
"Mana camilannya?" Zahra segera mengalihkan pembicaraan. Ia belum siap membahasnya terlalu jauh.
"Astaghfirullah, aku lupa zah. Tadi keburu-buru soalnya."
"Gimana sih Nur, aku kan pengen nyemil." keluh Zahra, padahal ia benar-benar ingin ngemil hari ini. Ia sebenarnya punya uang tapi gara-gara pingsan di sekolah tadi membuatnya tidak sempat jajan. Ustad Zaki sudah memberinya uang sama bahkan dua kali lebih banyak dari uang saku biasanya.
"Ya maaf, aku tadi buru-buru." Nur terlihat begitu menyesal, ia tahu Zahra memang suka seperti itu jika sedang PMS, ia lebih suka nyemil. "Apa gini aja deh, kamu ikut aku aja."
Akhirnya Nur punya ide untuk menghibur sahabatnya itu. Gadis dengan jilbab segi empat itu terlihat yakin dengan idenya itu.
"Kemana?" Zahra masih belum terlihat antusias, apalagi saat ini perutnya masih terasa nyeri, rasanya malas untuk bepergian.
"Ambil jahitan ibuk di tukang jahit,"
Kalau tukang jahitnya, budhe Yun. Bisa sambil jalan-jalan juga sih ...
"Budhe Yun, bukan?"
"Iya, budhe Yun kan memang langgane ibuk! Kalau nggak di ambil sekarang aku bisa kena marah sama ibuk, soalnya katane besok pagi mau di pakek ke kondangan di Malang."
"Jauh amet! Pandangan Sampek Malang!"
"Kerabat ibuk kan banyak yang di sana. Aku sih sebenarnya pengen ikut, tapi kan besok aku masih ada pelantikan OSIS baru."
"Makanya nggak usah sibuk sekolah itu. Sekolah itu di nikmati, nggak usah di bikin susah, kalau gini kan jadi susah sendiri."
"Nggak gitu juga Zah! Gimana? Ikut nggak jadinya?" tanya Nur lagi karena ia takut jika sampai kesorean.
"Ya udah deh, aku ikut! Ayok!?" Zahra segera beranjak dari tempatnya dan menyambar ponsel yang ada di atas meja.
"Gitu aja bajumu?" tanya Nur lagi saat memperhatikan penampilan Zahra dari atas hingga ke bawah, kaos oblong dengan sebelah lengannya turun ke bawah bahu dan celana pendek di atas lutut dan banyak lubang di mana-mana.
Zahra meregangkan tangannya, memutar tubuhnya satu kali.
"Mau gimana lagi? Gini juga bagus!"
__ADS_1
"Ganti deh celananya, jangan yang bolong-bolong gitu. Kasihan ustad Zaki." Nur menggelengkan kepalanya, ia jelas tidak setuju dengan penampilan Zahra yang seperti itu.
"Apa hubungannya sama mas ustad?" tanya Zahra yang tidak mengerti maksud Nur karena melibatkan ustad Zaki dalam hubungan penampilannya.
"Kamu tuh istrinya ustad Zaki, apa yang ada pada dirimu sekarang menjadi tanggung jawab ustad Zaki. Jangan Sampek orang-orang menggunjing ustad Zaki gara-gara istrinya urakan kayak gini."
"Aku kan dari dulu emang udah kayak gini!?" Zahra masih juga protes dengan ucapan Nur, ia tidak setuju dengan ucapan Nur barusan. Tapi ia juga tidak bisa memungkiri jika nama baik ustad Zaki sekarang juga tergantung pada dirinya. Selama ini ustad Zaki sudah terkenal sopan dan bersahaja, sedangkan dirinya terkenal urakan dan susah di atur.
"Itu dulu Zah, sekarang pakek yang agak sopanan dikit. Biar aku bantu cariin deh bajunya!"
Nur pun segara berdiri dan menghampiri lemari pakaian Zahra, memang seperti mencari jarum dalam jerami mencari baju yang sopan milik Zahra. Hampir semuanya berupa celana di atas lutut dan celana bolong-bolong jika itu panjang. Sedangkan atasannya kaos oblong atau singlet, tapi masih ada beberapa yang termasuk kemeja panjang.
Hingga akhirnya Nur menemukan sebuah celana kulot berwarna cream yang panjang di bawah lutut, cukup sopan di banding lainnya dan juga sebuah kaos oblong warna putih dengan gambar yang sedikit sopan.
"Ini aja deh!?" Nur segera menunjukkan apa yang ia dapat pada Zahra.
"Ya ampun Nur, ini celana yang males banget buat aku pakek." Zahra benar-benar tidak suka dengan pilihan Nur. Ia ingat sekali celana itu dibelikanh oleh Imron saat pertama kali kakak laki-lakinya itu mendapatkan gajinya. Demi menghormati kakaknya ia tidak membuang celana itu.
"Tapi cuma ini yang paling sopan, Zah. Ayolah jadi ikut nggak? Kalau penampilanmu kayak gitu mending nggak usah ikut, aku juga nggak rugi. Nggak beliin kamu camilan!?" ancam Nur,
Akhirnya setelah Zahra selesai mengganti bajunya, mereka berpamitan pada Bu Narsih,
"Tapi jangan lama-lama ya, soalnya Zahra kan nggak ijin sama suaminya!?"
Mendengar ucapan Bu Narsih, Nur jadi teringat dengan status temannya itu saat ini. Dia sudah bukan lagi gadis single yang cukup dengan meminta ijin pada kedua orang tuanya saja tapi Zahra sudah menjadi istri dari seorang laki-laki yang memang sudah sepatutnya untuk meminta ijin dulu sebelum pergi kemanapun, dekat atau jauh, sebentar atau lama. Ijin suami tetap yang utama.
"Ahhh iya Zah, kenapa aku nggak kepikiran ya. Lebih baik kamu kirim pesan atau telpon dulu deh sama ustad Zaki."
"Ribet banget sih!?" keluh zahra
"Aku nggak mau ya di salahin sama ustad Zaki gara-gara kamu nggak ijin dulu." Nur terus saja memaksa Zahra. Hingga akhirnya Zahra setuju untuk meminta ijin suaminya.
"Iya iya!"
Akhirnya zahra mengambil ponsel yang ada di saku celananya dan mulai mengetikkan pesan pada suaminya itu.
__ADS_1
//Mas ustad, aku mau ikut Nur ambil jahitan, boleh ya?// kirim.
Nur benar-benar tidak mau pergi sebelum ustad Zaki memberi balasan, beruntung ustad Zaki dengan cepat membalasnya.
Ustad Zaki
15.45
//Waalaikum salam, dek//
15.46
//Baiklah, tapi jangan lama-lama ya, kalau ada apa-apa segera hubungi mas//
"Aku kan nggak ngucap salam, kenapa jawabnya salam!?" gumam Zahra saat membaca dua pesan balasan dari ustad Zaki.
"Itu berarti kamu yang salah, sudah tahu suaminya ustad, masih juga suka lupa buat ngucap salam!?" omel Bun Narsih pada putrinya itu yang kadang kelewatan.
"Iya Zah, bener kata Bu lek Narsih!"
"Kalian kok jadi nyalahin aku sih!?"
"Ya emang kamu salah! Gimana boleh nggak?" tanya Nur lagi.
"Boleh dong!?" ucap Zahra sambil tersenyum. Ia kembali menyakukan ponselnya dan tidak berniat untuk membalas pesan dari suaminya.
"Ya sudah ayo." Nur segera mengajak Zahra, "Bu lek, kami pergi dulu ya!?" pamit Nur lagi pada Bu Narsih.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
IG @tri.ani5249
__ADS_1
...Happy Reading 🥰🥰🥰...