Menikahi ustad tampan

Menikahi ustad tampan
Bonschap 12


__ADS_3

"Kenapa ngelihatin mas kayak gitu?" tanya ustad Zaki curiga dengan sang istri yang terus tersenyum dan mengusap-usap lengannya semejak ia pulang dari masjid.


"Nggak pa pa, memang nggak boleh!?" ucap Zahra dengan bibir yang sengaja di manyunkan.


"Ya nggak pa pa, mas justru seneng kalau kayak gini tiap waktu." ucap ustad Zaki sambil membalas ucapan tangannya pada Zahra, sedangkan tangan kanannya ia gunakan untuk meraih kepala Zahra dengan lembut agar lebih dekat dengan bibirnya lalu meninggalkan kecupan di kening Zahra cukup lama .


"Sini," ustad Zaki kemudian setelah melepaskan kecupannya pun menepuk pangkuannya, "Tidurlah di sini bisa mas usap punggungnya."


Zahra pun tanpa penolakan segera mengatur posisi agar nyaman saat tiduran di pangkuan suaminya, dengan posisi miring agar sang suami mudah mengusap punggungnya. Sudah hal biasa untuk Zahra yang menyempatkan tidur siang setalah sholat duhur barang satu jam.


"Pasti capek banget ya?"


"Enggak, biasa aja." jawab Zahra dengan begitu yakin.


"Makasih ya dek sudah bersedia menjadi ibu dari anak-anak mas," rasa bersalah sekaligus bangga selalu menyelimuti hati sang ustad. Ia bersalah karena tidak bisa menjaga syahwatnya hingga sang istri harus mengandung di usia yang terbilang dini, tapi ia juga bangga pada sang istri meskipun wanita seusianya tengah menikmati kebebasannya, Zahra tidak pernah mengeluh dengan statusnya yang bahkan sebentar lagi akan menjadi seorang ibu.


Mendengar ucapan sang suami, Zahra pun berusaha menggapai wajah ustad zaki, ia menegakkan kepalanya agar bisa menatap wajah sang suami,


"Kok ngomongnya gitu?"


"Ya nggak pa pa dek, mas nggak tahu harus dengan cara apa untuk membalas semua yang telah dek Zahra berikan sama mas,"


Zahra pun tersenyum, "Cukup beri cinta Zahra yang banyak sampai Zahra nggak bisa berpikir untuk berpaling dari cintanya mas ustad."


"Mas rasa yang harusnya ngomong kayak gitu itu mas deh, mas benar-benar merasa beruntung karena mendapat cinta yang besar dari dek Zahra."


"Ohhhh, sweet banget sih mas." ucap Zahra sambil mengedipkan matanya dengan cepat membuat ustad Zaki merasa gemas, ia pun mencubit kedua pipi Zahra.


"Kok malah di cubit sih pipi Zahra."


"Mau bagaimana lagi, rasanya pengen banget makan dek Zahra siang ini."


"Ihhhh serem." ucap Zahra sambil bergidik ngeri membuat ustad Zaki tersenyum lebar hingga menampakkan lesung pipinya.


"Mas," hingga Zahra kembali teringat sesuatu,


"Ya?"


"Nanti mas ngajar ngaji anak-anak nggak di masjid?"


"Mas kan sudah lama nggak ngajar anak-anak dek,"


"Jadi nanti nggak ke masjid ya?" tanya Zahra sedikit kecewa karena ia tidak akan bisa beralasan ketemuan dengan Nur di luar kalau sang suami tidak di masjid.


"Ke masjid, kebetulan ba'dha ashar ada pertemuan dengan para pengurus masjid guna persiapan maulid nabi sebentar lagi. Ada apa?" akhirnya ustad Zaki melanjutkan untuk bertanya karena ia tahu sang istri pasti ada maksud tertentu.


"Jadi gini....," Zahra sengaja mendramatisir ucapanya agar sang suami mengerti, "Ini kan hari Sabtu,"


"Terus?"


"Biasanya kalau hari Sabtu kan yang lagi kuliah atau sekolah di luar kota pada pulang,"


"Terus?"

__ADS_1


"Terus tadi baru aja Nur hubungi Zahra."


"Terus?"


"Kejeduk!" ucap Zahra kesal karena ekspresi sang suami yang datar, tapi melihat wajah kesal sang istri, ustad Zaki malah tersenyum. Zahra semakin imut dengan pipi cuby nya semenjak hamil.


"Senyum, senyum, memang ada yang lucu apa!?"


"Maaf, maaf, bukan begitu dek. Mas suka seneng kalau lihat dek Zahra cemberut gitu, abis tambah cantik."


"He'eh, biar aku cemberut terus biar mas puas!" ucap Zahra sambil beranjak dari tidurnya kesal, tidak lupa ya juga melipat kedua tangannya di depan dada tandanya benar-benar marah.


"Dek, jangan gitu. Mas cuma becanda. Jangan marah ya!" ustad Zaki pun segera menakup kedua bahu sang istri dengan lembut dan sedikit usapan agar sang istri kembali lunak.


"Jadi dek Zahra mau apa? Mas pasti akan turuti kalau mas bisa,"


Senyum samar mulai tersungging dari bibir Zahra, akhirnya tanpa usaha yang berat kesempatan itu datang sendiri,


Kamu memang hebat, Zahra ...., perlahan Zahra membalik badannya dan menatap sang suami,


"Bener mas mau nurutin apapun yang Zahra mau?" tanya Zahra memastikan.


"Insyaallah,"


"Kok insyaallah sih, mas mau ingkar janji ya dengan bawa-bawa nama Allah?"


"Enggak dek, curigaan banget sama mas. Maksud mas itu, insyaallah mas akan usaha buat tepatin janji mas."


Kembali senyum licik Zahra tersungging,


Ustad Zaki mengerutkan keningnya,


"Kenapa? Nggak percaya ya? Mau Zahra telpon in Nur biar mas percaya?" dengan cepat Zahra menebak ekspresi sang suami.


"Percaya kok dek, baiklah ke sananya bareng mas aja ya."


"Nggak mau pakek mobil." kembali dengan cepat Zahra menggambar ucapan sang suami.


"Iya dek, kita pakek motor."


***


"Mas, ini jalannya masih cepetan yang jalan kaki." protes Zahra saat sang suami mengendarai motornya dengan begitu lambat.


"Nggak pa pa dek, kan juga tetep Sampek masjid. Lagi pula kan kita sudah lama nggak boncengan naik motor kayak gini." ucap ustad Zaki dengan santainya tanpa berniat mempercepat laju motornya.


Sebenarnya Zahra sudah curiga saat sang suami mengajaknya berangkat lebih awal dari biasanya, jika biasanya saat mau sholat ashar sang suami akan berangkat saat azan berkumandang, tapi sekarang bahkan waktu sholat ashar masih kurang sepuluh menit.


Hingga akhrinya saat mereka sampai di masjid, azan baru berkumandang, seharusnya dari rumah Zahra ke masjid hanya butuh waktu sepuluh menit, tapi kali ini hampir dua puluh menit baru sampai.


Meskipun kesal tapi Zahra tidak bisa protes lagi, ia sudah bersyukur karena sang suami mengijinkannya keluar rumah.


Semenjak hamil, ustad Zaki sengaja membatasi Zahra karena memang kehamilan zahra yang sering bermasalah. Selain pergi ke kampus, ustad Zaki jarang mengijinkan Zahra pergi-pergi apalagi jika tanpa ustad Zaki.

__ADS_1


Zahra juga ikut sholat berjamaah, begitu juga dengan Nur yang sudah sampai lebih dulu.


Dan seperti rencana sebelumnya, setelah selesai sholat ashar, nur dan Zahra bergegas menghampiri gerobak menjual batagor.


"Lama banget datangnya," protes Nur saat mereka sudah duduk ke kursi plastik sambil menunggu pesanan mereka.


"Ya protes aja sama mas ustad." jawab Zahra yang tidak mau kalah.


"Mana berani aku protes Karo pak ustad, bisa kuwalat aku."


Belum sampai Zahra menimpali ucapan Nur, pak penjual batagor datang dengan dua porsi batagor.


"Yang ini buat mbak Zahra, dan ini buat mbak Nur." ucap penjual sambil mengulurkan piring batagor ke arah Zahra dan Nur.


Tapi segera kening Zahra berkerut saat melihat penampilan batagor Zahra yang berbeda dari milik Nur,


"Bapak kelupaan ya sambelnya yang buat Zahra?"


"Oh itu, enggak mbak. Kebetulan sambel saya habis, jadi nggak pa pa ya kalau nggak pakek sambel."


"Kok gitu! Masih jam segini, masak sudah habis sih?"


"Iya mbak, soalnya di borong tadi."


"Sambelnya?"


"Batagornya juga, ini cuma tinggal dua porsi saja buat mbak Zahra sama mbak Nur."


"Jahat banget, mana enak kalau nggak ada sambelnya."


"Enak kok mbak coba aja." ucap penjual batagor dengan santainya.


Nur yang sudah menikmati batagor pedasnya pun ikut penasaran dengan perdebatan Zahra dan penjual batagor,


"Memang siapa pak yang borong? Ada yang ulang tahun? Atau ada yang hajatan?"


"Itu yang borong." ucap penjual sambil menunjuk ke arah masjid membuat Zahra dan Nur otomatis menoleh ke arah serambi masjid.


"Ustad Zaki?" tanya Nur.


"Iya mbak, katanya buat menjamu para pengurus masjid."


Seketika Nur menoleh pada sahabatnya itu, ia tahu di masjid hanya ada sekitar tujuh orang, dan untuk menghabiskan satu gerobak batagor beserta sambalnya rasanya mustahil.


"Kamu tetap kalah cerdik sama ustad Zaki, Jah."


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga yang banyak biar bisa up tiap hari


Follow akun Ig aku ya


Ig @tri.ani5249

__ADS_1


...Happy Reading 🥰🥰🥰...


__ADS_2