
Setelah mengantar Zahra ke sekolah, ustad Zaki segera bergegas pulang. Ia sudah janji pada Abi dan uminya untuk mengantar ke rumah orang tua Zahra.
"Assalamualaikum!" sapanya begitu turun dari mobil, sang Abi tengah duduk di teras rumah dengan pakaian yang sudah rapi.
"Waalaikum salam!" jawabnya sambil tersenyum menyambut kedatangan putranya
"Sudah siap, bi?" tanyanya pada Abi setelah sampai di depan abinya.
"Tanya sana sama umi kamu, dari tadi nggak keluar-keluar!"
Baru saja ustad Zaki hendak masuk ke dalam rumah, umi sudah lebih dulu keluar dengan tangan yang penuh dengan barang bawaan.
"Untung kamu sudah datang, umi minta tolong ya, ambilkan beberapa barang yang mau umi bawa di dalam!"
Ustad Zaki menatap barang yang sudah cukup banyak di tangan uminya, "Masih ada lagi, umi?"
"Iya, Abi sama.umi kan nggak akan sering datang ke sini. Kalau nggak bawa banyak oleh-oleh nggak enak!"
"Harusnya umi bilang sama Zaki, biar Zaki aja yang cariin oleh-oleh di sini!"
"Nggak pa pa, lagi pula umi seneng. Ya sudah cepetan ambil, keburu siang nanti!"
"Iya umi, bentar ya!" ustad Zaki pun masuk ke dalam rumah dan mengambil oleh-oleh untuk keluarga Zahra.
Mereka pun akhirnya pergi ke rumah pak Warsi dan Bu Narsih untuk pertama kalinya.
Kedatangannya mereka cukup membuat Bu Narsih terkejut,
"Ya Allah, ustad!"
"Assalamualaikum, Bu!"
"Itu sama siapa?" tanyanya begitu melihat dua orang yang berdiri di belakang ustad Zaki.
Umi pun berjalan mendekat, "Assalamualaikum mbak yu,"
"Waalaikum salam!" Bu Narsih masih mengamati wajah umi ustad Zaki.
"Saya uminya, Zaki!"
"Masyaallah, maafkan saya. Saya benar-benar tidak tahu. Monggo-monggo silahkan masuk!"
Akhirnya mereka pun masuk, ustad Zaki mengambilkan oleh-oleh yang di siapkan oleh uminya sedangkan Bu Narsih memanggil pak Warsi yang berada di halaman belakang, akhir-akhir ini kesehatan pak Warsi sudah membaik, walaupun belum ke sawah atau ladang pak Warsi menghabiskan waktunya di kebun belakang atau sekedar memberi makan binatang ternaknya.
"Jadi ini Bu nyai dan pak kyai ya?" tanya pak Warsi.
"Insyaallah begitu pak." jawab Abi ustad Zaki.
"Seharusnya tidak perlu repot-repot seperti ini, cukup kalian mau datang saja kami keluarga sungguh sangat senang!" Bu Narsih benar-benar merasa tidak enak dengan umi dan abinya ustad Zaki.
"Jangan sungkan begitu, sungguh kami tidak merasa direpotkan, mbakyu!"
Mereka pun akhirnya membicarakan banyak hal hingga menjelang dhuhur barulah mereka berpamitan.
"Jangan kapok datang ke sini lagi!"
"Nggak kok mbakyu, insyaallah nanti kalau sudah ada cucu pasti kami akan sering ke sini nengokin cucu!"
"Aminnn, semoga cepat di kabulkan!"
Ustad Zaki hanya bisa tersenyum dengan pembicaraan orang tuanya karena bahka sampai sekarang mereka belum benar-benar melaksanakan apa yang selayaknya dilakukan oleh sepasang suami istri.
"Kalau begitu kami pulang dulu, maaf udah merepotkan mbakyu sama kang mas!"
"Tidak sama sekali Bu Nyai!"
__ADS_1
Setelah mengucapkan salam mereka benar-benar meninggalkan rumah pak Warsi dan Bu Narsih.
Setelah mengantar pulang kedua orang tuanya, ustad Zaki pun kembali berpamitan,
"Zaki pergi dulu ya umi, mau ke masjid trus langsung ngecek anak-anak sekalian jemput Zahra!"
"Ya sudah cepetan sama, kasihan nanti kalau jemput Zahra nya kesorean!"
"Abi bareng Zaki sekalian kan ke masjid?"
"Iya deh, dari pada jalan!"
***
Zahra terdiam di dalam kelas, ia sebenarnya lapar tapi ia tidak bawa uang saku.
"Nyesel, kenapa tadi nggak ambil uang belanja saja, tau gini kan mending ambil. Sekalian biar habis tuh uang buat aku jalan-jalan!" gerutunya sambil memegangi perutnya yang sudah melintir minta di sini
Nur yang baru saja kembali dari mushola sekolah segera menghampiri Zahra,
"Tumben anteng di kelas, ada angin apa nih?"
"Nggak pa pa!" jawab Zahra yang menggan mengeluarkan tenaga lebih.
"Kamu nggak sholat?"
"Kan memang aku belum sholat, masih M!"
"Oh iya, lupa! Nggak ngantuk? Tuh baksonya pak Juri sudah melambai-lambai minta kamu makan tuh!"
"Aku nggak bawa uang!"
"Hahhhh?" Nur benar-benar terkejut, "Yang benar saja, ustad Zaki nggak ngasih kamu uang jajan?"
Seorang anak tiba-tiba berjalan menghampiri bangku Zahra.
"Ra, di panggil Bu Chusna tuh!" ucapnya.
"Bu Chusna?"
"Iya!"
"Ngapain?"
"Ya mana aku tahu, tanya sendiri sama Bu Chusna!"
"Ya udah, makasih ya!"
Anak itu pun akhirnya meninggalkan Zahra dan Nur.
"Kamu ada masalah sama Bu Chusna?" tanya Nur, karena Tidka biasanya.
"Enggak!"
"Ulangan kamu bagaimana?"
"Sudah keluar kan nilainya, nggak da masalah!"
"Mau aku temenin ke kantor?" nur menawarkan diri saat Zahra Sudja berdiri dari duduknya.
"Nggak usah lah, sama-sama manusia juga ngapain harus takut!"
"Issttttt!"
"Ya udah aku temui Bu Chusna dulu!"
__ADS_1
Zahra pun segera menuju ke ruang guru, tepatnya di ruangan Bu Chusna.
"Bu, Bu Chusna panggil saya?" tanyanya setelah masuk ke ruang yang jarang sekali siswa mau datang ke ruangan itu.
"Zahra, duduklah!"
Zahra dengan ragu pun duduk di depan meja Bu Chusna,
"Ada masalah apa ya Bu? Hari ini saya nggak bikin masalah loh!"
"Siapa bilang kamu punya masalah, ini buat kamu!" Bu Chusna memberikan dua lebar uang sepuluh ribuan pada Zahra membuat Zahra terkejut.
"Hahh, Ini serius Bu? Ibu ngasih Zahra uang? Tahu banget Zahra nggak bawa uang saku!"
"Bukan dari saya, ini dari ustad Zaki."
"Hahhh?"
"Tadi pagi kebetulan ketemu di depan gerbang. Dia nitipin ini sama ibu!"
"Ohhhh, kirain! Makasih ya Bu!" Zahra pun segera mengambil uang itu dan hendak pergi.
"Zahra!" panggil Bu Chusna.
"Iya Bu, ada apa lagi?"
"Salam ya buat ustad Zaki, bilang sama ustad kalau kapan-kapan saya datang ke rumahnya."
"Kan Bu Chusna punya nomornya, kenapa nggak bilang langsung aja?"
"Kan nggak enak, Zahra!"
"Nggak janji deh Bu, Zahra permisi!" Zahra pun bergegas meninggalkan ruangan itu dengan kesal.
"Enak aja mau titip-titip salam, emang aku tukang pos apa!?" gerutunya sambil terus berjalan ke kantin.
"Zahra!?" seseorang yang memanggilnya membuatnya mengehentikan langkah lagi.
"Siapa lagi sih, Nggak tahu apa ada orang lapar." gerutunya sambil melihat siapa yang memanggilnya.
"Bayu?"
Bayu berhenti tepat di depannya, "Aku nyariin kamu di kelas, kata Nur kamu di panggil Bu Chusna, ada apa?"
"Nggak pa pa!"
"Sekarang kamu mau ke mana?"
"Ke kantin, aku lapar!"
"Ikut ya?"
"Hmm!"
Mereka pun akhirnya berjalan bersama ke kantin.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
Ig @tri.ani5249
...Happy Reading 🥰🥰🥰...
__ADS_1