Menikahi ustad tampan

Menikahi ustad tampan
Berapa ronde?


__ADS_3

"Dek makan dulu, yuk!" ustad Zaki sudah kembali dengan membawa sebuah nampan yang berisi dua piring nasi goreng.


Zahra yang tengah berhadapan dengan setumpuk buku segera tersenyum semangat, ternyata meskipun di rumah saja tetap saja wajib belajar, ustad Zaki menjelma menjadi guru privat untuk Zahra seharian ini.


"Habis ini sudah ya belajarnya, aku kan sudah lelah mas!?" keluh Zahra sambil meregangkan tubuhnya.


Ustad Zaki meletakkan nampan itu di atas meja tepat di depan Zahra,


"Memang tugas dek Zahra hari ini sudah selesai?"


Dia dapat dari mana lagi semua tugas ini ..., Zahra benar-benar tidak habis pikir bagaimana bisa suaminya itu dapat bocoran tugas hari ini.


"Hanya tinggal dikit, besok aja ya!?" Zahra mengatupkan kedua tangannya.


"Sedikit juga tetap tugas dek. Nggak baik kalau nunda-nunda pekerjaan. Kalau besoi, pasti ada tugas lagi, jadi numpuk!"


Hehhhh, emang semudah itu ngitung akuntansi ....


"Sudah, jangan cemberut aja. Sini mas suapi! Di tutup dulu bukunya!"


Nahhh gitu dong ...., dari tadi kek, pakek muter-muter ...


Zahra begitu bersemangat menutup bukunya dan segera melipat kedua tangannya di atas meja bersiap untuk mendapatkan suapan dari sang suami.


"Yahhh, kok nasi goreng lagi!?" keluhnya begitu melihat menu yang sama dengan yang di makan tadi pagi.


Ustad Zaki tersenyum, "Maaf ya, hari ini mas nggak beli sayur. Tapi kalau dek Zahra nggak mau mas bisa pesankan dek Zahra makanan lainnya, mau makan apa?"


Lapar sih, tapi kalau nunggu pesenan pasti lama lagi. Bisa jadi aku di suruh belajar lagi ...


"Ini aja deh mas, Zahra mau makan ini, suapi dong!" Zahra pun segera membuka mulutnya lebar siap untuk menerima suapan dari sang suami.


Akhrinya setelah drama yang di buat Zahra, nasi goreng itu berpindah ke perutnya semua.


"Ahhhh, kenyang!" ucapnya sambil mengusap perutnya.

__ADS_1


"Alhamdulillah, dek!" ucap ustad Zaki sambil mengusap kepala Zahra.


"Biar mas bawa ke dapur dulu ya piringnya!"


"Zahra bantu ya!"


"Nggak usah, dek Zahra lanjut belajar lagi aja."


Yahhh ingat aja dia ...., Zahra hanya bisa mendengus kesal.


Ustad Zaki segera meninggalkannya, ia sudah kembali pura-pura membuka bukunya.


"Kalau begini setiap hari, bisa pecah nih kepala. Kalau di sekolah ada yang aku mintai contekan, kalau di rumah mau nyontek siapa!?" keluhnya sambil menatap angka yang berjejer panjang di bukunya, melihat angka-angka itu rasanya sudah mau mabok.


"Pokoknya aku harus cari cara biar nih angka nggak membunuhku."


Zahra mulai menyusun rencana agar suaminya tidak terus menyuruhnya belajar.


Ceklek


"Dek sudah selesai?" tanyanya dan Zahra hanya tersenyum.


"Sini mas!?" ucapnya sambil melambai manja pada sang suami.


Ustad Zaki mengeryitkan keningnya heran, ia pun perlahan mendekati Zahra dan duduk di sampingnya.


"Ada apa? Sudah selesai? Biar mas periksa ya!" ustad Zaki mengulurkan tangannya hendak mengambil buku tugas Zahra, tapi Zahra segera menahan tangannya.


"Nanti aja mas periksanya, Zahra lagi pengen di elus nih!" ucapnya sambil merebahkan tubuhnya di pangkuan sang suami, ia menarik tangan sang suami dan mengusap-usap kan di kepalanya, "Begini nyaman mas!"


Ustad Zaki hanya menggelengkan kepalanya dan melakukan seperti yang di minta sang istri,


"Kalau mas khilaf lagi jangan kapok loh ya!?" ucapnya sambil tersenyum membuat Zahra menelan Salivanya berat.


"Jangan dong!?" ucapnya dengan cepat, karena jika sampai khilaf ini bisa jadi ronde ke tiga karena tadi setelah sholat shubuh mereka melanjutkan ronde ke dua.

__ADS_1


"Kenapa? Bukankah enak?" tanya ustad Zaki lagi dengan sedikit meninggalkan cubitan di pipi Zahra.


"Ya bukan enaknya, tapi masak mau keramas berapa kali sehari, bisa jadi ubur-ubur aku!?" Zahra yang anaknya malas mandi tiba-tiba harus mandi keramas setiap hari gara-gara tempur dengan sang suami.


Ustad Zaki tersenyum hangat, ia mengusap kepala Zahra meskipun Zahra sudah tidak memintanya lagi. Ia juga menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa agar lebih nyaman duduknya. Ustad Zaki juga terlihat memejamkan matanya untuk menghilangkan lelahnya sambil menikmati moment kebersamaan mereka.


"Mas," panggil Zahra membuat ustad Zaki kembali membuka matanya dan menunduk menatap wajah sang istri.


"Hmmm?" terlihat wajah sang suami ada yang tengah di pikirkan.


"Mas apa ada masalah?" tanya Zahra sambil memperhatikan wajah sang suami.


"Enggak, mas hanya kelelahan saja mungkin!" ustad Zaki sepretnya tahu jika Zahra menyadari aura wajahnya yang tidak seperti biasanya.


"Ohhh, syukur deh!" Zahra sedikit merasa lega, kemudian ia melanjutkan pertanyaannya, "O iya, boleh nggak Zahra tanya?"


"Tanya aja dek, apapun boleh dan akan mas jawab asal mas bisa jawab dan kalaupun nggak bisa, mas akan cari tahu jawabannya dan kasih tahu dek Zahra, ada apa? Apa yang sudah menggangu pikiran dek Zahra?"


"Kenapa tiba-tiba mas mau melakukannya?" tanya Zahra dengan wajah serius. Pertanyaan ini sudah ia siapkan sejak semalam, untuk pertama kalinya mereka melakukannya padahal pernikahan mereka sudah jalan beberapa bulan, sang suami jelas mempunya akses yang besar untuk melakukan itu jauh sebelum hari ini, Zahra pun tidak mungkin bisa menolaknya karena ustad Zaki suami sah nya.


Ustad Zaki menatap ke arah Zahra, memastikan jika Zahra akan bisa menerimanya.


"Ada dua alasan, mau dengar alasan pertama dulu atau yang ke dua dulu?"


"Ya yang pertama dong mas, masak yang ke dua. Dimana-mana yang namanya angka itu berasal dari angka satu, bukan angka dua."


"Baiklah, jadi yang pertama_!" ustad Zaki sengaja memberi jeda pada ucapannya sebelum kembali melanjutkan.


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya


Ig @tri.ani5249

__ADS_1


...Happy Reading 🥰🥰🥰...


__ADS_2