
Hampir saja ku lempar ponselku begitu saja tapi segera aku terkejut saat tiba-tiba ponselku berdering. Aku pun kembali mengambil ponselku yang terjatuh di atas tempat tidur dan aku langsung tersenyum Senang melihat siapa yang menelponnya.
"Nggak, nggak, aku kan harus jual mahal, enak aja dia baru menghubungiku sekarang dan langsung aku. jawab, nggak seru!"
Kembali ku letakkan ponselku di atas tempat tidur dan ku biarkan terus berdering. Aku begitu sengaja, tapi sekali lagi, eh bukan. Tapi berkali-kali aku melirik ponselku, tangan ini benar-benar ingin segera menggeser tombol terima.
Dan nyatanya, aku benar-benar merindukannya.
Tanganku dengan cepat meraihnya dan menggesernya, panggilan video. Seketika wajah tampannya memenuhi layar ponselku, dia tersenyum, senyum yang begitu aku rindukan.
Ingin rasanya ikut tersenyum, tapi tidak gitu aturan mainnya. Ku pasang wajah masamku, lebih tepatnya wajah kesal plus marah, plus ngambek.
"Kenapa masih ingat sama Zahra?" tanyaku ketus. Enak saja dia baru menghubungiku sekarang ...
"Assalamualaikum, dek!?" Hehhhhh, kenapa dia masih selembut itu, bikin hatiku meleleh aja ...
Pengen banget menyudahi akting kesalku, pengen tersenyum dan langsung nyosor layar ponselku, wajahnya itu loh yang menggoda.
"Waalaikum salam!" tapi nggak bisa gitu, dia perlu sedikit diberi pelajaran kan.
"Dek, maaf ya tadi mas baru pulang dari masjid, karena baru pulang jadi mas ngobrol dulu sama temen-temen Abi!?" wajahnya terlihat menyesal, jadi nggak tega.
"Jadi mas beneran pulang ke rumah ummi?" tanyaku penasaran, karena dari kemarin mas ustad tidak menjawab pertanyaan ku.
"Iya dek, sayang uangnya kalau buat nginep di hotel. Kalau mau nginep di tempat yang di sediain sama panitia juga tetep aja makannya beli."
"Dasar perhitungan banget jadi orang!"
"Yahhh gimana lagi, kalau ada yang gratis kenapa harus cari yang bayar dek."
"Kalau sama Zahra?" tanyaku, aku jadi sangsi dia punya uang banyak hasil ngutang.
"Ya kalau sama dek Zahra, mending nginep di hotel aja, biar nggak ada yang gangguin." ucapnya dan aku hanya menyebirkan bibirku.
"Dek, aku kangen!?"
Hahhhh ...., sama ....
Pengen banget rasanya bales gitu, tapi_, tapi gengsi.
"Zahra enggak!"
"Beneran?"
"Iya!"
"Ya udah, kalau gitu mas juga nggak kangen deh sama dek Zahra!"
"Ya nggak boleh gitu dong!" jawabku dengan cepat dan langsung di balas ketawa oleh mas ustad, "Ehhh maksudku, Zahra juga kangen!"
Aku nyerah ...., nggak tahaaaannn ...
"Aku tahu!" jawab mas ustad dengan pasti.
__ADS_1
"Tahu dari mana?"
"Itu, mata dek Zahra dari tadi berair, maaf ya sudah buat dek Zahra merindukan mas. Mas janji kalau bisa di percepat, mas akan percepat agar bisa cepat pulang!"
Dan benar saja, akhirnya air itu tumpah. Bukan air dari ember, tapi air dari kelopak mataku, entah sejak kapan tersimpan begitu banyak di sini.
"Hiks hiks hiks, Zahra takut nggak kuat!"
"Cup cup cup, pasti kuat dek. Kalau dek Zahra merasa tidak kuat, dek Zahra bisa sampaikan salam rindu itu melalui sujud malam dek Zahra, insyaallah Allah yang akan menguatkan kita."
Tuh kan, kata-kata nya itu yang membuatku semakin tidak kuat.
Aku segera mengusap air mataku, aku ingin berlama-lama menatap wajahnya, dan air mata ini tidak boleh menghalanginya.
"Tapi aku tidak bisa bangun malam sendiri!"
"Nanti mas bangunin!"
"Beneran?"
"Insyaallah, oh iya sekalian mas mau ngabarin kalau besok mungkin mas nggak bisa telpon dek Zahra seharian, baru bisa telpon kalau sudah di rumah Abi, kayaknya jadwal seminarnya sampai sore, tapi mas akan usahakan tetep kirim pesan buat dek Zahra, nggak pa pa kan?"
"Yahhhh, berat banget!?"
"Yang sabar ya dek!"
"Hmmm!" aku mengangukkan kepalaku.
"Jangan!?" rasanya nggak rela jika sampai telpon ini mati.
"Dek Zahra kan besok juga sudah mulai magang."
"Gini aja deh, Zahra akan tidur, tapi jangan di matiin sampai Zahra tertidur, mas kan sambil baca materi sambil lihatin wajah cantik Zahra!" ucapku dengan percaya diri. Dan sudah bisa di pastikan mas ustad tersenyum.
Lesung pipinya ...., pengen nyubit ...
"Baiklah, tidurlah dan akan temenin dari sini."
Benar saja, aku tidur sedangkan mas ustad terlihat sibuk dengan materi yang banyak di depannya.
Dan entah jam berapa hingga ponselku mati sendiri, aku sudah tertidur pulas.
Tepat jam tiga dini hari, ponselku berdering kembali dan mas ustad menepati janjinya, dia membangunkan aku untuk sholat tahajud.
***
Pagi ini saat aku bersiap-siap untuk pergi ke tempat magangku, tiba-tiba sebuah mobil sudah terparkir di depan rumah bapak, aku cukup kenal dengan mobil itu,
"Pak Dul!?"
"Assalamualaikum, mbak Zahra!?" sapanya.
"Waalaikum salam, pak Dul ngapain di sini? Mas ustad kan nggak di rumah!"
__ADS_1
"Justru itu mbak Zahra, saya ke sini di minta ustad Zaki buat antar jemput mbak Zahra!?"
"Hahhhh!?" aku benar-benar terkejut, ini sangat aneh. Bagaimana bisa mas ustad menyuruh pak Dul buat antar jemput aku, sedangkan pak Dul terlihat bukan orang sembarangan.
"Pak Dul nggak salah?"
"Nggak kok mbak, mari silahkan masuk!" pak Dul sudah membukakan pintu mobil belakang untukku.
"Zahra, bapak ini siapa?" ibuk tiba-tiba keluar, dia juga terlihat heran dengan mobil dan pemilik mobil. Pak Dul bukan orang kampung sini, ibu dan bapak juga tidak kenal.
"Ahhh ini buk, dia temannya mas ustad." ucapku dan pak Dul segera mendekati ibuk.
"Kenalkan buk, saya Abdul. Kebetulan saya diminta ustad Zaki untuk antar jemput mbak Zahra selama ustad Zaki di Bandung!?"
"Jadi mas Dul ini sopirnya nak ustad?" tanya ibu,
"Bukan Bu, pak Dul temannya mas ustad, iya kan pak Dul? Maaf, ibuk memang suka ceplas ceplos!?" dengan cepat aku meralat ucapan ibuk, takut sampai pak Dul tersinggung. Jelas mobilnya banyak bagaimana bisa di katakan sopirnya mas ustad.
"I_iya Bu, kalau begitu saya permisi. Mari mbak Zahra!?"
Terlihat ibu malah bingung ia tampak menganggukkan kepalanya tidak fokus, bahkan saat aku mencium tangannya dan mengucapkan salam.
Bahkan hingga mobil yang kami tumpangi pergi, aku masih bisa melihat ibuk yang berdiri di tempatnya dengan wajah bingung.
Heran ...., kenapa ibuk malah bingung begitu ....
Aku pun beralih melihat pak Dul dari cermin kecil yang tergantung di kaca depan, dan sepertinya pak Dul menyadari aku melihatnya, dia pun tersenyum.
"Pak Dul, tapi hari ini aku tidak ke sekolah!" ucapku, tapi sepertinya pak Dul cukup tahu, karena aku tidak memakai seragam. Aku memakai atas putih dan rok berwarna hitam dan yang paling istimewa, ini penampilan baruku dengan hijab.
"Mbak Zahra mau bolos?"
"Enggak, hari ini aku mulai magang, oh iya!" aku segera merogoh tasku, aku tidak begitu hafal dengan alamatnya, "Ini pak alamat tempatku magang, soalnya kemarin pas perkenalan aku berhalangan hadir, jadi aku belum tahu tempatnya!" ucapku sambil menyerahkan secarik kertas yang berisi alamat tempat ku magang.
Wajah pak Dul terlihat terkejut saat melihat alamat itu,
"Ada apa pak Dul?"
"Nggak pa pa mbak, kebetulan saya juga bekerja di situ!"
"Maksudnya pak Dul bos nya?" tanyaku dengan cepat tapi pak Dul segera tertawa.
"Bukan mbak, mbak Zahra ini ada-ada saja, mana mungkin saya bosnya!"
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
IG @tri.ani5249
...Happy Reading 🥰🥰🥰 ...
__ADS_1