.
"Becanda. Nanti di Bandung mas ustad menginap di mana? Di hotel ya? Pasti banyak cewek cantik yang bakal menggoda mas ustad."
"Jangan memikirkan kemungkinan yang tidak mungkin terjadi dek, kamu terlalu jauh mikirnya!?"
"Ya kan mas ustad ganteng!?"
Ustad Zaki tersenyum dan mencondongkan tubuhnya pada zahra, "Akhirnya kamu mengakui kalau mas ini ganteng ya!?"
"Kan memang dari dulu,"
"Kalau gitu bagaimana kalau kita lanjut ronde ke tiga?"
"Hahhh?"
Belum selesai rasa terkejutnya tubuhnya sudah beralih ke gendongan sang suami.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga yang banyak biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
IG @tri.ani5249
...Happy Reading 🥰🥰🥰...
__ADS_1