Menikahi ustad tampan

Menikahi ustad tampan
Nggak peka


__ADS_3

Kini ustad Zaki membawa Zahra dalam gendongannya, mereka harus melewati lorong-lorong kelas untuk sampai di depan sekolah tempat ustad Zaki memarkir motornya.


Karena pemandangan yang luar biasa itu, hingga membuat beberapa siswa tertarik untuk menyaksikan hal itu, Zahra yang menyadari telah menjadi pusat perhatian pun memilih untuk semakin menyusupkan wajahnya.


"Mas ustad, aku kayaknya bisa jalan sendiri." bisik Zahra,


"Sudah hampir sampai!" dan kata-kata singkat itu berhasil membuat Zahra terdiam, mau meronta pun juga percuma.


Beberapa siswa saling berbisik, tertarik dengan pria berpeci yang menggendong Zahra meskipun di dalam ada guru yang tengah mengajar hal itu tidak mempengaruhi mereka.


Hal itu, tidak terkecuali dengan Bayu, anak-anak yang satu kelas dengan Bayu baru saja selesai olah raga dan kembali ke kelasnya.


"Zahra sama siapa?" tanya seorang anak yang duduk di samping Bayu. Mereka terlihat masih menikmati es tehnya sambil menunggu guru datang ke kelas mereka.


"Mas nya!" jawab Bayu tanpa mengalihkan perhatiannya dari Zahra dan ustad Zaki.


Teman berambut jambul yang ada di sampingnya itu pun terlihat kembali berpikir,


"Bukankah itu bukan yang kemarin?"


"Maksudnya?" Bayu masih tidak terlalu merespon tapi ia juga menanggapinya,


"Iya, sepertinya bukan pria yang sama, mas nya yang sekarang terlihat jauh lebih tampan dari yang kemarin."


Apa iya? Sepertinya memang jauh berbeda dengan yang beberapa hari lalu, Bayu bahkan sempat berbicara dengan mas nya Zahra. dan sepertinya memang mereka jauh berbeda. Yang kemarin kulitnya sawo matang tapi yang sekarang putih bersih. Tapi dengan cepat Bayu menepis pikirannya, ia berusaha untuk tidak meragukan Zahra.


"Kamu salah lihat mungkin!!" ucapnya lagi.


"Enggak, wong jelas-jelas beda. Atau mungkin itu mas nya Zahra yang lain, tapi memang masnya Zahra ada berapa?"


"Sudah ahhh, mungkin memang itu mas nya yang lain." Bayu memilih menundukkan kepalanya sejenak dengan bertumpu pada kedua lengannya yang ia lipat di atas meja.


"Ehhh tapi kemarin aku sempat tanya sih sama Nur, kata Nur masnya Zahra cuma satu."


Mendengarkan hal itu, Bayi terpaksa kembali mengangkat kepalanya, ia pun menoleh ke arah temannya dengan tatapan tidak percaya,


"Memang kamu belum pernah tanya sama Zahra? kalian kan sudah pacaran hampir dua tahun. Masak nggak tahu apa-apa tentang Zahra?"


Memang selama ini ia tidak pernah menanyakan banyak hal tentang Zahra, bagaimana keluarganya, bagaimana saudaranya, bagaimana kehidupannya.


"Mungkin yang itu mas ponakan!" ucap Bayu mencoba menenangkan hatinya sendiri.


"Bisa jadi."


Akhirnya tidak ada lagi suara yang keluar dari temannya itu, sepertinya ia sudah menemukan jawaban yang memuaskan.


Tapi berbeda dengan Bayu, ia malah semakin di buat penasaran, walaupun ia mencoba untuk biasa saja dan menganggap semua itu bukan hal yang serius tetap saja pikiran Bayu tidak bisa berbohong.

__ADS_1


Perasaannya jelas berbeda saat berhadapan dengan pria itu.


Pria yang ia kira saudara Zahra itu menatap Zahra bukan seperti saudara atau adiknya, tapi lebih seperti laki-laki pada perempuan yang tengah cemburu.


Apa Iya dia masnya Zahra?


Bayu merasa ragu dengan apa yang dikatakannya sendiri.


Rasanya mereka tidak seperti kakak dan adik ....


Kini Zahra dan ustad Zaki sudah berada di samping motornya, dekat pintu masuk.


Ustad Zaki pun menurunkan Zahra dengan perlahan,


"Kuat berdiri kan?" tanya ustad Zaki memastikan dan Zahra hanya bisa menganggukkan kepalanya.


Undat Zaki pun mengambil helm dan memakaikannha pada Zahra. Tapi bukannya langsung memakai helmnya sendiri, ustad Zaki malah terlihat mencari-cari sesuatu.


"Sekarang apa lagi?"


"Sebentar!" ustad Zaki meraih tas yang ada di punggungnya dan mencari sesuatu di sana.


"Ada apa sih?" Zahra benar-benar sudah tidak sabar ingin segera pergi dari sekolah tapi ustad Zaki malah tampak sibuk sendiri.


"Kain yang aku pakaikan tadi pagi mana?"


"Ketinggalan di kelas mungkin!"


Hehhhh .....


Tampak ustad Zaki menghela nafas seperti tengah memikirkan sesuatu, lalu tatapannya tertuju pada jaket yang sengaja ia letakkan di atas stir motor,


tidak ada pilihan lain ....


Hanya ada sebuah jaket miliknya, ia pun mengambilnya dan mulai melilitkan di pinggang Zahra.


"Ribet banget sih, Mas! perutku keburu sakit. Mana lapar lagi!"


"Iya bentar pakai ini dulu nanti di jalan akan banyak orang apalagi di jalan masuk kampung orang-orang sedang melakukan kerja bakti. Sayang kalau di lihatin orang."


"Issttttt!?"


Akhirnya ustad Zaki melajukan motornya,


"Pegangan dek!?" ucap ustad Zaki saat merasakan Zahra memberi jarak saat duduk.


Tanpa menjawab, Zahra pun langsung menautkan tangannya di pinggang ustad Zaki.

__ADS_1


"Kita beli makanan dulu ya!"


"Nggak mau, kelamaan."


"Cuma di bungkus, kalau dek Zahra nggak mau turun nanti mas aja yang turun. Dek Zahra mau makan apa?"


"Apa aja!"


"Ayam bakar?"


"Terserah!"


Akhirnya ustad Zaki meminggirkan motornya tepat di restauran ayam bakar.


"Kenapa di sini? Nggak di warung depan aja?" tanya Zahra sambil menatap restauran itu.


Memang dia punya uang? Kan harganya dua kali lipat dari yang di pinggir jalan ...


"Hanya dua porsi aja, nggak akan menguras uangku. Tunggu bentar ya!"


Ustad Zaki pun segera meninggalkan Zahra.


"Tahu di sini, mending aku tadi ikut masuk. Dia juga nggak nawari lagi!" gerutu Zahra. Ia pikir ustad Zaki akan mengajaknya membeli makanan di pedagang kaki lima, tapi malah di restauran.


Baru beberapa menit, ustad Zaki sudah keluar dengan membawa kantong plastik berisi dua porsi ayam bakar.


"Cepet banget?"


"Tadi udah pesan, jadi tinggal ambil. Kasihan kan kalau kamu nunggunya kelamaan."


Ustad Zaki kembali memakai helmnya dan naik ke atas motornya, tapi Zahra masih menyesali keputusannya karena tidak ikut masuk, ia belum pernah masuk ke restauran mahal itu sebelumnya.


"Dek, jadi pulang nggak?"


Pertanyaan itu kembali membuat Zahra tersadar, ia menjejakkan kakinya dengan kesal dan ikut naik ke atas motor.


"Dasar nggak peka!?" keluhnya lirih tapi masih bisa di dengar oleh ustad Zaki.


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya


IG @tri.ani5249


...Happy Reading 🥰🥰🥰...

__ADS_1


__ADS_2