Menikahi ustad tampan

Menikahi ustad tampan
Kecurigaan Zahra


__ADS_3

Ponsel Zahra berdering, ia teringat dengan janjinya pada Nur untuk menghubunginya hari ini, tapi sampai sore ia malah melupakan janjinya,


Ya ampunnn, ngamuk nih orang pasti ...


Zahra pun dengan cepat menerima telpon dari Nur,


"Hallo assalamualaikum Nur,"


"Waalaikum salam, aku kira kamu ngilang ke Hongkong Zah!?"


"Maaf Nur tadi aku lupa, ehhh maksudnya aku sibuk!" ucap Zahra mencoba menjelaskan.


"Iyo, yang lagi liburan. Untung nih ya aku cuma masih tahu tugasnya dikit sama ustad Zaki, kalau enggak bisa buntung kamu ngerjainnya!"


"Iya deh makasih, emang sebanyak itu ya tugasnya? Kok aku Sampek buntung?!"


"Iya kali, kamu tahu materi bahasa Indonesia. Masak satu LKS suruh ngrangkum!?"


"Yang benar saja, edan tenan wi!?" Zahra benar-benar terkejut, beruntung suaminya tidak sampai tahu kalau iya, dia pasti tidak bisa berkutik karena harus mengerjakan tugas sebanyak itu.


"Iyo, lagian kamu dari mana sih Zah, padahal aku nunggu telpon kamu sedari pagi!?" keluh Nur.


"Dari rumah sakit,"


"Siapa yang sakit? Ustad Zaki sakit ya? Atau ummi, atau Abi?"


"Bukan,"


"Lalu? Santri? Atau jenguk orang sakit?"


"Ya Allah Nur, baru juga aku tinggal empat hari di sini sudah cerewet banget, makan apa sih tadi!?"


"Ya aku kan cuma merepel pertanyaan Zah,"


"Ya nggak gitu juga kali Nur. Jadi sebenarnya yang di bawa ke rumah sakit itu aku!"


"Kamu?" Nur begitu terkejut, "Awakmu sakit apa?"


Hehhhh ....


Zahra malah menghela nafas, ia pun merubah posisi duduknya menjadi tiduran di atas sofa,


"Nggak sakit, jadi ceritanya tuh gini. Tadi pagi pas pulang dari pasar sama ummi, aku ke kamar mandi, ngerasa nggak nyaman. Ternyata ada flek kayak mau haid, ya pokoknya pas mau haid gitu deh. Masalahnya aku ke sini kan nggak bawa pembalut, pas mas ustad pulang rencananya mau aku mintai dia tolong buat beliin pembalut,"


"Trus di beliin?"


"Enggak, mas ustad malah ngajak aku ke rumah sakit buat periksa!"


"Apa jangan-jangan _!?" Nur sengaja menghentikan ucapannya karena ia tidak yakin.


"Jangan-jangan apa?"


"Aku nggak yakin sih!"

__ADS_1


Zahra jadi penasaran, ia merasa juga ada hal yang aneh,


"Ayolah Nur,"


"Baiklah, tapi ini belum tentu benar!"


"Iya, apa?"


"Jangan-jangan kamu hamil Zah!?"


Hamil ....


Seketika pikiran Zahra melayang ke pil KB yang sempat ia minum, tapi kembali lagi ke vitamin yang juga tidak sengaja ia minum.


"Zah, kamu nggak po po to?" Nur segera bertanya saat tidak ada sahutan lagi dari Zahra.


"Iya," jawab Zahra Pelang, sedikit tertahan di tenggorokan. "Kenapa kamu bisa mengatakan hal itu?" tanya Zahra kemudian.


"Kamu masih ingat nggak kapan terakhir kali kamu haid?"


"Kapan ya?" bahkan Zahra lupa kapan terakhir dia haid. Seingatnya memang sebelum suaminya ke Bandung waktu itu ia sempat haid, tapi tepatnya ia masih tidak bisa mengingat.


Ceklek


Pintu kamar terbuka dari luar membuat Zahra menoleh ke arah pintu dan ternyata ustad Zaki yang berdiri di depan pintu itu,


"Nur, udah dulu ya


Tanpa menunggu jawaban dari nur, Zahra langsung mematikan sambungan telponnya.


"Siapa ya telpon dek? Mas sudah salam beberapa kali loh, tapi nggak di jawab!?" protes ustad Zaki yang sudah berjalan mendekati Zahra.


"Ahhhh, maaf mas. Zahra nggak denger, ini tadi Nur!" Zahra segera merubah posisinya menjadi duduk saat suaminya sudah berada di dekatnya.


Ustad Zaki pun segera duduk di samping Zahra dan mengambil ponsel Zahra, meletakkannya di atas meja,


"Mas kan nyuruh dek Zahra buat istirahat, kenapa masi yg telponan?"


"Maaf!?"


"Ya udah dek Zahra minum vitamin trus istirahat ya, habis ini mas mau ke rumah ustad Toha dulu, di suruh Abi nganter undangan rapat, nggak pa pa kan dek Zahra istirahat sendiri?"


"Nggak pa pa mas, mas pergi aja sekarang!?"


"Nggak bisa, mas harus mastiin dulu dek Zahra istirahat!"


Ustad Zaki pun membantu Zahra meminum vitaminnya, setelah memastikan Zahra tidur ustad Zaki pun meninggalkannya. Tidak lupa ia meminta tolong umminya untuk menjaga Zahra.


***


Karena terlalu banyak istirahat membuat Zahra terbangun tengah malam. Semejak pulang dari rumah sakit ustad Zaki hanya mengijinkannya bangun untuk sholat setelah itu memintanya kembali ke tempat tidur,


"Ampun deh, kaki banget nih badan!" keluh Zahra sambil meregangkan badannya, tapi saat ia meregangkan tangannya ia tidak menemukan siapapun di sampingnya,

__ADS_1


"Mas ustad kemana?" gumamnya, ia pun kemudian melirik jam dinding, dan ternyata sudah jam dua belas malam.


Lampu kamar masih menyala terang sehingga ia masih bisa melihat seisi kamar dengan jelas, hingga saat ia mengedarkan pandangannya ia menemukan sang suami tengah tertidur di karpet dekat beja lipat.


"Ya Allah, pasti mas ustad ketiduran. Ngerjain apa sih sebenernya sampai ketiduran begitu!?"


Karena begitu penasaran, Zahra pun turun dari tempat tidur. Ia juga mengambil bantal dan selimut untuk sang suami.


Zahra duduk jongkok di dekat sang suami, ia menyusupkan bantal di bawah kepala ustad Zaki dengan perlahan dan memakaikan selimut,


Sebelum kembali ke tempat tidur, ia pun penasaran dengan apa yang di tulis sang suami, mengecek ponsel suaminya yang masih menyala.


Ternyata ponsel itu berada di laman pesan, sebuah pesan dari Bu Marni, ternyata berisi begitu banyak foto.


"Bukankah ini materi bahasa Indonesiaku yang ada di LKS!" gumam Zahra pelan, kemudian ia tertarik untuk melihat lembaran kertas yang ada di atas meja lipat, dan benar saja lebih dari lima lembar berisi materi bahasa Indonesia miliknya yang sudah di ringkas.


"Ini?!"


Zahra benar-benar dibuat tidak percaya, ia menatap kertas yang ada di tangannya yang penuh dengan tulisan tangan ustad Zaki dengan wajah lelah ustad Zaki,


"Jadi mas ustad berusaha menyelesaikan tugas-tugas ku!?"


Zahra pun kembali meletakkan kertas-kertas itu, ia kembali tertarik dengan ponsel sang suami, ia membuka satu per satu pesan yang telah terkirim,


"Ini ke semua guru mata pelajaran di kelasku!? Pantes aku nggak pernah dapat tugas, rupanya yang mengerjakan mas ustad."


Zahra melihat begitu banyak tugas yang tanpa ia ketahui sudah di kerjakan oleh sang suami.


"Jadi terharu!?"


Tapi kemudian ia melihat sebuah nomor dari dokter Puspita,


"Ini bukannya dokter yang periksa aku tadi siang!?" gumam Zahra,


Ia penasaran dengan isi pesan suami dengan dokter itu,


klungggggg


Tiba-tiba ponsel ustad Zaki mati karena kehabisan baterai,


"Ya ampun, Sampek mati gini. Aku cas dulu yah!?"


Zahra lun segera berdiri dan membawa ponsel milik sang suami dan melakukan pengisian baterai.


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nunulisnya


Follow akun Ig aku ya


Ig @tri.qni5249


...Happy reading 🥰🥰🥰...

__ADS_1


__ADS_2