
Apa-apaan nih, mau menawari tumpangan? Atau mau mengantar pulang. Bagus ya ..., batin Zahra semakin kesal tapi ia tidak ingin gegabah, ia ingin tahu apa yang di lakukan oleh suaminya itu.
Zahra memilih untuk tetap dia di tempatnya sampai mereka benar-benar sampai di depannya.
"Imah pulang sendiri ustad!"
"Tapi ini sudah malam loh, bagaimana kalau_!" ustad Zaki mengedarkan pandangannya. Imah sudah terlihat begitu berharap jika ustad Zaki akan menawarinya untuk mengantar.
"Itu ada buk Sum, pulang sama buk Sum aja ya!" seketika harapan Imah musnah, ustad Zaki tampak mencari sosok yang di sebut buk Sum. Buk Sum adalah orang yang selalu menyediakan minum dan Snack setiap kali ada pengajian seperti ini.
"Buk Sum!" panggilnya ketika melihat buk Sum juga keluar dari dalam masjid.
"Iya ustad!" tampak wanita paruh baya itu sedikit tergopoh menghampiri ustad Zaki.
"Di dalam biar Amir saja yang beresin, Bu Sum bawa motor kan?"
"Iya ustad!"
"Tolong antar Zahra pulang ya, sekalian buk Sum pulang istirahat."
"Begitu ya ustad, baiklah saya ambil tas rengkot dulu, nggak pa pa kan mbak Imah?"
"Iya Bu, terimakasih ya!"
Bu Sum pun akhirnya kembali ke dalam dam mengambil tas rengkot besar yang sepertinya di gunakan untuk membawa Snack untuk pengajian tadi.
"Saya pulang dulu ya ustad! Assalamualaikum!" pamit Buk Sum.
"Waalaikum salam!" jawab ustad Zaki dan Imah pun melakukan hal yang sama.
Zahra masih tetap di tempatnya sampai Imah dan buk Sum berlalu.
Setelah memastikan tidak ada lagi orang di sekitar ustad Zaki, Zahra pun segera keluar dari persembunyiannya.
Zahra berdiri sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
__ADS_1
Astaghfirullah hal azim ..., ustad Zaki hanya bisa beristigfar di dalam hati, ia baru sadar jika Zahra masih menunggunya.
Dengan cepat ustad Zaki menghampiri Zahra,
"Dek, kamu_!"
"Kenapa? Terkejut ya?" Zahra segara memotong ucapan ustad Zaki.
"Maaf, mas lupa kalau kamu nungguin mas!*
"Gitu ya, keasikan sih sama dek Imah, sampai lupa sama istri!" ucap Zahra kesal sambil berlalu meninggalkan ustad Zaki. Dengan cepat ustad Zaki menyusul ya dan menggandeng tangan Zahra.
"Nggak usah pegang-pegang, sama antar tuh dek Imah kesayangan! Suaranya kan merdu, nggak kayak suara Zahra uang kayak gembreng di seret!"
"Apa tuh, gembreng di seret?" tanya ustad Zaki yang memang tidak tahu.
"Berisik!" ucap Zahra sambil meronta berharap ustad Zaki akan melepaskan tangannya.
"Bagi mas, suara dek Zahra yang akan paling mas rindukan!"
Akhirnya Zahra berhasil melepaskan tangannya dari genggaman ustad Zaki.
Ustad Zaki hanya bisa menghela nafas dengan kemarahan Zahra,
"Dek, dek, tungguin mas! Jalan di depan gelap loh!" ucap ustad Zaki dengan suara yang sedikit keras saat Zahra sudah berjalan jauh di depannya.
Ampun ...., bener juga. Di depan kan nggak ada rumah , batin Zahra yang tiba-tiba merinding sendiri.
Nggak nggak, aku pokoknya nggak boleh nyerah, dia sengaja mau nakut-nakutin aku pasti ...
"Dek, tungguin!" teriak ustad Zaki lagi tapi tidak juga di indahkan oleh Zahra.
Hingga akhirnya Zahra benar-benar berada di jalan yang sedikit gelap di banding yang lain karena sekelilingnya hanya ada lahan kosong tanpa rumah, cukup panjang sehingga penerangannya pun minum.
Grosekkkkkkk
__ADS_1
Sebuah suara berhasil membuat jantung Zahra serasa mau copy dengan reflek ia berbalik dan memeluk ustad Zaki. Tidak hanya memeluk, ia bahkan melompat hingga kini posisinya berada dalam gendongan ustad Zaki dengan posisi kaki yang menjepit pinggang ustad Zaki dengan kedua lengannya melingkar sempurna di leher sang suami, hal itu berhasil membuat ustad Zaki tersenyum,
"Apa itu tadi?" tanya Zahra tanpa berani mengangkat ke palanya yang sudah ia susupkan di dada sang suami.
"Kayaknya penghuni lahan kosong itu deh, dek! Mas dengar-dengar di sini suka ada yang lihat Kuntil anak bawa boneka!"
"Kok boneka sih?" protes Zahra masih begitu erat dalam gendongan ustad Zaki tapi kali ini mendongak menatap wajah sang suami.
"Maksudnya bayi!"
"Jangan bohong deh, mas sengaja yang menakuti Zahra!"
"Serius, dia biasanya muncul setahun sekali!"
Kan kuntilanak-kuntilanakan yang main karnaval agustusan..., lanjut ustad Zaki dalam hati.
"Zahra takut!"
"Ya udah gini aja, nggak usah turun. Boleh turun kalau sudah sampai rumah!"
"Nggak capek?" tanya Zahra yang sebenarnya merasa khawatir.
Ustad Zaki menggelengkan kepalanya,
"Mana bisa capek kalau yang di gendong dek Zahra!"
Ucapan ustad Zaki seketika berhasil membuat Zahra tersipu, ia tidak menyangka ustad Zaki akan mengatakan hal itu.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
IG @tri.ani5249
__ADS_1
...Happy Reading 🥰🥰🥰...