Menikahi ustad tampan

Menikahi ustad tampan
Pengakuan Imah


__ADS_3

Pagi ini seperti biasa, ustad Zaki sudah bersiap-siap untuk mengantar Zahra ke sekolah. Ia sudah memanasi motornya di halaman depan sambil menunggu Zahra keluar.


Hingga sebuah motor berhenti tepat di depan rumahnya membuat ustad Zaki menghentikan kegiatannya.


Pria yang duduk di atas motor itu segera membuka helm dan menghampiri ustad Zaki,


"Assalamualaikum!"


Ustad Zaki tersenyum dan mematikan motornya,


"Waalaikum salam, aku kira mas Anwar tidak akan datang!"


"Aku pasti datang untuk menyelesaikan semuanya!"


"Alhamdulillah, mari masuk!?"


Baru akan melangkah ke teras, Zahra sudah lebih dulu keluar dari dalam rumah.


"Mas, ini_?" Zahra menunjuk pada pria yang sekilas memang mirip dengan suaminya, tapi setelah diperhatikan dengan baik ternyata mereka berbeda.


"Iya, ini mas Anwar!" ustad Zaki segera memperkenalkan diri. Dengan cepat Zahra mengulurkan tangannya, hampir saja Anwar menerima uluran tangannya Zahra tapi dengan cepat tangan itu di tarik oleh ustad Zaki,


"Sebaiknya kita bicara di dalam!"


"Ahhhh nggak perlu mas, Zahra kan mau ke sekolah. Bagaimana kalau Zahra berangkat sendiri saja!" bagi Zahra ini kesempatan langka ia bisa berangkat sendiri ke sekolah apa lagi saat melihat sepeda motor yang sudah siap si depan. Membayangkan bisa berangkat ke sekolah dengan motornya sendiri sudah pasti sangat menyenangkan.


"Tunggu sebentar!?"


"Jadi aku bisa berangkat sendiri?"


"Tanpa mas!" ucap ustad Zaki dengan santainya dan memilih mengajak tamunya masuk ke dalam rumah.


"Mas, mana kuncinya!?" bisik Zahra lagi dan ustad Zaki hanya tersenyum.


"Nanti!"


Hingga terdengar suara motor yang berhenti tepat di depan rumahnya,


"Itu!?" ucap ustad Zaki membuat Zahra menoleh ke arah luar, ternyata Imron sudah menunggunya di luar.


"Maksudnya?"


"Mas Imron yang akan mengantarmu ke sekolah!?"


"Lalu apa gunanya motor dipanasi tadi?" tanya Zahra dengan wajah kesalnya.


"Mas mau pakek buat nganter mas Anwar!"


Jadi dia sudah tahu kalau Anwar akan datang? Pakek acara rahasia-rahasia an segala lagi ..., batin Zahra sambil menatap suaminya dengan tatapan kesal, yang mendapat tatapan seperti itu malah tersenyum lembut seperti biasanya.


"Dek, cepetan! Nanti terlambat loh!" ustad Zaki malah memilih kembali mengingatkan sang istri,

__ADS_1


"Ihhhhh!?" Zahra menjejakkan kakinya ke lantai dengan kesal dan hampir berlalu, tapi segera kembali di tahan oleh ustad Zaki.


"Apa lagi?" tanyanya.


Ustad Zaki pun mengulurkan tangannya, ia tidak mungkin meminta cium saat ini karena ada Anwar di sana.


Zahra pun segera menerima uluran tangan ustad Zaki dan mencium punggung tangannya,


"Assalamualaikum!"


"Waalaikum salam!"


Zahra pun akhirnya meninggalkan rumah dengan kesal,


"Kenapa pagi-pagi wajahnya di tekuk begitu?" tanya Imron yang sudah menunggunya di luar.


"Lain kali mas nggak usah nurut deh kalau di suruh mas ustad!'


"Kenapa emangnya?"


"Zahra juga pengen sekali-kali naik motor sendiri, apa gunanya coba bisa motor kalah kemana-mana selalu di anter!?"


Tukkkk


Segera jari-jari Imron mendarat sempurna di kepala Zahra,


"Aduhhhh, kok malah di ketuk sih kepala Zahra!?" protes Zahra kesal.


"Jangan mimpi ya, ayo naik!"


Setelah keberangkatan Zahra, akhirnya ustad Zaki mengajak Anwar ke rumah Imah.


Tentu saja kedatangan mereka mengejutkan pemilik rumah terutama kyai Rosyid.


"Ini maksudnya apa?" tanya kyai Rosyid yang mulai curiga apalagi melihat pria yang di bawa ustad Zaki begitu mirip dengannya.


"Perkenalnya kyai, saya Anwar!" Anwar pun mengulurkan tangannya dan memperkenalkan diri.


"Lalu apa maksud kedatangan kamu ke sini?"


Anwar pun segara menjatuhkan tubuhnya dan bersimpuh di kaki kyai Rosyid.


"Maafkan saya kyai, sungguh saya menyesal tapi percayalah saya siap untuk bertanggung jawab!"


"Apa ini maksudnya?, berdirlah!" kyai Rosyid mencoba meminta Anwar untuk berdiri.


"Saya yang menghamili Imah!"


Ucapan Anwar berhasil membuat tubuh kyai Rosyid limbung dan terduduk di sofa,


"Omong kosong apa ini? Kamu sengaja membuat kan demi bisa menikah dengan putri saya? Sudah di bayar berapa kamu oleh ustad Zaki?"

__ADS_1


"Astaghfirullah hal azim, kyai. Sungguh saya tidak melakukan hal itu!" ustad Zaki cukup terkejut dengan tuduhan yang dilayangkan padanya.


"Saya punya buktinya kyai, semua foto-foto itu adalah saya. Bukan Zaki, tapi sungguh saya tidak tahu siapa yang dengan sengaja menyebarkan foto itu." Anwar mencoba meyakinkan kyai Rosyid.


"Saya tidak percaya!?" kyai Rosyid masih kukuh dengan keputusannya.


"Jawabannya ada pada Imah, kyai. Jika kyai mengijinkan Imah untuk bertemu dengan kami, insyaallah masalahnya akan segera selesai!" ustad Zaki berusaha menengahi, perdebatan ini tidak akan pernah menemukan titik terang jika tidak ada pengakuan langsung dari Imah.


"Tapi Imah_!" kyai Rosyid terlihat keberatan.


"Imah harus bersedia!" ustad Zaki segera mendesaknya. Ia tidak mau masalah ini semakin berlarut-larut dan akan sangat berdampak pada masyarakat.


"Baiklah, aku usahakan!"


"Terimakasih, kyai!"


Kyai Rosyid pun segara beranjak dari duduknya dan masuk kembali ke dalam rumah.


Cukup lama hingga kyai Rosyid kembali, dan kali ini tidak sia-sia, di belakangnya ada Imah. Gadis itu tampak pucat dengan wajah yang tidak terawat, sepertinya ia terlalu banyak menangis, tubuhnya juga lebih kurus dari sebelumnya.


"Anwar!?" Imah begitu terkejut melihat keberadaan Anwar di sana.


"Iya Imah, ini aku! Maaf karena aku baru tahu kalau kamu hamil. Aku siap untuk tanggung jawab Imah!"


Bukannya menjawab pengakuan Anwar, Imah malah terjatuh dan menangis tersedu-sedu.


"Imah, katakan sama Abah. Apa benar yang dikatakan pemuda itu?" tanya kyai Rosyid dan Imah malah semakin menangis.


"Maafkan Imah, Abah! Maafkan Imah!?" Imah langsung merangkul kaki kyai Rosyid meminta pengampunan.


"Jadi semuanya benar?" tanya kyai Rosyid dengan suara lemahnya dan Imah hanya bisa terus menangis dihadapan Abah dan uminya, ia benar-benar tampak menyesali perbuatannya, ia juga tanpa sadar sudah membuat masalah besar di kampungnya.


***


"Jadi bagaimana?"


Zahra terus saja mengekori suaminya, ia menunggu berita dari sang suami terkait masalah Imah.


"Dek, pikirkan pr kamu."


"Mana bisa aku mengerjakan pr kalau pikiranku selalu tertuju pada masalah Imah!" gerutu Zahra kesal, karena nyatanya menggali informasi dari sang suami seperti mencari jarum dalam tumpukan jerami, rumit.


Ustad Zaki hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya,


"Terserah lah, menyebalkan sekali jadi orang!" Zahra memilih berlalu meninggalkan suaminya dan mulai membuka bukunya, ia harus mengerjakan pr dulu jika ingin mendapatkan informasi dari suaminya.


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya

__ADS_1


IG @tri.ani5249


Happy Reading 🥰🥰🥰🥰


__ADS_2