
"Dek hari ini mas nggak bisa menemani kamu Sampek sore ya, nggak pa pa kan?" tanya ustad Zaki sambil memakaikan helm untuk sang istri.
Zahra menatap sang suami dengan penuh pertanyaan,
"Kenapa?" sepertinya ia sudah mulai terbiasa dengan keberadaan sang suami di tempatnya magang. Selalu bersama-sama dengan sang suami beberapa hari membuatnya terbiasa.
"Mas kan harus ngajar di madrasah juga, trus mas mau ketemu Ali juga!"
"Mas Ali yang punya kafe?"
"Hmm, nggak pa pa kan? Nanti waktu pulang mas akan jemput!"
"Nggak di jemput juga nggak pa pa, Zahra bawa motor sendiri aja sekarang!"
"Nggak!" tegas sang suami.
"Kenapa?"
"Dek, mas nggak ngijinin bukannya mas nggak ada alasan!"
"Trus alasannya apa?"
"Pertama, dek Zahra belum punya SIM, yang ke dua dek Zahra juga baru bisa naik motornya dan yang ke tiga, dek Zahra selalu ugal-ugalan kalau naik motor, mas nggak tega."
"Tunggu dulu, yang alasan pertama dan ke tiga Zahra setuju ya, tapi yang kedua Zahra nggak setuju ya, Zahra sudah bisa naik motor sejak kelas dua SMP!" ucapnya membuat ustad Zaki tercengang.
"Upsss, keceplosan lagi!?" gumam Zahra sambil menutup mulutnya.
"Jadi dek Zahra selama ini bohongi bapak sama ibuk?" ustad Zaki menajamkan matanya.
"Sedikit mas, lagi pula Zahra juga nggak pa pa kan, bapak sama ibuk itu terlalu kolon. Ini itu nggak boleh!"
"Dek, mereka itu melarang dek Zahra pasti ada maksud dan tujuannya, coba kalau selama ini bapak nggak melarang ini itu sama dek Zahra, pasti dek Zahra kelepasan, iya kan?"
"Dikit!?"
"Deeekkk!"
"Iya iya, Zahra manut!"
"Nahhh, gitu dong!"
Ustad Zaki pun segera memakai helmnya dan mereka pun berangkat ke kedai dengan mengendarai motor bebek seperti biasanya.
Seperti yang di katakan pada Zahra, ustad Zaki di kedai hanya sekitar satu jam setelah itu ia berpamitan untuk pergi. Sebenarnya biasanya saat tidak ada Zahra di kedai, ustad Zaki jarang pergi ke kedai, ia biasanya hanya datang satu Minggu sekali itupun tidak lama, paling lama hanya satu sampai dua jam saja. Selebihnya jika ada event yang membutuhkan ustad Zaki barulah ia sedikit lebih lama di kedai.
Tujuan pertama ustad Zaki adalah kafe tempat temannya, lebih tepatnya kafe yang di bangun ustad Zaki dan temannya bernama Ali, Ali juga termasuk lulusan pesantren seangkatan dengan ustad sakit, tapi ia tidak tertarik untuk menjadi ustad, ia lebih memilih menjadi pebisnis sedangkan ustad Zaki menjadikan bisnis hanya sebagai pengisi waktu luang dan selebihnya hidupnya ia dedikasikan untuk mengajar agama.
__ADS_1
Tapi Allah memang maha adil, jika seorang hambaNya memilih memulyakan agamanya di atas segalanya, maka Allah menjamin juga kehidupan dunianya.
Ustad Zaki melengkungkan bibirnya membentuk senyum saat melihat pria yang tengah duduk di dekat jendela kaca yang menghadap ke arah jalan,
"Assalamualaikum!" sapanya membuat pria itu juga tersenyum padanya, demi menyambut kedatangan ustad Zaki, ia pun berdiri dan mengembangkan kedua tangannya,
"Waalaikum salam, ustad Zaki! Bagaimana kabarnya? Apa nih oleh-oleh nya dari Bandung?"
"Alhamdulillah, sehat! Maaf nih nggak sempat beli oleh-oleh soalnya pulangnya mendadak!"
"Iya, aku denger-denger kamu pulang sebelum acara selesai, kenapa?"
"Nggak pa pa, hanya ada sedikit insiden di rumah!"
"Tapi sudah beres kan?"
"Alhamdulillah sudah, oh iya dari mana kamu tahu aku ke Bandung?"
"Siapa yang nggak tahu, bahkan ustadzah Nafis aja live streaming kemarin di inst*gramnya!"
"Kamu kenal sama ustadzah Nafis?"
"Gimana nggak kenal, dia itu selebgr*m. Followers nya berjuta-juta."
"Oh!"
"Mungkin! Oh iya ngundang aku ke sini ada apa?"
"Hampir lupa aku, ini loh!" Ali pun mengeluarkan sebuah berkas, "Sebenarnya ini sudah dua Minggu yang lalu, tapi karena kamu masih di bandung jadi aku nunguin kamu balik, ini ada calon pengantin yang mau ngadain acara nikahan di sini, aku bingun sama konsepnya. Kamu bantuin ya!"
Ali menunjukan beberapa konsep yang telah di susun. Ustad Zaki pun memberi beberapa saran untuk konsepnya.
"Suka banget sama konsep ini,"
"Biasa aja Al, yang banyak kan konsep dari kamu!?" ucap ustad Zaki.
Mereka pun kembali terdiam, tiba-tiba tatapan ustad Zaki mengarah pada seorang anak laki-laki yang tengah duduk sendiri di tempat yang biasanya ramai oleh pelajar itu.
Bukankah seharusnya dia magang, kenapa di sini? batinnya.
"Lihatin apa sih Zak?" tanya Ali melihat ustad Zaki tampak fokus pada sesuatu.
"Aku ke sana dulu ya, kamu lanjut aja meeting sama yang lain!" ucap ustad Zaki lalu berdiri dari duduknya dan meninggalkan Ali.
Ia menghampiri anak laki-laki yang tengah duduk sendiri itu, tidak seperti biasanya. Biasanya ia selalu datang beramai-ramai dengan teman-temannya satu gengnya.
"Assalamualaikum!" sapa ustad Zaki membuat anak laki-laki itu mendongakkan kepalanya menatap ke arah ustad Zaki.
__ADS_1
"Waalaikum salam!" jawabnya lali kembali mengalihkan tatapannya ke tempat lain.
"Boleh saya duduk?" tanya ustad Zaki tapi anak laki-laki itu tetap terlihat cuek.
"Kalau mau duduk, ya duduk aja. Lagian bukan tempatku juga!" jawabnya ketus dan ustad Zaki pun hanya tersenyum seperti biasanya.
Ustad Zaki pun memilih duduk di kursi kosong yang tepat berada di depan anak laki-laki itu, ustad Zaki melambaikan tangannya memanggil pelayan kafe.
"Aku mau ice coffe satu ya!"
"Baik, ustad!"
Mereka masih saling diam hingga pelayan kafe kembali datang dengan segelas ice coffe pesanan ustad Zaki.
"Terimakasih!" ucap ustad Zaki dan pelayan itu pun tersenyum kemudian kembali pergi.
Ustad Zaki mengangkat gelasnya dan mulai meminum pesanannya setelah mengucapkan basmallah.
Tapi begitu banyak aktifitas yang di lakukan ustad Zaki, anak laki-laki itu masih setia dengan kebisuannya.
"Lagi banyak pikiran ya?" tanya ustad Zaki kemudian dan berhasil membuat anak laki-laki itu kembali menatap ke arahnya.
"Nggak usah basa-basi lagi, aku tahu tujuan mas Zaki mendatangi saya, mas Zaki mau menanyakan tentang kedatanganku kemarin menemui Zahra kan?"
"Syukurlah jika kamu tahu!" ustad Zaki tetap tenang meskipun lawannya tampak berapi-api.
"Ya, aku bohong jika bisa dengan mudah melupakan Zahra, mas tahu kan Zahra itu cinta pertama aku, mas. Harusnya mas bisa memahaminya, lepaskan Zahra. Usia mas jauh lebih mapan, mas Zaki juga tampak, banyak wanita yang mendambakan bisa menjadi istri mas Zaki. Lalu kenapa Zahra?"
"Karena Zahra yang Allah berikan padaku sebagai jodohku!"
"Mas Zaki yakin?"
"Insyaallah!"
...Ketika kita bertemu masalah dalam hidup, kita dapat bereaksi dengan dua cara, yaitu dengan kehilangan harapan dan jatuh ke dalam kebiasaan merusak diri sendiri, atau dengan menggunakan tantangan untuk menemukan kekuatan hati kita. Menangis. Memaafkan. Belajar. Move on adalah sebuah proses dalam hidup, Semua bisa berakhir, orang berubah. Dan kamu tahu apa? Hidup kan terus berjalan....
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
Ig @tri.ani5249
...Happy Reading 🥰🥰🥰...
__ADS_1