Menikahi ustad tampan

Menikahi ustad tampan
Kisah dalam buku itu


__ADS_3

"Tuh anak ngapain di sana sendirian!?" ustad Farid yang tengah istirahat sejenak melihat keberadaan Zahra yang tengah duduk sendiri, "Si Zaki tau pa nggak ya? Jangan-jangan kabur-kaburan kayak kemarin!?"


Ustad Farid tampak ragu, ia sebenarnya tidak ingin mendekat ke arah Zahra. Tapi jika mengingat sahabatnya, rasanya tidak tega.


"Ya sudahlah, ada baiknya kalau aku deketin. Cuma bentar kan!"


Ustad Farid pun berjalan mendekati Zahra,


"Hmmm!" tidak ada respon dari Zahra.


"Assalamualaikum, emmm_, siapa ya? Painem kayaknya!?" ucap ustad Farid sambil mengingat-ingat nama Zahra.


"Ehhh dia nggak nyahut!?" keluhnya karena salamnya pun tidak di jawab oleh Zahra.


Kemudian ia memperhatikan lagi Zahra,


"Pantes aja pakek sumpel kuping!" gerutunya.


"Neng, bisa denger nggak suara akang Farid, di sini ada orang!" ucap ustad Farid kali ini meninggikan suaranya membuat Zahra membuka headset nya.


"Ustad, ngapain di sini?" tanya Zahra,


"Harusnya saya yang tanya, ngapain di sini. Orang ucap salam nggak jawab!"


"Kapan?"


"Lupakan, sekarang biar saya salam lagi!"


"Nggak perlu repot-repot ustad, biar Zahra saja yang ngucapin salam!"


"Saya yang baru datang, ya saya dong yang ucap salam!"


"Tapi tadi katanya sudah, trus Zahra nggak denger. Jadi sekarang biar Zahra saja!"


Ampun deh, jadi ini yang salah saya atau nih anak ya ...., batin ustad Zaki sambil memijat keningnya.


"Gimana ustad, jadi Zahra boleh ucap salam sekarang?"


"Terserah kamu deh!"


"Kok terserah sih. Ustad nggak ikhlas ya!?" tanya Zahra sambil menunjukkan wajah kecewanya.


Ampun, ya Allah salah kali ya keputusan saya buat samperin dia, bisa naik nih gula darah ....


Ustad Farid pun menyiapkan senyum termanisnya, "Iya neng, sekarang kamu saja yang salam, saya yang jawab!"


Zahra pun tersenyum senang,


"Assalamualaikum ustad Pa_!"


"Farid!" ustad Farid mengoreksi ucapan Zahra.


"Ribet ustad, nama ku aja Zahra tapi di panggil Jahra nggak masalah!"


"Ya sudah lah terserah kamu!?"


"Kok terserah lagi sih ustad!"


"Ya sudah, suka-suka kamu, okey!?"


"Assalamualaikum ustad Parid!"

__ADS_1


"Waalaikum salam, Jahra!"


"Ya nggak begitu juga ustad, ustad kan bisa pakek panggilan Zahra, kenapa pakek Jahra!"


Masih protes lagi dia ...., heran aku bisa-bisanya si Zaki tahan sama anak ini ....


"Siapa bilang, aku biasa panggil kamu Painem!?"


"Ihhhh keterlaluan banget sih!"


Ting Ting Ting


Tiba-tiba seorang penjual dawet keliling melintas di luar pagar membuat perhatian Zahra teralihkan ke penjual itu,


"Itu dawet, keliatannya seger banget!?" ucap Zahra sambil mengusap tenggorokannya yang terasa kering.


Ya Allah, kenapa harus lewat di waktu yang tidak tepat ....


"Pak tunggu!?" teriak Zahra sambil berdiri dari duduknya membuat penjual dawet itu berhenti.


"Ustad mau dawet sekalian?" tanya Zahra.


"Kamu mau belikan saya?"


"Iya, anggap saja sebagai ucapan terima kasih karena ustad sudah mentraktir Zahra kemarin!"


"Ya mau kalau kamu nawarin!?"


"Baiklah, bentar ya!"


Zahra pun berjalan menghampiri penjual dawet,


"Kang, saya minta dua ya kang!"


Zahra tampak berpikir sejenak,


"Kayaknya enak di gelas aja deh kang!"


"Baik neng, tunggu sebentar ya!"


Sembari menunggu dawetnya, Zahra pun memanggil ustad Farid. Mereka memilih duduk di tempat duduk dari beton.


"Ini neng!" ucap sang penjual sambil menyerahkan dua gelas dawet.


"Ini yang satu buat ustad!"


"Terimakasih!" ucap ustad Farid sambil menera segala dawet.


Mereka tampak begitu menikmati dawet di cuaca yang cukup terik meskipun belum benar-benar siang.


Hingga akhirnya habis juga, "Biar Zahra yang kasih gelasnya ke akangnya!" ucap Zahra sambil mengambil serta gelas yang ada di tangan ustad Farid.


"Berapa kang semuanya?"


"Lima belas ribu aja neng!"


Zahra pun merogoh sakunya, tapi ia tidak menemukan apapun di dalam saku.


Ya Allah, aku lupa. Aku nggak bawa dompet ...


Ustad Farid sepertinya menyadari kepanikan Zahra, ia pun segera mendekat,

__ADS_1


"Ada apa?"


"Ustad bawa uang kan? Pasti bawa kan?"


Perasaanku mulai nggak enak nih ..., batin ustad Farid.


"Kamu nggak bawa uang?"


"Uangku ketinggalan di kamar, atau kalau mau, ustad Farid tunggu di sini biar Zahra ambil dulu di kamar!"


Kebiasaan nih anak, nyusahin aja....,


"Berapa kang semuanya?" tanya ustad Farid kemudian.


"Lima belas ribu, ustad!"


Ustad Farid pun segera merogoh saku celananya dan mengambil dompet dari sama, ia mengambil selembar uang dua puluh ribuang dan menyerahkannya pada sang penjual. Dan penjual pun memberikan kembaliannya.


Setalah penjual dawet pergi dan mereka pun kembali ke tempatnya.


"Sepertinya kamu punya kebiasaan nyusahin orang ya!" keluh ustad Farid sambil ikut duduk di atas rumput dekat Zahra menggelar kain.


"Ya maaf, kan tidak sengaja. Zahra cuma lupa nggak bawa uang."


"Untung ada saya, kalau enggak. Emang siapa yang mau bayarin!?"


"Iya terima kasih!" akhrinya Zahra nyerah, ia mengaku salah.


"Nah gitu dong, jangan ngeyel terus."


Zahra tidak lagi menjawab, ia memilih kembali membuka bukunya dan mulai membaca.


Ustad Farid yang penasaran dengan buku yang di baca Zahra pun sedikit memiringkan kepalanya agar bisa membaca judulnya,


"Suka baca novel itu?" tanyanya kemudian.


"Hmmm!" jawab Zahra singkat.


"Tahu siapa yang menulis?"


"Tahu!"


"Siapa?"


"Ustadzah Nafis!"


Ustad Farid begitu terkejut mendengarnya, ia pun segera menggeser duduknya menghadap Zahra,


"Sudah tahu kisah antara ustadzah Nafis dan Zaki?" tanya ustad Farid tapi sepertinya kali ini ia sedikit kesleyo lidahnya.


Dan kali ini Zahra yang terkejut, ia menurunkan bukunya dengan perlahan,


"Maksudnya?"


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya


Ig @tri.ani5249

__ADS_1


...Happy reading 🥰🥰🥰...


__ADS_2