Menikahi ustad tampan

Menikahi ustad tampan
Bonschap 22


__ADS_3

"Hati-hati dek," ustad Zaki selalu merasa merinding sekali setiap kali melihat cara jalan istrinya yang kadang tidak seperti orang hamil biasanya.


"Mas ustad, ayo cepetan." terlihat sekali Zahra sudah sangat tidak sabar ingin segera menjelajahi isi mall. Ia sudah lama sekali tidak di ijinkan untuk jalan-jalan seperti ini. Entah dapat angin segar dari mana hingga suaminya akhirnya terbuka hatinya.


Srekkkk


Ustad Zaki segera meraih pinggang Zahra meskipun sudah tidak sepenuhnya bisa melingkar,


"Mau jalan pelan sama mas, atau mas akan cari kursi biar dek Zahra duduk di kursi roda," bisik ustad Zaki membuat mata Zahra membulat sempurna.


"Apaan sih mas, nggak gitu konsepnya."


"Baiklah, berarti setuju ya."


"Ihhhh, suk banget maksa." akhirnya Zahra menyerah, ia memperlambat langkahnya.


Cup


"Anak pintar." sebuah kecupan mendarat di kening Zahra, ustad Zaki tidak peduli meskipun Zahra cemberut tapi ia akan merasa tenang saat Zahra berjalan pelan bersamanya, tidak berlarian sepeti biasanya.


Akhrinya mereka sampai di toko khusus peralatan bayi, mata Zahra langsung berbinar, ia tidak sabar ingin segera berlarian kesana kemari untuk memilih pernak pernik bayi.


"Eitsss, mau ke mana?" segera ustad Zaki menahan tubuh Zahra.


"Mau milih-milih mas,"


"Dek Zahra yang tunjuk, mas yang ambil. Atau dek Zahra mau duduk saja di sana," ucap ustad Zaki sambil menunjuk sebuah sofa yang ada di sudut ruangan yang disediakan khusus sebagai tempat tunggu.


Zahra dengan cepat menggeleng, "Aku akan pelan,"


"Bagus,"


Akhirnya dengan langkah pelan, Zahra memilih berbagai perlengkapan.


"Dek, ini nggak terlalu banyak?" tanya ustad Zaki saat menyadari ini sudah troli yang ke dua dan sudah penuh lagi.


"Mas, bayi itu banyak banget pernak perniknya."


"Bagaimana kalau lainnya kita beli kalau dedeknya sudah agak besaran? Yang itu kan biasanya di pakek pas dedek sudah bisa duduk sayang." ucapnya sambil menunjuk kursi makan bayi yang di pegang oleh sang istri.


"Tapi mas_,"


"Kita beli yang segera di perlukan aja ya," bujuk ustad Zaki. Bukanya ia tidak mau membelikan, tapi ustad Zaki khawatir jika Zahra akan kelelahan.


"Lagi pula juga akan sangat mubazhir kalau menurut lapar mata dek."

__ADS_1


"Baiklah."


Akhrinya Zahra menuruti perkataan suaminya. Setelah selesai belanja, mereka pun memilih salah satu tempat makan untuk memanjakan perut.


"Mau nambah lagi dek?"


"Enggak deh mas, kenyang." ucap Zahra sambil mengusap perutnya.


"Alhamdulillah," ucap sang suami membuat Zahra tersenyum tersipu.


"Iya Alhamdulillah," timpalnya kemudian.


"Oh iya dek, kebetulan kita di sini, bagaimana kalau kita mampir ke tempat praktek dokter Retno?" tanya ustad Zaki, dokter Retno adalah dokter kandungan yang cukup bagus, dia juga teman ustad Zaki. dokter Retno juga dokter yang sekali memberi masukan pada ustad Zaki untuk masalah kehamilan zahra,


"Sekalian silaturahmi dek, semejak dokter pindah ke Malang, kan kita jarang ketemu."


Zahra menatap curiga pada sang suami, "Mas nggak sedang merencanakan sesuatu kan?"


"Merencanakan apa? Ya enggak lah dek."


"Beneran kan, cuma berkunjung?"


"Insyaallah,"


"Yang punya kepastian itu hanya Allah, dek."


"Ya maksudnya nggak gitu,"


"Trus gimana?"


"Ya, ya, yaudah deh Zahra manut wes."


Ustad Zaki tersenyum dan mengusap puncak kepala zahra yang tertutup jilbab.


Setelah menyelesaikan makannya, ustad Zaki pun mengajak Zahra berkunjung ke klinik dokter Retno.


"Ya Allah, senang sekali kalian mau berkunjung ke sini,"


"Alhamdulillah, kebetulan kami tadi sedang belanja, sekalian mampir. Iya kan dek?" tidak lupa ustad Zaki meminta pendapat dari Zahra.


"Iya dok."


"Bagaimana, tidak ada masalah lagi kan sekarang. Bayi dan ibunya sehat?" tanya dokter Retno pada Zahra.


"Alhamdulillah sehat dok."

__ADS_1


Setelah bercakap-cakap lama, akhrinya ustad Zaki pun memutuskan untuk berpamitan. Tapi saat Zahra hendak berdiri dari duduknya tiba-tiba ia merasa pinggang nyeri dan perutnya mengejang, ia menggigit bibir bawahnya dan tangannya mencengkeram kuat ke tangan ustad Zaki.


Menyadari ada yang aneh, ustad Zaki pun segera memerhatikan sang istri,


"Dek, ada apa?"


"Bentar ya mas berdirinya, kayaknya dedek bayi lagi nendang." ucap Zahra lirih tapi masih bisa di dengar oleh ustad Zaki.


"Ada apa, apa ada masalah?" ternyata hal itu juga di sadari oleh dokter Retno.


"Nggak pa pa dok, hanya perutnya sedikit mengeras." ucap Zahra lirih menahan sakit.


"Kita periksa sebentar ya," ucap dokter Retno dan Zahra menatap sang suami, ia terlihat begitu keberatan jika harus di periksa,


"Nggak lama kok kalau nggak ada masalah." bujuk dokter Retno.


Akhirnya Zahra pun mengangukkan kepalanya, ia juga tidak ingin membuat suaminya semakin cemas melihat keadaannya yang seperti itu.


Akhirnya dokter Retno pun memeriksa keadaan Zahra dan bayinya, memastikan sesuatu.


"Bagaimana dok?" tanya ustad Zaki saat Zahra sudah keluar dari ruang pemeriksaan.


"Kayaknya nggak bisa deh pulang sekarang,"


"Maksud dokter?"


"Zahra sudah pembukaan empat, takutnya nanti di perjalanan malah terjadi hal-hal yang tidak di inginkan."


Pendengar penuturan dokter Retno, ustad Zaki pun segara menggenggam erat tangan Zahra, ia pun segera berjongkok di samping Zahra,


"Nggak pa pa ya dek, lahiran di sini?" tanyanya khawatir.


"Atau kalau dek Zahra mau, biar mas minta mas Imron buat antar bapak sama ibuk juga ke sini."


Zahra menggelengkan kepalanya dengan cepat,


"Nggak usah mas, kasih tau aja kalau Zahra sudah benar-benar lahiran. Mas ustad mau kan temenin Zahra sendiri?"


Cup


Ustad Zaki mengusap kening Zahra dan mengecupnya, tangannya juga mengusap-usap lembut tangan Zahra,


"Pasti, kita berjuang bersama-sama ya,"


"Siapkan semuanya, bawa Bu Zahra ke ruang bersalin." ucap dokter Retno menginstruksi beberapa perawat yang berada di sekitarnya setelah memastikan Zahra bersedia untuk melahirkan di kliniknya.

__ADS_1


__ADS_2