
"Capek!?" keluh Zahra sambil membawa sebuah nampan di tangannya, entah sudah berapa kali ia mondar mandir ke meja yang sama hari ini untuk mengantarkan pesanan,
Ya_, dia memilih pekerjaan menjadi pelayan saja, berbeda dengan Weni yang lebih suka membantu koki untuk memasak di dapur.
Akhirnya setelah pekerjaan yang melelahkan ini, tiba saatnya untuk pulang, sebenarnya kedai ini buka sampai jam delapan malam tapi karena Zahra masih anak magang, ia dan teman-temannya hanya bekerja sampai jam empat sore.
"Mbak Zahra, langsung pulang ya?" tanya Weni yang sudah menyusul Zahra duduk di teras mushola. Zahra sengaja sholat dulu sebelum pulang agar nanti tidak terburu-buru sesampainya di rumah.
"Nggak tahu, ada apa?" Zahra mengangkat kedua bahunya.
"Weni bawa motor kalau mbak Zahra mau bareng sama Weni!?" tanya Weni, mereka memang seumuran tapi Weni dan Zahra memang sebelumnya tidak saling kenal, mereka saling kenal karena Bu Marni yang bekerja di rumah Zahra dan ustad Zaki.
"Gitu ya, tapi gimana ya!?" Zahra jadi ragu untuk mengiyakan. Ia teringat dengan ucapan pak Dul tadi pagi, suaminya telah menitipkannya pada pria itu.
"Tapi kalau mbak Zahra mau mampir kemana dulu, nggak pa pa!?"
Zahra pun mengedarkan pandangannya, ia juga ingat jika pak Dul juga bekerja di tempat yang sama, mungkin saja pria itu juga ada di situ. Karena terlalu sibuk hari ini, ia bahkan tidak sempat memperhatikan sekitar.
Dan benar saja,
Panjang umur pak Dul ..., batin Zahra dan ia pun segera berdiri dari duduknya.
"Mbak Zahra mau ke mana?" tanya Weni heran.
"Bentar ya!? Tunggu!"
Zahra pun langsung memakai flat shoes nya dan berjalan cepat menghampiri pak Dul yang tampak sibuk di samping mobilnya.
"Pak Dul," panggilnya membuat pak Dul menghentikan kegiatannya.
"Iya mbak, ada apa? Sudah siap pulang? Biar saya antar!"
"Justru itu pak, kan rumah Zahra sama Weni satu arah, jadi bagaimana kalau Zahra pulang bareng Weni aja,"
Pak Dul tampak berpikir, ia jelas tidak bisa semudah itu mengatakan iya sebelum ia mendapat ijin dari ustad Zaki.
"Ya pak, nggak pa pa. Nanti biar Zahra yang ngomong sama mas ustad."
"Tapi mbak_!"
"Nggak pa pa!" Zahra terus memaksa pak Dul agar diijinkan.
Selagi Zahra bicara dengan pak Dul, ternyata Weni di hampiri Heni yang juga dari dalam mushola.
"Wen!?"
__ADS_1
Weni pun segera menoleh ke sumber suara,
"Ehhh, mbak Heni. Sudah selesai sholatnya, mbak?" tanyanya dan Heni pun ikut duduk di samping Weni, kebetulan sepatunya juga berada di dekat Weni.
"Iya, lagi ganti sip. Nggak pulang?"
"Itu lagi nungguin mbak Zahra!" ucap Weni sambil menunjuk ke arah zahra yang tengah berbincang dengan pak Dul.
"Memang bener ya, kalau Zahra itu istrinya ustad Zaki?" tanya Heni dan Weni pun menoleh pada Heni.
"Iya mbak, mbak kenal sama ustad Zaki?" Weni cukup heran karena ternyata Heni mengenal pria yang cukup disegani di kampung mereka.
"Ya kenal lah, ustad Zaki setiap satu Minggu sekali selalu datang."
"Ohhhh ...!" Weni tidak lagi heran, jika ustad Zaki datang seminggu sekali mungkin dia pelanggan tetap di kedai lalapan ini makanya semua orang di sini mengenalnya.
"Masih sekolah ya Zahra?"
"Iya mbak, kan kami masih magang! Ini juga tugas dari sekolah!" Weni menggelengkan kepalanya dengan pertanyaan yang terdengar tidak masuk akal dari Heni.
"Usia Zahra sekarang mungkin sekitar delapan belas tahun ya? Kalau ustad Zaki mungkin sekitar dua puluh tujuh tahun atau mungkin lebih, wajahnya aja kelihatan baby face ya kan?"
"Iya, juga ganteng mbak!" Weni menambahkan.
"Waw, berarti usia mereka terpaut cukup jauh dong ya. Zahra nggak mungkin hamil duluan kan?"
"Jangan keras-keras, itu Zahra mau ke sini!" ucap Heni saat melihat Zahra sudah kembali berjalan ke arah mereka.
"Ehhh mbak Heni, mau pulang juga?" tanya Zahra dan Heni pun tersenyum.
"Iya, soalnya sudah ganti sif! Tapi mau nungguin Sinta dulu, dia masih di dalam!"
"Kalau begitu aku sama Weni duluan ya!" ucap Zahra dan Weni pun segera berdiri dari duduknya, "Assalamualaikum!"
"Waalaikum salam!"
Zahra dan Weni pun berjalan beriringan menuju ke parkiran.
"Tadi ada apa mbak kok nyamperin bapak itu?" Weni juga belum terlalu mengenal orang-orang di kedai ini.
"Oh itu tadi, dia namanya pak Dul. Katanya temennya mas ustad, dia yang nganter aku tadi pagi. Katanya dimintai tolong mas ustad buat antar jemput aku, dan kebetulannya pak Dul ternyata juga kerja di sini."
"Yahhh, aku jadi nggak enak sama pak Dul juga ustad Zaki!" ucap Weni yang merasa tidak enak karena mengajak Zahra tanpa meminta ijin dulu sama ustad Zaki.
"Kenapa sih nggak enak, sudah ayo." Zahra kembali menarik tangan Weni aar langkah mereka lebih cepat, hingga akhirnya mereka sampai juga di tempat parkir karyawan,
__ADS_1
"Yang mana Wen motor kamu?"
"Itu mbak, motor bebek yang ada di ujung!"
"Sini serahin kuncinya!"
"Hahhh?" Weni terkejut. Sedikit khawatir, ia sudah cukup mendengar gosip tentang Zahra yang urakan, ia jadi khawatir jika Zahra sampah meninggalkannya sendiri dan membawa motornya pergi.
"Ngga usah takut, aku ambilin motornya."
"Tapi mbak Zahra nggak akan ninggalin Weni di sini kan?"
"Ya enggak lah, kamu aneh-aneh aja. Bisa di Rante aku sama mas ustad kalau sampai lakuin itu."
Hehhhh ...., Weni segera menghela nafas lega. Setidaknya apa yang ia khawatirkan mungkin tidak akan terjadi. Motor bebek itu adalah motor keluarga satu-satunya, itupun di beli ibunya dari hasil nabung gaji sang ibu selama bekerja di rumah Zahra dan ustad Zaki. Motor bekas yang masih layak pakai.
Weni pun segera menyerahkan kunci motornya dan Zahra berjalan menuju motor yang sudah di tunjuk oleh Weni,
"Yang ini kan?" tanyanya setelah sampai di samping motor yang di tunjuk oleh Weni tadi dan Weni pun mengangukkan kepalanya.
Zahra pun segera menautkan kuncinya dan ternyata benar itu motornya,
"Kali ini biar aku aja yang nyetir!" ucap Zahra setelah sampai kembali di samping Weni.
"Memang nggak pa pa mbak?" tanya Weni khawatir, seingatnya bahkan ustad Zaki selama di rumah tidak pernah mengijinkan Zahra untuk membawa motornya sendiri walaupun di rumah mereka ada dua motor.
"Ya nggak pa pa, ayolah jangan kaku gini."
Akhirnya Weni pun menyerah, ia membiarkan Zahra yang duduk di depan.
"Oh iya, bagaimana kalau besok kita juga berangkat bareng aja, nanti biar bensinnya aku aja yang isi!?"
"Ahhh yang bener mbak!?" Weni merasa tidak enak tapi juga seneng, setidaknya ia tidak akan memikirkan soal bensin lagi, tidak perlu minta ibunya untuk beli bensin.
"Iya, emang wajahku suka bohong apa!?"
"Ya enggak!?"
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
Ig @tri.ani5249
__ADS_1
...Happy Reading 🥰🥰🥰...