
Pagi ini ustad Zaki sengaja mengajak Zahra pergi ke klinik yang di maksud, klinik milik kenalan abinya. Sengaja ustad Zaki mengajak Zahra ke Bandung sebenarnya tujuan utamanya untuk melakukan pemeriksaan, bukan karena di Blitar tidak ada dokter yang bagus, di sana juga banyak dokter yang bagus hanya saja ustad Zaki sudah terlanjur percaya pada dokter pilihan Abi.
"Zahra mau di periksa apanya mas?" tanya Zahra sebelum turun dari mobil, ustad Zaki yang tengah mematikan mesin mobil segera menoleh pada istrinya dan tersenyum. Ia meraih tangan sang istri dan mencium punggung tangannya.
"Jangan takut ya, mas akan terus nemenin dek Zahra nanti!"
"Siapa yang takut, Zahra kan cuma nanya tadi!"
Ustad Zaki kembali tersenyum dnagn jawaban ceplas ceplos Zahra, ia sudah mulai mengenal istrinya. Meskipun tidak mengatakannya ia bisa melihat kecemasan di wajah sang istri.
"Nanti yang di periksa perut dek Zahra karena akhir-akhir ini dek Zahra sering sakit perut kan, trus pas haid juga sakit kan?"
"Ohhh iya, ngomongin haid kok aku kayaknya sudah kelewat tanggal ya, jauh lagi!?"
"Nggak pa pa, mungkin pengaruh hormon. Ya sudah ayo turun. Jangan sampek kesiangan kan kita mau beli oleh-oleh juga buat bapak dan ibuk, buat nur juga!"
"Iya mas!?"
"Bentar ya mas turun dulu,"
Ustad Zaki dengan cepat turun dari mobil dan berlari mengitari mobil, ia segera membukakan pintu mobil untuk Zahra.
"Terimakasih mas!" ucap Zahra sambil menyambut uluran tangan sang suami.
"Sama-sama!"
Setelah memarkirkan mobilnya, mereka pun segera menuju ke tempat praktek dokter kenalan Abi. Karena ustad Zaki sudah melakukan janji terlebih dulu, jadi mereka Tidka perlu antri terlalu lama, nama Zahra langsung di panggil setelah menunggu lima belas menit.
Seperti biasa, ustad Zaki ikut menemani Zahra masuk ke ruang pemeriksaan, saat dokter melakukan pemeriksaan sesekali Zahra menatap suaminya, sepertinya ia mulai mencurigai sesuatu.
"Dok, apa ada sesuatu di perutku?" tanya Zahra pada dokter wanita yang tengah memeriksanya dan dokter itu tersenyum.
"Nanti ya, kalau sudah waktunya suaminya mbak Zahra akan kasih tahu!"
Mendengar jawaban dari sang dokter, Zahra kembali menatap sang suami dan sekali lagi sang suami hanya tersenyum menenangkan dang mengecup punggung tangannya.
Setelah melakukan pemeriksaan selama lima belas menit, sama seperti beberapa waktu lalu, ustad Zaki meminta Zahra menunggu di luar selagi ia mengobrol dengan dokter.
"Ya udah, aku lapar. Jadi aku cari kantin tidak pa pa ya mas!?"
"Tapi janji jangan jauh-jauh ya, pegang terus hpnya agar mas mudah carinya!"
"Iya mas, assalamualaikum!" Zahra segera mencium punggung tangan sang suami.
"Waalaikum salam!"
Walaupun sebenarnya tidak tega membiarkan Zahra berkeliaran sendiri, tapi masih ada yang harus ia bicarakan dengan dokter. Ia pun terpaksa kembali masuk.
__ADS_1
"Masih bisa kan dok, setidaknya di pertahankan sampai dua Minggu ke depan?" tanya ustad Zaki terlihat serius.
"Sebenarnya bisa, asal Zahra nya bisa menjaga gerak dan pola makannya!"
"Apa tidak ada cara lain?"
"Ada,"
"Apa dok?"
"Sampai pemeriksaan selanjutnya, Zahra harus rutin minum obat. setidaknya bisa sedikit membuatnya bertahan!"
"Baik dok!"
"Tapi Zak, kamu harus ingat, segera beritahukan keadaan ini pada Zahra, jangan sampai nanti kamu malah menyesal!"
"Iya dok pasti, insyaallah tidak sampai pemeriksaan selanjutnya saya akan memberitahu istri saya!"
"Baguslah, saya tunggu kabar baiknya. Jika tidak memungkinkan untuk di sini, saya akan rekomendasikan salah satu dokter yang ada di Blitar atau di Malang! Insyaallah mereka cukup berpengalaman dalam menangani kasus seperti ini!"
"Baik dok, kalau begitu saya permisi. Assalamualaikum!"
"Waalaikum salam!"
***
Zahra sudah berada di kafe yang bersebelahan dengan klinik karena ia tidak menemukan kantin di dalam klinik jadi ia terpaksa keluar.
"Ini ada roti, apa roti aja ya!?" yang di maksud roti adalah burger, Zahra bukan pecinta makanan modern. Ia lebih suka makan bakso, mie ayam atau lalapan, baginya makanan-makanan seperti itu lebih mengenyangkan.
"Aku pesen ini aja deh mbak, Sam minumnya coklat panas aja!"
"Baik teh, mohon tunggu sebentar ya teh!" ucap seorang pelayan kafe.
Sembari menunggu pesanannya, untuk mengusir rasa bosannya Zahra mengedarkan pandangannya dan tanpa sengaja manik matanya menangkap sosok yang cukup ia kenal.
"Kebetulan sekali," ucapnya sambil tersenyum, Zahra pun segera berdiri dari duduknya dan menghampiri kursi yang ada tidak jauh dari tempatnya duduk sepertinya dia juga baru datang sehingga tidak menyadari keberadaan Zahra.
"Assalamualaikum ustad Farid!" sapa Zahra dengan senyum ringannya.
Tumben nih anak panggilnya bener ....,
"Waalaikum salam, Zahra!?" jawab ustad Farid dengan senyum yang tidak kalah ringan. Ia pun melihat ke sekeliling dan tidak menemukan ustad Zaki bersama Zahra,
"Kamu kabur?"
Zahra pun mengerutkan keningnya, "Kok gitu sih nanyanya!?"
__ADS_1
"Zaki mana?"
"Mas ustad masih di klinik sebelah?"
"Dia sakit?"
"Enggak!"
"Nganter orang sakit?"
"Enggak!"
"Kalau di tanya orang tua itu yang bener jawabnya, jangan enggak enggak aja!?"
"Cie cie ..., yang sudah mengakui kalau sudah tua!?"
"Astaghfirullah hal azim! untung istrinya Zaki, kalau enggak_!?" ucap ustad Farid sambil mengelus dadanya.
"Kok marah sih, padahal Zahra kan nggak salah!?"
"Emang nggak salah, tapi pedes banget!"
"Apanya?"
"Mulutnya!"
Zahra hanya mencebirkan bibirnya dengan ucapan ustad Farid.
"Sudah nggak usah muter-muter, sekarang jelasin gimana ceritanya bisa kedampar di klinik!"
"Emang paus kedampar."
"Terserahlah gimana ngomongnya,"
"Jadi yang di periksa tuh Zahra, ustad."
"Kamu sakit?"
Zahra pun menggelengkan kepalanya.
Bersambung
Maaf ya kakak-kakak kalau akhir-akhir ini up nya nggak teratur, tolong di maklumi karena ada dedek bayi, terpaksa nulisnya nunggu kalau dedek bayi nya lagi tidur, terimakasih atas pengertiannya🙏🙏🙏🙏
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
__ADS_1
Ig @tri.ani5249
...Happy reading 🥰🥰🥰...