Menikahi ustad tampan

Menikahi ustad tampan
Naik pesawat


__ADS_3

"Betah-betah Yo nduk di sana, ojo sak karepe Dewe, manut Karo ummi (Jangan seenaknya saja, nurut sama ummi)!" ucap Bu Narsih menasehati putri satu-satunya itu.


"Nggeh buk!"


"Ojo nggeh tok, di gawe tenan po seng di nasehatne ibuk (Jangan ya ya saja, harus benar-benar di pakai nasehat ibuk), , nggak baik di tepat baru kalau sikapnya tetap seperti itu!" tampak Bu Narsih begitu mengkhawatirkan putrinya, bukan khawatir jika dia tidak akan baik-baik saja di sana, tapi ia mengkhawatirkan jika sampai putrinya melakukan kesalahan.


Setelah selesai dengan ibuknya, kini Zahra beralih ke Nur, Nur sengaja banget datang ke rumah orang tua Zahra agar bisa bertemu dengan Zahra sebelum berangkat ke Bandung. Dua Minggu bukan waktu yang singkat untuk mereka tidak bertemu.


"Baik-baik ya Zah di sana, salam sama Abi dan ummi ustad Zaki,"


"Pasti Nur!?" ucap Zahra sambil memeluk sahabatnya itu.


"Jangan khawatir soal tugas, aku pasti akan mengirimkan tugas secara berkala sama kamu!?" ucap Nur setelah melepas pelukan mereka. Mendengar kata tugas seketika Zahra menoleh pada suaminya.


Ini pasti ulahnya ...., batin zahra. Zahra pun kembali menarik tubuh Nur dan ia berbisik,


"Nggak usah repot-repot ya kalau soal tugas, anggap aja nggak ada tugas!?" bisiknya.


"Tapi ustad Zaki_!?"


"Emang yang sekolah dia,"


"Hmmm, dek!?" ternyata meskipun lirih ustad Zaki bisa mendengar percakapan mereka dengan baik.


Zahra pun segera melepaskan Nur,


"Nggak ada ya Nur, aku cuma bilang sama Nur nggak usah terlalu rindu sama aku, iya kan Nur?"


Nur pun nyengir kuda, "Iya, ustad. Zahra memang terlalu imut jadi orang!?"


Amir amit ...., ucap Nur dalam hati.


Kini ustad Zaki beralih pada pak Warsi,


"Kami berangkat dulu ya pak!?"


"Iya, tolong jaga Zahra ya nak, dia suka bandel takutnya merepotkan nak Zaki!?"


"Nggak pa pa pak, insyaallah Zahra tidak akan mempermalukan bapak sama ibuk!?"


Ternyata bukan hanya keluarga Zahar saja yang mengantar kepergian ustad Zaki dan Zahra, beberapa warga ada yang sengaja datang untuk menitipkan oleh-oleh pada orang tua ustad Zaki. Begitu juga dengan Amir.


"Ini sedikit ustad, hasil panen di kebun kita. Salam buat Abi sama ummi ustad!"


"Iya Mir, makasih ya. Titip anak-anak ngaji ya, kalau kamu keberatan atau kwalahan nanti ngomong aja sama kyai Hasyim, insyaallah beliau akan Carikan teman buat kamu selama aku pergi!"


"Insyaallah bisa kok ustad!"

__ADS_1


"Alhamdulillah kalau begitu!"


Setelah selesai berpamitan pada semuanya, akhirnya ustad Zaki dan Zahra pun benar-benar berangkat. Mereka diantar pak Abdul hingga bandar udara Juanda dan lanjut menggunakan pesawat sampai ke Bandung.


"Mas,"


Zahra terus menggengam tangan suaminya sepanjang perjalanan.


"Kenapa tangan dek Zahra semakin dingin, apa ada yang nggak enak?" tanya ustad Zaki sambil memegangi keningnya dengan punggung tangannya,


"Nggak mas, hanya saja rasanya takut!"


"Takut kenapa?"


"Ini pertama kalinya Zahra naik pesawat."


"Nggak pa pa dek, insyaallah semua akan baik-baik saja, terus pegangi tangan mas ya!"


Zahra pun mengangukkan kepalanya, hingga akhirnya mereka sampai juga di bandar udara Juanda Surabaya, seperti biasa sebelum terbang mereka harus melalui petugas untuk melakukan pengecekan surat-surat penerbangan.


Pak Abdul hanya mengantar hingga sampai ke pintu pengecekan dan ia pun berpamitan untuk pulang kembali,


"Terimakasih ya pak Dul, besok kalau sudah waktunya pulang saya akan hubungi pak Dul lagi."


"Baik ustad, kalah begitu saya permisi."


"Ustad dan mbak Zahra juga hati-hati, salam buat pak kyai dan Bu nyai,"


"Nanti saya sampaikan!"


"Assalamualaikum!"


"Waalaikum salam!"


Setelah pak Dul pergi, ada pengumuman jika pesawat akan berangkat, ustad Zaki benar-benar memenuhi janjinya, ia sama sekali tidak melepaskan tangan Zahra hingga sampai di tempat duduk mereka.


Zahra semakin kuat menggema tangan suaminya,


"Dek, tidurlah. Nanti kalau sampai mas banguni!?" ustad Zaki menarik kepala Zahra ke dalam bahunya dan mengusapnya lembut agar Zahra cepat tertidur agar ia tidak terlalu cemas.


Dan benar saja, baru beberapa menit akhrinya Zahra benar-benar tertidur dengan bersandar pada bahu sang suami,


Hingga pesawat take off barulah ustad Zaki membangunkan sang istri,


"Dek, bangun dek. Sudah sampai!?"


Zahra mengucek matanya, rasanya baru beberapa menit saja ia tidur,

__ADS_1


"Beneran sudah jadi terbang?"


"Iya dek, ini sudah di Bandung!"


"Ya benar?" Zahra benar-benar tidak percaya, beruntung ia duduk di samping jendela hingga ia melihat keluar tapi suasana masih sama, masih di lapangan penerbangan seperti sebelumnya,


"Becanda ya mas, ini masih di lapangan pesawat!?"


"Trus, menurut dek Zahra pesawatnya suruh turun di atas mall, atau di depan rumah Abi?!"


"Ahhh iya ya ...!" ucap Zahra sambil nyengir.


"Kita turun yuk!" ustad Zaki berdiri dari duduknya dan mengulurkan tangannya pada Zahra.


"Ayo!?"


Mereka pun turun bersama penumpang-penumpang lainnya. Setelah keluar dari lapangan, ustad Zaki meminta Zahra untuk duduk di ruang tunggu selagi ia mengambil barang-barang bawaan mereka.


"Tunggu di sini ya, insyaallah nanti ummi sama temen mas yang jemput. Mas ambil tas sama barang bawaan lainnya!"


"Kalau ummi nggak ngenalin Zahra gimana?"


"Nggak mungkin dek, ummi sampai lupa!?"


"Ya siapa tahu!?"


Ustad Zaki memilih untuk tidak menanggapi lagi, ia mengusap kepala Zahra yang tertutup hijab dan meninggalkan kecupan di sana,


"Jangan kemana-mana ya, mas sudah kirim pesan ke ummi kalau dek Zahra nunguin di sini, takutnya mas lama!"


"Iya! Ya udah sana cepetan pergi!?"


"Baiklah, benar ya jangan kemana-mana!"


Ustad Zaki terus memperingatkan Zahra agar tidak beranjak dari tempatnya, ia benar-benar khawatir jika meninggalkan istrinya sendiri. Tapi jika tidak segera mengambil barang bawaannya takutnya barangnya hilang atau ketlesut.


...Mungkin ada banyak hal yang sudah datang hanya untuk mengingatkan, tetapi itu semua terlepas dari kesadaran, tentang bagaimana kita belajar berjuang untuk tetap tegar dan ikhlas dalam menghadapi setiap liku dalam hidup....


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya


Ig @tri.ani5249


...Happy reading 🥰🥰🥰...

__ADS_1


__ADS_2