
Tampak Zahra turun dari mobil tanpa menunggu suaminya, ia berjalan cepat menuju ke teras, tapi segera langkahnya terhenti begitu melihat abinya,
"Assalamualaikum!" sapa Ustad Zaki pada abinya yang duduk di teras begitu juga dengan Zahra.
"Zahra masu dulu ya Abi!" ucap Zahra dengan wajah yang tampak masih begitu murung.
"Iya, masuklah!"
Setelah mendapat ijin dari ayah mertuanya, Zahra segera meninggalkan mereka berdua.
"Kok sepi Bu, umi kemana?"
"Umi kamu jalan-jalan keliling kampung, katanya bosan di rumah, nggak ada kamu nggak ada Zahra!"
"Ohhh!"
Ustad Zaki pun akhirnya ikut duduk di teras bersama abinya,
"Zahra kenapa? Kalian bertengkar?" pertanyaan sang Abi berhasil membuat ustad Zaki menoleh pada abinya itu.
Hehhhhh ...., ustad Zaki menghela nafas, ini bukan pertama kalinya Zahra bersikap seperti itu.
"Enggak bi, nggak tahu tiba-tiba moodnya agak kurang baik!"
"Kamu yang sabar ngadepin Zahra. Selain karena usia kalian yang terpaut jauh, wanita memang suka seperti itu. Umi kamu yang sudah seumur itu juga sering marah nggak jelas sama Abi!"
Ustad Zaki mengerutkan keningnya, ia baru tahu ilmunya.
"Masak sih, bi?"
"Ya begitu lah, cukup kamu peluk atau biarkan dia tenang, nanti kalau perasaanya sudah baik juga akan mencari kamu sendiri."
"Baiklah, Zaki mengerti bi. Ya sudah Zaki susul Zahra dulu ya bi, siapa tahu mood Zahra sudah membaik!"
"Iya sana!"
Ustad Zaki pun segera menyusul Zahra ke dalam rumah,
Tok tok tok
"Dek, mas boleh masuk?" tanyanya setelah mengucapkan salam.
"Masuk aja, nggak di kunci juga!" Zahra masih terlihat kesal. Ia duduk di atas tempat tidur dengan kaki yang di tekut dan menyandarkan dagunya di atas lututnya.
Ustad Zaki perlahan mendekati Zahra dan duduk di sampingnya.
"Dek!?"
"Zahra lagi nggak ingin bicara, mas! Jadi mas ustad mending pergi dulu deh!" ucap Zahra sambil menenggelamkan wajahnya di atas lututnya.
Srekkkk
__ADS_1
Tiba-tiba ustad Zaki menarik tubuh Zahra ke dalam pelukannya, membuat Zahra tercengang. Ustad Zaki mempraktekan apa yang di katakan abinya. Ustad Zaki mengusap punggung Zahra,
"Dek, kalau perasaannya kurang nyaman nggak pa pa dek Zahra menangis, mas siap kok menjadi sandaran buat dek Zahra!"
Dan benar saja, tiba-tiba punggung Zahra bergatar, kemeja yang di kenakan ustad Zaki, bagian dada yang di gunakan untuk bersandar Zahra perlahan basah karena air matanya.
Cukup lama hingga akhirnya Zahra tenang dan menjauhkan kepalanya dari ustad Zaki,
"Makasih ya mas, dan ini maaf!" Zahra menunjuk kemeja suaminya yang basah.
Ustad Zaki menggelengkan kepalanya dan mengusap sisa air mata Zahra,
"Tidak pa pa, mas senang! Setidaknya selain Allah, mas adalah orang kedua setelah bapak kamu yang menjadi tempat kamu untuk bersandar!"
"Kenapa mas ustad baik banget sih sama Zahra? Padahal Zahra udah banyak membuat susah mas ustad?"
"Kenapa ya?"
"Kon kenapa?"
Lagi, ustad Zaki tersenyum dan mengusap kepala Zahra, "Karena mas sayang sama dek Zahra. Karena dek Zahra istrinya mas!"
Sungguh aku yang begitu beruntung, kenapa aku masih banyak mengeluh? batin Zahra.
"Sudah, lain kali jika dek Zahra merasa sedih dan dada ini masih tidak cukup buat kamu bersandar, Insyaallah Allah tempat terbaik untuk dek Zahra bersandar, Allah yang akan meringankan beban di hati dek Zahra!"
"Terimakasih ya mas!"
"Sama-sama, ya sudah mas mau mandi dulu. Kita jalan-jalan setelah ini sama Abi dan umi juga!"
"Mas sudah ijin, minta Amir buat ngantiin mas beberapa hari ini selama Abi dan umi di sini!"
"Ohhh, ya udah Zahra siapin bajunya ya!" ucap Zahra dan hal itu berhasil membuat ustad Zaki terdiam dan menatap ke arah Zahra.
"Kenapa? Nggak percaya?"
Ustad Zaki segera menggelengkan kepalanya dan tersenyum,
"Terimakasih ya dek!"
Ini untuk pertama kalinya, Zahra mau menyiapkan baju ganti untuknya,
"Ya udah mas ke kamar mandi dulu ya!"
Zahra mengangukkan kepalanya, rasanya sayang untuk meninggalkan sang istri, hingga membuat ustad Zaki berjalan mundur dan punggungnya hampir menabrak pintu.
"Mas, hati-hati!"
"Iya!"
Benar kata Abi, Zahra semakin manis saja sekarang, batin ustad Zaki.
__ADS_1
Di tempat lain, umi ustad Zaki tengah berhenti di toko yang ada di depan masjid. Ia sengaja membeli beberapa keperluan rumah untuk Zahra dan ustad Zaki.
Ia teringat jika zahra sangat suka dengan jajanan kentang goreng, ia pun menuju ke rak yang menyediakan banyak Snack.
"Itu dia!" gumamnya, tapi saat hendak mengambil tiba-tiba seseorang dari arah lain juga mengambil kemasan yang sama. Karena tinggal itu satu-satunya.
"Maaf, ibu aja yang ambil!" ucap gadis itu sopan.
"Nggak pa pa, kalau adek ingin mengambilnya. Ambil saja!"
"Buat ibu saja, lagi pula tinggal itu Bu. Imah cari yang lain!"
"Kamu baik sekali!"
"Alhamdulillah, hanya Snack Bu. Jangan sungkan!" Gadis itu pun segera memperhatikan wajah umi, "Ibu bukan orang sini ya? Maaf, maksud saya, saya belum pernah melihat ibu!"
Umi pun tersenyum, "Iya, saya di sini berkunjung ke rumah anak saya, kebetulan baru menikah!"
"Baru menikah?" tampak gadis itu mengerutkan keningnya.
"Iya, namanya Zaki!"
Gadis itu langsung tersenyum lebar dan dengan cepat menutup mulutnya dengan tangan,
"Jadi ibu, uminya ustad Zaki?"
"Iya!"
"Senang ketemu sama ibu, kenalkan sama Fatimah Bu. Panggil saja Imah, saya kebetulan bantu ustad Zaki buat ngajar anak-anak kalau sore di masjid!"
"Benarkah!?"
Akhirnya setelah menyelesaikan pembayaran mereka pun melanjutkan mengobrol di masjid. Mereka membicarakan banyak hal tentang ustad Zaki.
"Mampir ke rumah kalau ada waktu, saya masih tiga hari lagi di sini."
"Insyaallah umi!"
"Ya sudah, umi pulang dulu!"
"Biar Imah anter umi, kebetulan Imah baru ambil motor dari bengkel!"
"Nggak usah, umi jalan kaki saja, assalamualaikum!"
"Waalaikum salam!"
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
__ADS_1
IG @tri.ani5249
...Happy Reading 🥰🥰🥰...