
Kini ustad Zaki sudah duduk di sudut sofa yang ada di ruang tamu mertuanya bersama sepasang suami istri yang telah beberapa bulan ini menjadi mertuanya.
Tampak beberapa kali ustad Zaki mer*mas jari-jari nya, wajahnya menyimpan kecemasan.
"Pak_, buk_, sungguh saya minta maaf, ini di luar kuasa saya!" ucapnya setelah sekian lama saling diam.
Pria dengan wajah pucat dan terlihat begitu banyak kerutan di wajahnya itu tampak terdiam, sepertinya ia tengah mempertimbangkan sesuatu, atau mungkin sedang melihat situasi hingga wanita paruh baya yang ada di sampingnya menepuk punggung tangannya yang sengaja ia letakkan di atas pahanya,
"Pak," panggilnya dengan lembut dan penuh penekanan, terlihat rasa sungkan mendalam di raut wajah tua wanita itu.
Hehhhh ....
Sebuah helaan nafas terdengar halus keluar dari bibir pria dengan rambut yang mulai memutih itu,
"Nak zaki_!" sebuah panggilan yang menyatakan kedekatannya pada suami putrinya itu, "Bapak tidak tahu harus bagaimana, tapi bapak percaya nak Zaki tidak mungkin melakukan hal itu. Bapak harap nak Zaki bisa menyelesaikan permasalahan ini lebih cepat!" ucapnya dengan begitu berwibawa, walaupun seorang petani biasa tapi pak Warsi cukup di segani di kampungnya, bukan karena dia orang kaya atau tokoh masyarakat tapi kemampuannya menyikapi masalah dengan bijak membuat beberapa tetangga memilih meminta pendapat pada pak Warsi.
Senyum tipis mulai terlihat di bibir ustad Zaki, ada sedikit kelegaan dalam dirinya, setidaknya ia akan sedikit merasa aman meninggalkan Zahra di rumah orang tuanya untuk beberapa waktu,
"Terimakasih pak, insyaallah Zaki akan menyelesaikan semuanya dengan lebih cepat!"
***
Kini ustad Zaki sudah berada di masjid yang selalu menjadi tempatnya untuk mengajar mengaji, tapi ada yang aneh di tempat itu, biasanya sehabis sholat ashar, anak-anak sudah ramai berdatangan ke masjid untuk mengaji, tapi hari ini begitu sepi.
Ustad Zaki duduk termenung di serambi masjid sudah dari setengah jam yang lalu, tapi tidak satupun anak yang datang ke sana, ia hanya di temani oleh Amir yang juga tengah menunggu anak-anak, seingatnya mereka tidak meliburkan anak-anak.
"Ustad tidak meliburkan anak-anak kan?" tanya pria yang duduk tidak jauh dari ustad Zaki itu,
"Tidak," jawab ustad Zaki singkat tapi dari jawabannya itu, ia terlihat tengah memikirkan sesuatu,
"Hehhhhh ...., ini pasti gara-gara Imah, nggak nyangka aku, gadis seperti Imah bisa melakukan hal itu_!"
"Kamu benar-benar tidak melakukan hal itu kan, Mir?" tanya ustad Zaki tanpa mengubah ekspresi wajahnya yang tampak datar,
Berbeda dengan Amir, ia begitu terkejut mendengar pertanyaan dari ustad Zaki, "Astaghfirullah hal azim, ustad! Jangankan sampai menghamili anak gadis orang ustad, dekat sama perempuan saja nggak pernah selain sama ibu saya!"
Ustad Zaki akhirnya tersadar, ia menoleh pada Amir dan mengulas senyum tipis di bibirnya,
"Maaf ya Mir, bukan begitu maksud saya, saya sedang mencari solusi atas masalah ini."
__ADS_1
"Amir tahu, ustad! Seharusnya Amir yang minta maaf karena Amir yang memaksa ustad untuk menerima Imah mengajar di sini, andai saja_!"
"Jangan menyalahkan apa yang sudah terjadi Mir, semua sudah menjadi kehendak yang maha kuasa. Kita sebagai makluknya hanya bisa bisa berusaha menyelesaikannya atas ijin Allah juga."
"Amir tahu, ustad pasti punya solusinya!"
"Insyaallah, doakan ya Mir!"
"Pasti ustad!"
Sejenak mereka kembali terdiam, terlarut dalam pikirannya masing-masing. Hingga akhirnya ustad Zaki mengingat sesuatu,
"Mir, bukankah Imah sekarang kuliah?"
"Iya,"
"Kalau boleh tahu, kamu tahu nggak di mana kampus Imah?"
"Tahu ustad!"
"Besok antar aku ke sana ya!"
"Besok aku kasih tahu, ya sudah aku pergi dulu ya!" ustad Zaki pun beranjak dari duduknya.
"Kemana?"
"Mau ke rumah kyai Rosyid! Assalamualaikum!"
"Waalaikum salam!"
Amir hanya bisa terdiam melihat ustad Zaki yang semakin menjauh, ia itu mengerti apa yang akan di lakukan ustad Zaki di rumah kyai Rosyid.
"Mau apa lagi sih ustad ke sana?" gumamnya pelan penuh rasa penasaran tapi ia juga tidak ingin mengikuti sang ustad di sana.
***
"Bagaimana ustad, apa ustad Zaki sudah mengambil keputusan?"
Kini ustad Zaki sudah duduk berhadapan dengan kyai Rosyid. Pria dengan kopyah putih yang hampir senada dengan warna rambutnya itu terus mendesak ustad Zaki.
__ADS_1
"Maaf kyai, tapi kedatangan saya ke sini, saya ingin meminta ijin bertemu dengan Imah, sebentar saja!"
"Sudah saya katakan dari awal kan ustad, Imah terus mengurung diri di kamarnya. Imah begitu malu dengan kejadian ini!"
"Saya akan bertanggung jawab jika terbukti saya yang melakukannya, kyai. Tapi sebelum itu, ijinkan saya untuk membuktikan jika itu bukan perbuatan saya!"
"Ckkkk!" tampak kyai Rosyid berdecak tampak tidak suka dengan jawaban ustad Zaki, "Lalu bagaimana dengan bukti yang semuanya mengarah pada ustad?"
"Insyaallah itu hanya rekayasa seseorang, kyai!"
"Maksud ustad, rekayasa putri saya!?" sepertinya kyai Rosyid sudah mulai tersurut emosi.
Tapi ustad Zaki masih menampakkan wajah tenangnya, ia bahkan ia juga masih bisa tersenyum menghadapi kyai Rosyid,
"Saya tidak menuduh siapapun kyai, tapi jika memang Imah tidak melakukan hal itu, dia pasti bersedia untuk menemui saya!"
Setelah mempertimbangkan ucapan ustad Zaki, akhirnya kyai Rosyid setuju dengan ustad Zaki.
Kini ustad Zaki sudah berada di depan sebuah kamar yang terkunci rapat dari dalam,
Tok tok tok
"Assalamualaikum, Imah. Ini saya Zaki. Bisa kita bicara sebentar?"
Tidak ada jawaban dari dalam, tapi ustad Zaki tidak menyerah. Ia kembali mengetuk pintu itu,
"Baiklah, jika dek Imah tidak mau bicara, biar saya saja yang bicara." ustad Zaki memberi jeda pada ucapannya, "Asal dek Imah tahu, apa yang terjadi pada dek Imah sudah menciptakan keresahan di masyarakat, jika dek Imah tetap diam maka semuanya akan semakin rumit, bukan hanya saya atau dek Imah yang akan mendapatkan dampak dari masalah ini, tapi orang lain juga terutama anak-anak madrasah, hari ini tidak ada satu pun anak yang berangkat mengaji."
"Semoga setelah ini dek Imah bisa memikirkan kembali, dan kita bisa bicarakan semuanya baik-baik!"
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
IG @tri.ani5249
Happy Reading 🥰🥰🥰
__ADS_1
"