
"Lama sekali!?" keluhnya sambil melingkari sebuah kalender kecil di tangannya, baru enam hari tapi rasanya sudah begitu lama. Entah sudah berapa lama ia duduk sambil memandangi kalender kecil itu.
"Galau banget sih, Zah!?" Nur yang sedari tadi menemaninya dibuat bosan karena Zahra hanya sibuk mengamati kalender itu. Ini sudah hampir jam delapan malam dan ia sama sekali tidak di sapa oleh Zahra.
"Kamu belum ngrasain sih gimana rasanya di tinggal pas sayang sayangnya!?"
"Apaan!? Lebay banget!" Nur menggelengkan kepalanya tidak percaya sahabatnya itu bisa sebucin itu.
"Nggak lebay Nur, tapi kamu tahu kan kalau aku dan mas ustad sudah ngelakuin itu!?"
"Itu apa?" tanya Zahra penasaran.
Zahra pun dengan cepat beralih menatap Nur dan tersenyum, "Itu_!"
"Itu apa?" Nur semakin penasaran. Ia sampai meletakkan ponselnya demi mendengarkan cerita Zahra.
"Memang aku belum cerita ya sama kamu?" tanya Zahra memastikan. Karena seingatnya ia tidak pernah lupa bercerita apapun pada Nur. Apapun itu, dari pada bercerita pada orang tuanya, Zahra lebih nyaman bercerita pada Nur.
"Cerita apa?" Nur mengerutkan keningnya, "Kamu tahu kan kita sudah satu Minggu ini nggak ketemu,"
"Masak sih?" tanya Zahra tidak percaya.
"Nggak percaya? Nih lihat ya!" Nur menunjukkan layar ponselnya, ia membuka laman pesan, "Lihat, bahkan kamu bisa lihat nih terakhir kamu chat aku, sudah satu Minggu lebih!"
"Ya maaf, aku kan lupa!" ucap Zahra sambil menggaruk rambutnya.
"Kamu sih suka gitu," keluh Nur, "Coba kalau aku nggak inisiatif buat main ke sini, pasti kamu juga nggak kepikiran kan buat main ke rumah aku. Kadang aku suka mikir deh, sebenarnya kamu tuh sahabat aku atau bukan ya!?"
"Yah, yah kok mikirnya Sampek kayak gitu sih!?" Zahra jadi merasa bersalah dengan sahabatnya itu. "Aku nggak mungkin lupain kamu, Nur!"
"Ya habis gimana, nggak ada tuh kangen-kangennya sama aku. Kalau ustad Zaki aja yang pergi, di pikirin terus. Boro-boro aku dipikirin, di tanyakan kabar aja enggak!"
"Ya abis gimana lagi, namanya juga suami!" Zahra mencoba membela diri, "Baiklah, sekarang aku tanya deh, gimana kabar kamu?" ucap Zahra, ia juga lupa tidak menanyakan kabar sahabatnya itu.
"Telat!" Nur pun melipat kedua tangannya di depan dada pura-pura ngambek.
"Yah maaf Nur, aku kan nggak sengaja. Kamu juga tahu sendiri, aku magang, pulangnya sore!"
"Aku juga magang, pulang ku juga sore. Tapi masih sempet tuh main ke sini!" Nur tidak mau kalah dengan pembelaan Zahra.
"Maaf Nur, maaf ya! Di maafin dong!" Zahra terus saja membujuk Nur agar tidak marah padanya, "Mau beli es krim nggak,?"
"Nggak mau!?" Nur masih berkeras hati.
"Mau dong, ayok aku traktir!" ucap Zahra sambil menggoyangkan lengan Nur persis seperti anak kecil.
"Nggak mau, dingin!" Nur semakin mengeratkan kedua lengannya di depan dada.
"Ya udah deh, kamu boleh minta apa aja asal jangan ngambek lagi ya! Please!?" Zahra menakupkan kedua tangannya di depan dada.
Jadi nggak tega ...., akhirnya Nur luluh juga, ia mengakui jika ia memang tidak bisa marah lama-lama pada Zahra. Hanya Zahra temannya sedari kecil, mereka tumbuh bersama tanpa teman lain, karena memang sedari kecil Zahra di kucilkan oleh teman-teman sebayanya.
Nur yang lebih humble dan mudah bergaul memilih Zahra sebegai temannya membuat nur ikut di jauhi oleh teman-teman lainnya yang sebaya mereka.
Itulah alasan kenapa mereka lebih memilih seolah yang agak jauh dari kampung mereka, hal itu mereka lakukan agar setidaknya di tempat baru mereka punya teman-teman baru.
Srekkk
__ADS_1
Tapi tiba-tiba Nur malah menarik tubuh Zahra ke dalam pelukannya,
"Becanda Zahra, aku cuma kangen sama kamu!"
"Ihhh, kamu sudah bikin aku takut tahu!" Zahra segera mengusap sudut matanya yang mulai berair.
Nur kembali melepaskan pelukannya dan tersenyum pada Zahra, "Kamu tuh emang sekali-kali harus di kerjain gini, biar sadar!"
"Jahat banget sih!?" keluh Zahra yang masih sesekali mengusap sudut matanya,
Nur tersenyum, "Gimana magangnya?" tanyanya untuk mencairkan suasana kembali.
"Lumayan!"
"Lumayan ya bagaimana?"
"Ya lumayan melelahkan! Tapi asik sih, weni juga baik, ternyata dia nggak seperti yang aku kira!"
"Maksudnya?"
"Dia itu nggak pendiem-pendiam banget! Kalau kamu gimana magangnya?" Zahra bertanya balik pada Nur.
"Gitu aja, nggak ada yang menarik. Aku kesepian tahu nggak ada kamu, Zah."
"Lebay kamu Nur!"
"Jangan mulai ya!?" ancam Nur sambil tersenyum. "Tapi kamu tahu nggak aku magangnya sama siapa?"
"Ya mana aku tahu, memang sama siapa?"
"Sama Bayu."
"Bayu?" tanyanya tidak percaya.
"Iya, dia kayaknya belum bisa move on deh sama kamu, dia kelihatan murung terus, apalagi pas lagi istirahat, dia lebih sering menyendiri dari pada gabung sama temen-temen yang lain!"
"Emang nggak coba kamu deketin, Nur? Kan kasihan!?" tanya Zahra lagi.
"Emang aku siapanya suruh deketin dia?"
"Ya kamu kan lumayan akrab sama dia!"
"Itu karena aku sahabat kamu, selain itu enggak Zah!"
"Ya siapa tahu aja Nur, Bayu mau terbuka sama kamu. Kalau kayak gini kan aku jadi ngerasa bersalah!"
"Lebih bersalah lagi kalau kamu nggak coba jujur sama dia Zah, ini sudah keputusan paling baik."
"Baiklah aku mengerti!"
Mereka pun akhirnya kembali saling diam, Zahra kembali fokus pada kalender di tangannya membuat nur teringat akan sesuatu.
"Oh iya Zah, kamu tadi kayaknya mau cerita deh. Cerita apa?" tanya Nur yang masih menyisakan rasa penasaran.
"Serius aku belum cerita?" tanya Zahra, ia masih tidak percaya kalau dia belum cerita.
"Tentang apa?" tanya Nur penasaran.
__ADS_1
"Tentang_, tentang_!" Zahra malah tersenyum malu-malu.
"Iya, tentang apa?"
"Tentang MP!?"
"Hahhhh?" Nur sampai menutup mulutnya yang menganga karena terkejut.
"Jangan keras-keras kali Nur, nanti ibuk denger!"
"Baiklah, baiklah!" Nur pun segera menggeser duduknya agar lebih dekat dengan Zahra, "Kamu serius Zah? Maksudnya kalian sudah benar-benar melakukannya?" tanya Nur memastikan dan Zahra pun mengangukkan kepalanya.
"Jadi keponakan otw jadi dong?" tanya Nur lagi sambil menyatukan kedua ujung jari telunjuknya.
"Maksudnya?" Zahra malah tampak bingung.
"Ya maksudnya, bentar lagi kalian pasti bakal punya akan kan?"
"Memangnya kalau kita lakuin itu, bakal cepet punya anaknya meskipun usiaku masih delapan belas tahun?"
"Ya begitu lah, usia-usia seperti kita ini, kalau berdasarkan pelajaran IPA yang aku pelajari, malah subur-suburnya!"
"Maksudnya subur?" Zahra masih gagal mencerna ucapan Nur.
"Ya cepet hamilnya!"
Cepet hamil? Bagaimana kalau aku sampai hamil? Kenapa aku nggak kepikiran sampai ke situ? Aku kan belum lulus, lagi pula aku juga masih pengen kuliah, kalau aku hamil dan punya anak, aku belum siap. Aku nggak bisa ngerawat bayi ....
"Zah, kamu nggak pa pa kan?" tanya Nur lagi sambil mengibaskan tangannya di depan wajah Zahra saat Zahra terlihat bengong.
"Hahhh, enggak! Aku nggak pa pa!?" ucap Zahra.
"Sudah malam, aku balik dulu ya. Besok aku ke sini lagi!" ucap nur yang sudah beranjak dari duduknya karena saat ini sudah hampir jam sepuluh malam.
"Iya, hati-hati!"
"Assalamualaikum!"
"Waalaikum salam!"
Zahra tertegun di tempatnya, ada hal yang belum bisa ia terima. Menjadi seorang ibu, itu sama sekali belum terpikirkan dalam hidupnya.
Aku harus apa? Bagaimana kalau tiba-tiba aku hamil?
Aku sadar mungkin aku tak bisa menjadi yang terbaik untukmu, tetapi aku kan terus mencoba menjadi yang terbaik yang bisa aku lakukan.
...Jika nanti kamu menemukan celah untuk sejenak saja berhenti mencintaiku, aku akan menutupnya dengan berjuta cinta yang kamu bahkan tidak akan bisa mengukurnya...
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
Ig @tri.ani5249
__ADS_1
...Happy Reading 🥰🥰🥰...