Menikahi ustad tampan

Menikahi ustad tampan
Ngadem


__ADS_3

Zahra tengah duduk sambil menunggu sang suami yang berada di kamar mandi, ia memegangi baju yang akan di berikan kepada suaminya sambil senyum-senyum sendiri, ia masih kepikiran dengan yang semalam, ia tidak menyangka jika suaminya mau mengerjakan tugasnya sampai minta foto buku lks miliknya yang ada di rumah. Padahal biasanya sang suami begitu ketat jika masalah tugas sekolah,


Ceklek


Pintu kamar mandi terbuka dan ustad Zaki keluar dari sana hanya dengan melilitkan handuk di pinggangnya dengan rambut yang masih sedikit basah dan tengah ia keringkan dengan handuk kecil di tangannya.


Tapi kegiatannya segera berhenti saat melihat istrinya yang bahkan tidak menyapanya kali ini, dan malah tersenyum sendiri.


Ustad Zaki pun meletakkan handuk kecilnya di sandaran kursi kayu yang ada di depan meja rias dan berjalan perlahan menghampiri sang istri,


"Dek, masih pagi kenapa senyum-senyum sendiri?" tanyanya sambil mengambil baju yang ada di tangan sang istri dan meletakkan di atas tempat tidur.


"Nggak pa pa, cuma keinget tadi malam!"


"Memang tadi malam ngapain?" tanya ustad Zaki sambil tangannya meraih handuk yang ada di pinggangnya hingga hampir terlepas tapi segera di tahan oleh Zahra,


"Mas, mau ngapain?" tanya Zahra membuat ustad Zaki menghentikan kegiatannya.


"Mau pakek baju!" ucapnya sambil menenteng ****** ***** yang sempat ia letakkan di atas tempat tidur.


Dan dengan cepat Zahra menutup matanya,


"Bentar, Zahra keluar dulu." teriaknya.


"Kenapa keluar?"


"Malu mas!"


Melihat kelakuan Zahra membuat ustad Zaki kembali tersenyum, ia benar-benar selalu dibuat surprise dengan setiap spontanitas dari Zahra.

__ADS_1


"Kok malu sih, kan setiap hari sudah lihat!?"


"Apaan sih mas," Zahra malah semakin tersipu malu, "Sudah ah mas, jangan goda Zahra!"


"Siapa yang goda dek, emang kenyataan begitukan!?"


Iya sih ....


"Udah ah, Zahra keluar dulu. Sekalian Zahra pamit mau jalan-jalan." ucap Zahra sambil berdiri dari duduknya dan merapikan jilbabnya, memoles wajahnya dengan bedak tipis dan lipstik agar tidak terlihat pucat.


Ustad Zaki mengurungkan niatnya untuk memakai baju, ia lebih tertarik mengikuti pergerakan sang istri, "Jalan-jalan ke mana?"


"Cuma sekitar pesantren mas,"


"Nanti aja deh dek, nunggu mas pulang. Lagi pula mas perginya nggak lama, paling lama cuma dua jam!"


"Ya Allah mas, cuma di area pesantren mas, janji. Lagi pula Zahra bosan di kamar terus, masak dari kemarin di kamar terus sih, jadi kayak ayam petelur aku!" keluh Zahra dan berhasil membuat ustad Zaki menghela nafas. Ia ingin sekali menemani istrinya, tapi ia juga tidak bisa membatalkan janjinya pada seseorang.


"Siap!" ucap Zahra sambil tersenyum senang, ia pun menyambar totebag yang ada di atas meja.


"Tunggu!"


"Apa lagi mas?"


"Kenapa bawa tas?"


"Isinya cuma buku, hp sama headset mas, sama tikar. Zahra lihat di belakang pesantren ada ruang terbuka yang enak buat ngadem jadi Zahra mau ke sana!"


"Bener cuma ke sana kan?"

__ADS_1


"Iya mas, nggak percayaan banget. Nih lihat, Zahra aja nggak bawa dompet!" ucap Zahra sambil membuka lebar tasnya agar sang suami melihat isi tasnya.


"Baiklah mas percaya. Tapi janji ya, nggak lebih dari area pesantren!"


"Iya, udah ah Zahra berangkat dulu, keburu panas cuacanya. Assalamualaikum!" ucap Zahra sambil mencium punggung tangan suaminya.


"Waalaikum salam!"


Zahra pun akhirnya benar meninggalkan kamar, saat berkeliling pesantren ia sempat melihat tempat yang lumayan indah.


Jika di jam-jam sekolah seperti ini pesantren sepi, jadi Zahra bisa leluasa kesana kemari di dalam pesantren tanpa harus takut ada yang memperhatikannya.


Kebetulan hari ini Abi dan ummi sedang ada acara di luar kota, mereka dapat undangan mengisi ceramah di sana sekalian salah satu pemilik pesantren ada yang mengadakan hajatan, jadi mereka akan pergi selama tiga hari.


Akhirnya Zahra sampai juga di tempat yang di maksud, sebuah taman terbuka di belakang pesantren. Meskipun masih wilayah pesantren tapi orang luar bisa masuk untuk sekedar menikmati pemandangan, ada akses keluarnya juga.


Zahra pun mengambil sebuah kain dari dalam tasnya yang sengaja ia bentangkan di atas rumput untuknya duduk dan tidak lupa mengambil buku. Bukan buku pelajaran tapi sebuah novel yang belum selesai ia baca. Novel karya ustadzah Nafis.


Zahra memutar musik dan mengenakan headset nya untuk mendengarkan musik.



...Dan saat ini aku tengah mengusahakan hal itu, mengusahakan agar engkau tetap bahagia karena mencintaiku...


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya

__ADS_1


Ig @tri.ani5249


...Happy reading 🥰🥰🥰...


__ADS_2