
Rupanya percakapan mereka berdua di perhatikan oleh seseorang dari kejauhan. Saat ustad Zaki sudah meninggqlkan ustad Farid orang itu pun segera mendekati ustad farid.
"Assalamualaikum!"
Ustad Farid segera menoleh ke sumber suara,
"Waalaikum salam, ustadzah Nafis! Sejak kapan di situ?" tanyanya sambil melihat ke arah ustad Zaki yang sudah menghilang.
"Alhamdulillah, sejak ustad Farid ngobrol dengan ustad Zaki tadi. Kenapa ustad Zaki terlihat buru-buru, apa ada masalah?"
Ustad Farid tampak bingung, lebih tepatnya saat ini ia tengah merasa bersalah,
Apa sebaiknya aku ceritakan semuanya sama ustadzah Nafis ya ...., batinnya.
"Apa ustadzah Nafis ada waktu?"
"Hmm?"
"Sebenarnya ada yang ingin saya bicarakan Dangan ustadzah Nafis!"
"Kebetulan saya tidak sedang buru-buru kok ustad, "
"Syukurlah!"
Akhirnya setelah pesanan roti bakarnya selesai, ustad Farid mengajak ustadzah Nafis untung duduk di salah satu kursi panjang yang berada di depan minimarket.
Ustad Farid pun menceritakan semuanya pada ustadzah Nafis, te yang Zahra dan buku itu, tampak beberapa kali ustadzah Nafis mengganti ekspresi nya Dangan cepat berkali-kali hingga ustad Farid menyelesaikan ceritanya.
***
Ustad Zaki mempercepat langkahnya saat masuk ke dalam rumah, ia benar-benar tidak sabar ingin segera memeluk sang istri dan meminta maaf.
"Assalamualaikum!" ucapnya saat membuka pintu kamar membuat Zahra yang tengah menyisir rambutnya segera menoleh ke sumber suara,
"Waalaikum salam!"
Tanpa basa-basi, ustad Zaki pun segera berjalan cepat mendekati Zahra dan memeluknya dengan erat membuat Zahra terkejut,
Ingin sekali bertanya, tapi ia urungkan. Ia lebih memilih memberi kesempatan pada suaminya untuk memeluknya saat ini, mungkin saat ini keadaan sang suami sedang tidak baik-baik saja seperti dirinya.
__ADS_1
"Maafin mas ya dek!" akhirnya kata-kata itu terucap juga.
"Buat apa mas?" tanya Zahra yang memang tidak mengerti permintaan maaf atas hal apa.
Ustad Zaki pun melepaskan pelukannya dan menuntun Zahra untuk duduk di tepi tempat tidur,
"Minta maaf buat apa mas?" tanya Zahra lagi dan ustad Zaki pun melirik sebuah buku yang masih teronggok di atas meja.
"Buku itu!" ucap ustad Zaki sambil mengerahkan dagunya ke buku itu,
"Ohhhh, mas ustad tahu kalau Zahra sudah tahu siapa yang di kisahkan dalam buku itu?" tanya dengan wajah santai dan hal itu malah membuat ustad Zaki greget.
Ia menarik kedua bahu Zahra,
"Dek, aku ini suami kamu!"
"Iya, tahu!"
Ustad Zaki mengencangkan cengkeramannya, "Dek, bukan hal yang salah jika kamu menangis di bahu mas, atau di pelukan mas. Jangan terus pura-pura tegar untuk menyembunyikan luka dek Zahra dari mas. Jangan membuat mas semakin merasa bersalah!" ucapnya dengan nada rendah dan dalam.
Hingga tiba-tiba bahu yang ia cengkeram akhirnya bergetar seirama dengan mata Zahra yang mulai basah,
"Tapi di depan mas boleh dek!" sekali lagi ustad Zaki menarik tubuh Zahra kedalam dekapannya, hingga air mata yang keluar dari mata Zahra berhasil membasahi kemeja yang di kenakan oleh ustad Zaki.
Ustad Zaki mengusap punggung Zahra, berharap usapan lembutnya bisa sedikit meredakan tangusan Zahra,
"Menangislah dek, mas tidak akan pernah melarang!"
Dan Zahra pun semakin mengeraskan tangisannya membuat ustad Zaki tersenyum, ia bahagia karena istrinya bisa nyaman saat harus mencurahkan kesedihannya.
Cukup lama hingga akhirnya tangisan Zahra redab, ustad Zaki mengambilka tisu untuknya, untuk menghapus sisa air matanya dan yang pasti ingusnya juga.
"Jangan jijik ya mas!?" ucap Zahra saat mengeluarkan seluruh isi hidungnya.
Dan ustad Zaki pun hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.
"Kenapa mas ustad malah meminta Zahra buat menangis, bukan menenangkan Zahra?" tanya Zahra kemudian dengan masih sibuk dengan sisa-sisa air matanya itu.
"Karena mas seneng!"
__ADS_1
"Kok seneng sih liat istrinya nangis?"
"Senengnya bukan di point' yang itu!"
"Lalu?"
"Senengnya karena mas tahu, hanya bahu dan dada mas yang akan dek Zahra jadikan sandaran saat dek Zahra sedih, mas jadi merasa begitu penting dalam hidup dek Zahra!?"
"Astaghfirullah hal azim, bisa-bisanya gombal!"
"Enggak dek, mas bicara serius! Baiklah sekarang mas mau tanya serius sama dek Zahra!" ucap ustad Zaki sambil memperbaiki posisi duduknya menghadap Zahra sempurna,
"Hmmm!?"
"Dek Zahra sudah tahu kisah dalam buku itu kisahnya siapa! Tapi sama persis seperti yang di katakan ustad Farid kalau itu dari sudut pandang ustadzah Nafis, lalu kenapa dek Zahra tidak menanyakan hal itu dari sudut pandang mas?"
"Karena Zahra tahu mas, semua yang tersembunyi itu artinya Allah tidak ingin aku tahu, dan mas sendiri kan yang bilang kalau Allah itu kasih apapun ke kita bukan apa yang kita inginkan tapi apa yang kita butuhkan! Kalau menurut Allah, yang Zahra butuhkan itu hanya mas ustad bukan kisah mas ustad di masa lalu, mungkin akan lebih baik kalau Zahra tidak perlu tahu kan!?"
Ustad Zaki tersenyum dengan mengusap kepala sang istri yang kebetulan belum memakai hijabnya, ia tidak menyangka secepat ini Zahra kecilnya menjadi begitu dewasa,
"Kamu yakin?" tanyanya lagi.
"Ya, insyaallah."
"Siapa tahu ada versi lain yang tidak ada dalam buku itu! Apa dek Zahra masih tetap tidak penasaran?"
"Kalau begitu nanti saja cerita versi mas ustad. Kalau Zahra benar-benar membutuhkannya!"
"Baiklah, saat itu tiba. Saat dek Zahra benar-benar ingin tahu, mas janji akan ceritakan semuanya!"
"Hmmm!"
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
Ig @tri.ani5249
__ADS_1
...Happy reading 🥰🥰🥰...