Menikahi ustad tampan

Menikahi ustad tampan
Siapa Bapaknya??


__ADS_3

Zahra terus saja mondar mandir di ruang tamu, ia benar-benar tidak sabar menunggu suaminya pulang. Tangannya terus saja menggengam ponsel, tapi sama. sekali tidak ada pesan atau telpon dari sang suami.


"Minum dulu, nduk!" ucap Bu Marni sambil meletakkan segelas coklat hangat di atas meja untuk Zahra.


"Matur nuwun budhe. Kira-kira ada apa ya budhe di rumah kyai Rosyid?"


"Tenanglah nduk, insyaallah ustad Zaki bisa menyelesaikan semuanya!"


"Firasat Zahra nggak enak, budhe!"


"Di tenangkan saja pikirannya, minum dulu saja!"


Zahra pun menuruti permintaan Bu Marni, ia pun akhirnya duduk dan mulai meneguk coklat hangatnya, sedikit menenangkan pikirannya.


Baru beberapa teguk dan tiba-tiba suara motor berhenti di depan rumahnya, dengan cepat Zahra kembali berdiri dan membuka pintu, ia berharap itu suaminya.


"Nur!?"


Ternyata Nur yang datang, Nur segera berjalan menghampirinya dan memeluknya,


"Zah, kamu nggak pa pa kan?"


Zahra malah terlihat bingung,


"Aku?" tanyanya, "Aku baik-baik saja, Nur! Ada apa? Tidak biasanya kamu malam-malam ke sini, sendiri lagi!"


Nur pun segera melepaskan pelukannya,


"Tidak pa pa! Kamu di rumah sama siapa?"


"Itu sama budhe Marni!"


wanita yang tengah dibicarakan tiba-tiba muncul dari dalam dengan senyum teduhnya,


"Ehhh Nur. Masuk Nur!"


"Iya budhe!"


"Ayo Nur masuk!" Zahra segera menarik tangan Nur dan mengajaknya duduk di sofa,


"Mau minum apa Nur?" tanya Bu Marni.


"Nggak perlu budhe, Nur juga nggak akan lama kok budhe!"


"Baiklah, budhe tinggal ke belakang dulu ya!"


"Iya, budhe!"


Kini di ruang tamu itu hanya menyisakan nur dan Zahra. Tapi Nur tampak lebih diam dari biasanya, ia juga menanyakan hal yang menurut Zahra sesuatu yang nggak perlu di tangannya.


Tidak mungkin Nur jauh-jauh ke rumahnya hanya untuk menanyakan seragam baru Zahra, atau pr Zahra, atau besok masuk atau tidak, jika hanya menanyakan hal itu seharusnya nur bisa kirim pesan saja padanya.

__ADS_1


"Nur," Zahra sudah mulai curiga.


"Hmmm?"


"Sebenarnya apa yang ingin kamu katakan padaku? Kamu tidak mungkin kan datang ke sini hanya untuk menanyakan hal itu."


"Beneran Zah, aku cuma lagi suntuk aja di rumah!"


"Kamu bohong!" Nur bukan orang yang pandai berbohong, hanya dengan melihat gelagatnya saja Zahra sudah tahu kalau Nur tengah berbohong padanya,


"Apa ini mengenai kedatangan mas ustad ke rumah Imah?"


Kali ini Nur diam, ia tidak tahu harus menjawab apa.


"Iya kan, sudah aku duga. Kalau kamu sayang sama aku, sekarang tolong katakan semuanya. Aku akan lebih marah jika sampai aku harus tahu dari orang lain!"


Hehhhhh ....


Nur menghela nafas dalamnya, setelah Zahra terus memaksanya akhirnya Nur tidak bisa menghindarinya lagi. Nur pun menceritakan semuanya, dan satu kampung sudah tahu apa yang terjadi. Berita itu sudah benar-benar menyebar.


Zahra hanya terdiam mendengar cerita dari nur, Bu Marni ternyata juga mendengarkan pembicaraan mereka. Ia sebenarnya sudah di tahu sejak siang tapi ia sengaja tidak ingin memberitahukan hal itu pada Zahra. Tapi rupanya Nur malah datang dan memberitahu semuanya.


Suara motor ustad Zaki berhenti di depan rumah, tanda jika suaminya sudah pulang. Bu Marni pun segara menghampiri Zahra dan Nur.


"Itu ustad Zaki sudah datang, Nur bisa kan nganter budhe pulang sekalian!" ucapnya pada Nur, berharap nur bisa pulang juga dan membiarkan sepasang suami istri itu menyelesaikan masalahnya.


"Iya budhe!" nur pun kembali menatap sahabatnya, "Zah, aku pulang dulu ya. Kalau kamu butuh sesuatu, hubungi aku ya!"


"Assalamualaikum!"


"Waalaikum salam!"


Terdengar dari dalam, mereka berpapasan dengan ustad Zaki di depan setelah mengobrol sebentar mereka akhirnya benar-benar meninggalkan rumah Zahra dan ustad Zaki.


"Assalamualaikum!" sapa.ustad Zaki dan Zahra pun menjawabnya dengan wajah datarnya.


"Waalaikum salam!"


Ustad Zaki segera mendekati istrinya yang masih duduk di sofa,


"Dek," panggilnya dan hendak ikut duduk tapi Zahra segera berdiri hendak meninggalkan ustad Zaki, tapi tangannya segera ditahan oleh sang suami.


"Dek, ada apa?"


"Aku sudah mendengar semuanya, mas!"


Deg


Ini yang sedari tadi ustad Zaki khawatirnya, sepanjang jalan ia hanya sibuk memikirkan bagaimana ia menjelaskan pada sang istri.


Ia pun ikut berdiri dan memeluk sang istri dari belakang,

__ADS_1


"Dek, mas akan jelaskan apapun yang dek Zahra ingin ketahui. Tapi bisa kan kita bicara dan duduk dulu!"


Zahra pun akhirnya menuruti perintah suaminya, ia pun duduk di sofa yang sama,


"Jadi benar jika mbak Imah hamil?" tanya Zahra.


"Iya!" jawab ustad Zaki singkat.


"Mas yang bertanggung jawab atas itu?"


"Demi Allah, enggak dek. Sungguh mas tidak pernah melakukan hal yang di larang oleh agama dek, kamu percaya kan sama mas!"


"Tapi semua bukti mengarah pada mas!"


"Mas bisa buktikan jika tuduhan mereka salah, yang terpenting buat mas sekarang kamu bisa percaya sama mas,"


"Maaf mas tapi Zahra nggak bisa!"


"Demi Allah_!" ustad Zaki mengacungkan kedua jarinya dan Zahra segera menahannya,


"Jangan mas, jangan bersumpah atas apapun, Zahra nggak mau mas ustad memupuk dosa atas sumpah yang mas ucapkan, jika mas ingin Zahra percaya, maka mas ustad harus buktikan, bukan bersumpah."


Zahra pun berdiri dari duduknya dan hendak meninggalkan sang suami, baru dua langkah ia berjalan, langkahnya harus kembali terhenti dengan ucapan sang suami,


"Mas akan buktikan!"


Zahra benar-benar tidak bisa menahan air matanya lagi, hingga buliran itu benar-benar rembes dari matanya hingga ia tidak berani membalik tubuhnya lagi,


"Iya_!" jawab Zahra dengan suara bergetar, "Maaf Zahra ingin tidur sendiri malam ini, besok dan untuk beberapa hari ke depan biarkan Zahra menginap di rumah bapak!"


Setelah mengakhirinya ucapannya Zahra segera berjalan meninggalkan ustad Zaki, masuk ke dalam kamar dan menguncinya dari dalam.


Akhrinya kini air matanya benar-benar pecah, dalam kamar itu ia benar-benar meluapkan semua emosinya,


"Kenapa sesakit ini? Aku takut ya Allah, aku takut jika semua itu benar, bagaimana dengan aku, pasti mas ustad akan lebih memilih Imah."


Zahra benar-benar merasa ketakutan, hatinya yang baru saja memkar seakan seperti terpatahkan oleh sebuah gosip yang sebenarnya ia sendiri tidak percaya tapi hatinya menolak untuk mengabaikannya.


Zahra hanya terus menangis sepanjang malam hingga benar-benar tertidur sedangkan ustad Zaki tak kalah menyedihkan, ia hanya terus berdiri di depan pintu kamar tanpa berani mengetuk pintu itu, bahkan ia tidak bisa tidur semalam, ia memilih menghabiskan waktunya untuk sholat dan membaca Alquran untuk menenangkan hatinya, ia hanya bisa berharap semoga masalah itu tidak akan terlalu berlarut-larut.



Tidak semua yang ada di hati harus di ceritakan, terkadang diam itu lebih indah💚, @aidar.rofiqq


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya


IG @tri.ani5249

__ADS_1


Happy Reading 🥰🥰🥰


__ADS_2