
Kini mereka sudah duduk di sofa yang biasa mereka duduki saat santai, sebuah sofa berukuran sedang yang ada di depan meja tv, dengan karpet bulu berwarna hijau yang di gelar di bawahnya.
Zahra meletakkan mangkuk yang berisi es batu dan kain bersih itu di atas karpet tepat di bawah kakinya karena tidak ada meja di sampingnya.
"Hadap sini!" perintah Zahra pada ustad Zaki yang duduk di sampingnya, dengan sedikit menggeser duduknya ustad Zaki pun menatap ke arah Zahra,
Zahra kembali membungkuk untuk mengambil es batu yang berukuran sedang yang sudah di bungkus dengan kain, tangannya dengan sigap siap menempelkannya ke sudut bibir ustad Zaki,
Dengan begitu lembut Zahra mengopres wajah ustad Zaki yang memar, sesekali ia kembali lagi membungkuk untuk mengambil es batu lainnya.
"Gimana, sudah lebih enakkan kan?" tanya Zahra lagi, ia tidak mengerti kenapa pria di depannya sedari tadi tetap diam padahal biasanya paling suka berkomentar.
"Hmmm!?"
"Hmm enak apa sakit?" sekarang pertanyaan Zahra sedikit melengking, "Lagi pula aku cukup heran, bisa-bisanya mas ustad menang melawan preman-preman itu, kalau di perhatikan tubuh mas ustad kerempeng begini!?"
"Ya Allah dek, emang dek Zahra sudah melihat tubuhnya mas, enak aja bilang tubuh mas kerempeng!"
"Nggak perlu liat dalemnya kali mas, dari bungkusnya aja udah kelihatan!"
"Kamu yakin?"
"Iya!"
"Kalau mas lepas baju sekarang, trus dek Zahra kesemsem sama otot-otot mas gimana?"
"Memang punya otot, nggak percaya!?" Zahra memicingkan matanya dengan tangan yang menggantung di udara.
"Baiklah!" tiba-tiba ustad Zaki melepas satu per satu kancing kemejanya.
Srekkkk
__ADS_1
"Ehhh, mau ngapain?" dengan cepat Zahra menggeser duduknya sedikit menjauh.
"Mau tunjukin sama.fek Zahra bagaimana otot-otot mas yang atletis ini!"
"Isssstttttt!?" Zahra menceburkan bibirnya meremehkan.
Dan sepertinya ustad Zaki tidak peduli, ia memilih melanjutkan aksinya hingga semua kancing kemejanya terlepas.
Tanpa Zahra sadari, kini matanya justru terpaku pada pemandangan langka di depannya, tubuh ustad Zaki benar-benar terekspos sempurna. Bahkan saat ini tanpa sadar Zahra meremas es batu yang ada di tangannya.
Ustad Zaki menarik tangan Zahra, menempelkannya tepat di dada ustad Zaki,
"Dek Zahra bukan hanya boleh lihat, tapi juga boleh pegang!"
Tapi Zahra masih terpaku di tempatnya, otak sehatnya ingin sekali menarik tangannya tapi sepertinya tangannya itu tengah kehilangan kekuatannya untuk melakukan hal itu hingga ia lebih nyaman dengan tangan yang menempel di sana.
Aku ingin menarik dan menghindari darinya, kenapa tidak bisa? Zahra mencoba untuk tetap sadar tapi ternyata bahkan tubuhnya kini tidak mampu bergerak mendapat tatapan yang seperti itu dari ustad Zaki, tatapan yang menurut Zahra aneh dan menyejukkan. Tatapan yang mendamba dan penuh dengan cinta.
Kenapa wajahnya semakin dekat saja? apa yang mau dia lakukan? Zahra mencoba menerka apa yang akan di lakukan ustad Zaki setelah ini. Bahkan sekarang Zahra kesulitan untuk menelan Salivanya karena jarak mereka yang begitu dekat.
Sekali lagi ustad Zaki menepis jarak diantara mereka,
Dia mau cium aku ya, Zahra segera sadar saat bahkan bibir mereka tinggal berjarak beberapa inci saja.
Srekkkkk
Bug bug bug
"Jangan mesum ya!?" Zahra mendorong dan memukul dada juga perut ustad Zaki beberapa kali hingga membuat pria itu mengaduh,
"Aduh dek, cukup dek. Sakittttt!" keluh ustad Zaki sambil memegangi perutnya.
__ADS_1
"Siapa suruh mesum, ingat ya aku iniasih anak SMA yang suci, enak aja mau menodai anak SMA, bisa kena pasal tahu!"
Walaupun terlihat menahan sakit, ustad Zaki tetap saja tersenyum dengan ucapan polos istrinya.
"Kenapa malah senyum-senyum? Ada yang aneh ya?" Zahra segera mendekap tubuhnya dengan menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
"Siapa yang mau menodai dek Zahra sih, dek Zahra kan istrinya mas. Ya sudah sewajarnya kan kalau kita melakukan itu, sudah sah di mata hukum dan agama!"
Benar juga ya, ehhhh tapi tetap saja aku masih anak di bawah umur.
Srekkk
Zahra tiba-tiba berdiri dari duduknya, "Nggak ada begituan, awas ya kalau sampai memikirkan macam-macam, aku tarik Sampek putus tuh burung!" ucap Zahra sambil berkacak pinggang kemudian berlalu begitu saja meninggalkan ustad Zaki,
Ia masuk ke dalam kamar dan menutup pintunya dengan begitu keras hingga membuat ustad Zaki terkejut dibuatnya.
"Astaghfirullah hal azim!" gumamnya sambil memegangi letak jantungnya.
"Aughhhh!" ustad Zaki segera sadar dengan rasa sakit di tubuhnya, ia segera memeriksa dan ternyata ada beberapa memar di perut, dada dan punggungnya. Ia terpaksa mengopres sendiri memar itu.
"Dia sadis sekali, emang siapa yang rugi kalau burung ini lepas!?" gumamnya lagi saat mengingat. ancaman Zahra yang terakhir.
Hingga larut malam ustad Zaki masih belum tidur, ia masih sibuk mengompres tubuhnya yang memar agar esok pagi sudah sedikit hilang hingga tanpa sadar ia tertidur di sofa dengan tangan yang masih memegang kain kompresannya.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
Ig @tri.ani5249
__ADS_1
...Happy Reading 🥰🥰🥰...