
"Sudah tahu kisah antara ustadzah Nafis dan Zaki?" tanya ustad Farid tapi sepertinya kali ini ia sedikit kesleyo lidahnya.
Dan kali ini Zahra yang terkejut, ia menurunkan bukunya dengan perlahan,
"Maksudnya?"
Ustad Farid segera mengalihkan wajahnya, ia terlihat bingung mencari alasan,
"Emmm, bukan apa-apa. Aku hanya sok tahu saja!"
Tapi bukan Zahra namanya jika tidak kepo, ia merangkak dan mengikuti setiap gerakan yang di lakukan ustad Farid,
"Jangan begitu, nanti di kira kita ngapa-ngapain lagi, hussttt ..., husssttt!"ustad Farid mengibaskan tangannya, "Sana agak jauhan!"
"Memang kita lagi ngapa-ngapain!?" ucap Zahra dengan entengnya.
"Astaghfirullah hal azim!!!! Apaan sih, jangan sembarangan ya kalau ngomong, jangan Sampek ada yang salah faham!" ustad Farid terus saja berusaha menghindar tapi Zahra tetap tidak mau menyerah.
"Yeeee, nggak mungkin lah. Gantengan mas ustad ku dari mana-mana!"
"Tapi kerenan aku ya, enak aja kalau ngomong. Gini-gini aku banyak yang ngantri buat di jadiin istri!"
"Tapi kok nggak nikah-nikah Sampek sekarang?"
"Ya memang aku belum mau aja!"
"Belum mau apa belum laku?????"
"Nih anak ya!?" ustad Farid benar-benar tidak terima dengan ledekan Zahra.
"Sudah ah, kembali ke topik pembahasan."
"Nggak mau, aku banyak urusan!" ucap ustad Farid yang sudah hendak meninggalkan Zahra. Ia tidak mau sampai keceplosan lagi.
__ADS_1
"Ustad, awas ya. Satu kali lagi melangkah pergi. Zahra akan memeluk ustad Parid dari belakang."
Ucapan Zahra berhasil membuat langkah ustad Farid terhenti.
Ya Allah, nih anak akalnya banyak banget sih ..., di lain waktu jangan sampai Engkau pertemukan hambaMu ini dengan makhluk yang sama seperti dia, ya Allah aku bisa mati berdiri ....
Ustad Farid bingung harus berbuat apa sekarang, mau pergi takut Zahra nekat memeluknya dan sudah pasti akan timbul fitnah yang besar dan kalau berhenti, ia akan di hadapkan dengan masalah besar juga,
Ya Allah ini menyangkut hidup teman saya ya Allah, jangan biarkan lidah ini keseleo sekali lagi ya Allah, hamba mohon ....
Akhrinya ustad Farid pun menghela. nafas, lebih tepatnya tengah mempersiapkan diri untuk bicara dengan Zahra,
Bismillahirrahmanirrahim ...
Setelah membaca basmallah dalam hati, ia pun membalik tubuhnya dan rupanya tidak seperti yang tengah ia bayangkan, Zahra tidak tengah menatapnya dnagn serius tapi ia tengah membaca novel itu dengan lebih serius.
Hehhhh, Alhamdulillah ...., ustad Farid bernafas lega, ia pun berbalik dan hendak melangkah kembali.
"Mau ke mana ustad?" pertanyaan itu kembali menahan kakinya.
Ya Allah mimpi aku aku semalam ....
Ustad Farid pun tidak ada pilihan lain selain kembali berjalan mendekati Zahra, ia berdiri di depan Zahra sambil melipat kedua tangannya di depan dada,
"Ada apa?"
"Isssttttt!?" Zahra mendesis, ia menutup kasar buku yang ada di tangannya setelah memberi pembatas pada akhir halaman yang ia baca, ia pun berdiri dan menatap ustad Farid.
"Jangan menatapku seperti itu, bukan muhrim!" hardik ustad Farid dan Zahra pun mengalihkan tatapannya ke tempat lain.
Dia nggak nangis? Aku kira dia akan nangis Bombay ...., batin ustad Farid saat melihat ketegaran Zahra meskipun ia sudah membaca sebagian kisah masa lalu suaminya. Meskipun di dalam novel itu tidak menggunakan nama aslinya.
"Jadi novel yang di tulis ustadzah Nafis adalah kisah masa lalu ustadzah Nafis dengan mas ustad?" tanya Zahra kemudian.
__ADS_1
"Sebaiknya kita duduk dulu, bicara dengan suasana yang tenang!?"
"Memang menurut ustad sekarang saya terlihat tidak tenang, terlihat marah, atau terlihat sedih?" tanya Zahra dengan begitu tegar.
"Bukan, kamu terlihat baik-baik saja! Baiklah, maaf jika aku lancang. Sebenarnya ini bukan ranah saya bicara, sungguh. Tapi itu hanya masa lalu, dan masa depan Zaki ada padamu. Jadi jangan di pikirkan lagi. Memang di bab-bab awal banyak menceritakan tentang surat-surat yang di kirim Zaki untuk ustadzah Nafis, tapi itu saat Zaki masih SMA, bukan saat Zaki dewasa. Dan untuk selanjutnya itu adalah kisah mereka versi ustadzah Nafis, bukan versi Zaki. Jadi untuk lebih adilnya, kamu bisa tanyakan langsung pada Zaki bagaimana kisahnya versi dirinya!" ustad Farid berusaha menjelaskan sebisanya, berusaha agar antara Zahra dan Zaki tidak sampai terjadi kesalahfahaman.
"Sebenarnya Zahra cuma butuh jawaban ya atau tidak." ucap Zahra dengan sikapnya yang masih seperti biasa,
"Tapi karena ustad sudah berbaik hati menjelaskan panjang lebar, Zahra hanya bisa berterimakasih."
"Sama-sama, semoga kamu bisa bersikap bijak ya!"
"Insyaallah! Sekarang ustad boleh pergi!?"
"Kamu? Maksudnya biar saya antar pulang ke rumah kamu!"
"Nggak usah ustad, zahra masih pengen ngadem di sini. Ustad pergi saja!"
"Tapi_!"
"Tapi Zahra baik-baik saja. Nggak lihat senyumku masih selebar ini?" ucap Zahra sambil tersenyum lebar hingga menunjukkan gigi-giginya yang rapi.
Dia beneran baik-baik saja kan? batin ustad Farid ragu. Tapi dia tersenyum ...
"Baiklah, aku kembali ke kelas ya, assalamualaikum!"
"Waalaikum salam!"
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga yang banyak biar tambah semangat nulisnya
follow akun Ig aku ya
__ADS_1
Ig @tri.ani5249
...Happy reading 🥰🥰🥰🥰...