
"Hari ini kita jalan-jalan ya," ucap ustad Zaki, ia tengah sibuk membolak-balik berkas yang ada di hadapannya, entah apa yang tengah ia kerjakan, tapi sedari pagi ia terus saja berkutat dengan berkas-berkas itu. Sepertinya kesibukannya di Bandung lebih banyak di bandingkan kesibukannya di Blitar. Bahkan saat di Bandung, ustad Zaki jarang menyempatkan diri untuk tidur siang barang setengah jam.
"Yakin nggak sibuk?" tanya Zahra sambil memicingkan matanya, ia menoleh sedikit pada suaminya dan kembali fokus pada ponselnya, ia juga tengah sibuk berkirim pesan dengan Nur.
Ustad Zaki sadar jika bicara tanpa menatap sang istri, ia pun segera meletakkan berkas yang ada di tangannya dan menatap pada sang istri,
"Insyaallah enggak dek, ini hampir selesai!"
Zahra pun juga melakukan hal yang sama, ia mencondongkan tubuhnya pada sang suami hingga begitu dekat,
"Nggak perlu, Zahra terlanjur punya janji sama ummi, ummi mau ngajak Zahra pengajian di kampung sebelah. Jadi mas ustad selesaikan saja pekerjaannya, besok kalau sudah benar-benar selesai, baru deh ngajak Zahra!"
"Dek Zahra beneran nggak marah sama mas?"
Zahra mencebirkan bibirnya, "Sudah biasa, udah ah Zahra mau berangkat!"
Zahra memilih bangun dari duduknya, ia kembali duduk di depan meja rias dan mulai memakai hijab yang sedari tadi ia gantung di bahunya.
Dan benar saja, baru saja Zahra menyelesaikan memakai hijabnya, tiba-tiba ummi datang dan mengetuk pintu,
"Sayang, sudah siap belum?" tanya ummi setelah mengucap salam.
"Bentar lagi ummi!"
"Ya sudah kalau begitu ummi tunggu di depan ya, sama bibi juga!"
"Iya ummi!"
Yang di maksud bibi adalah orang yang selama ini membantu ummi memasak di dapur pribadi sedangkan yang memasak di dapur umum, dapur pesantren ada beberapa orang yang memang di pekerjakan untuk pesantren dan beberapa lainnya adalah santri yang sengaja ingin mengabdikan diri di pesantren setelah lulus.
Selain membantu memasak, mereka juga membantu mengurus pesantren, termasuk membantu administrasi atau menjadi pengajar.
Setelah ummi kembali meninggalkan mereka, ustad Zaki pun berjalan mendekati sang istri dan memeluknya dari belakang,
"Yakin nggak mau pergi sama mas aja!?" tanyanya sambil menyandarkan dagunya di bahu sang istri.
"Apaan sih mas, nggak usah ganggu Zahra ya. Lagian mas, pekerjaan mas ustad kan numpuk, mending di selesaikan dulu deh."
"Tapi mas lagi pengen deket terus nih sama dek Zahra!"
"Jangan gombal ah, udah deh mas kasihan ummi nunggunya lama!"
"Ya sudah dek kalau gitu kasih mas bonus karena sudah ngijinin dek Zahra pergi!"
"Bonus?" tanya Zahra sambil mengerutkan keningnya, ia menatap pantulan dirinya dan sang suami dari cermin.
Ustad Zaki pun melepaskan pelukannya dan memutar tubuh sang istri hingga mereka saling berhadapan.
__ADS_1
"Kasih bonusnya di sini, atau di sini atau di sini!" ucap ustad Zaki sambil menunjuk bibir, dan kedua pipinya."
"Maksudnya cium?"
"Hmmm!"
"Cuma satu kan?"
"Tunjuknya kan tiga,"
"Tapi kalau tidak salah pakek kata atau, bukan dan!"
"Salah denger kayaknya dek Zahra!"
",Apaan, enggak!"
Karena menunggui terlalu lama membuat ummi kembali memanggilnya dari bawah,
"Zahra, ayo. Jangan lama-lama ya!" ucap ummi membuat Zahra dan ustad Zaki terdiam.
"Tuh kan, Zahra sudah di tunggu ummi, jadi jangan ganggu Zahra lagi!"
"Ya udah cepetan, mana bonusnya!"
Hehhhhh
Tapi dengan cepat sang suami menarik pinggangnya, dan mel*mat bibirnya yang awalnya hanya ingin memberi ciuman yang biasa saja, hingga ia tidak bisa melepaskan bibirnya lagi. Sang suami semakin memperdalam ciumannya.
"Zahra_, sudah belum!?" panggil ummi lagi membuat Zahra dengan reflek mendorong tubuh sang suami dengan keras.
Gubrakkkkk
"Aughhhh!?" keluh ustad Zaki yang terjatuh karena kakinya tersrimpet kursi plastik yang tadi di duduki Zahra.
"Upsss!" Zahra menutup mulutnya terkejut, "Aduh, aduh maaf mas, nggak sengaja!" ucap Zahra panik, "Tapi maaf mas nggak bisa bantuin, ummi udah nunggu lama soalnya!"
Bukannya meraih tangan sang suami, Zahra malah meraih tas yang berada di samping sang suami terjatuh,
"Assalamualaikum mas ustad!"
"Ini yakin suaminya nggak di bantuin dulu?" tanya ustad Zaki dan Zahra malah melambaikan tangannya dan keluar dengan buru-buru,
"Waalaikum salam!" jawab ustad Zaki meskipun terlambat,
"Beneran milih ummi!?" keluhnya sambil mengusap lengannya yang terbentur meja rias. Meskipun begitu ia tersenyum, ia senang karena istri dan umminya berhubungan baik, tidak seperti yang ia khawatirkan selama ini.Ia khawatir jika hubungan menantu dan mertua akan tidak baik seperti kebanyakan kisah menantu dan mertua yang ia dengar.
"Maaf ummi, Zahra lama ya!?" ucap Zahra saat menghampiri ummi yang sudah duduk di teras bersama bibi.
__ADS_1
"Lumayan, Zaki pasti godain kamu terus ya?"
Ummi kok bisa tahu sih ...., batin Zahra sambil memastikan tidak ada yang ganjil dengan penampilannya.
"Hmmm?" tanya Zahra bingung tapi malah membuat ummi dan bibi senyum-senyum.
"Ada yang aneh ya ummi?" tanya Zahra kemudian.
Ummi pun merogoh tasnya dan mengambil cermin kecil berbentuk lingkaran kemudian menyerahkannya pada Zahra,
"Lihat sendiri deh!?"
Zahra pun mengambil kaca itu dan melihat pantulan wajahnya dari kaca kecil itu,
Astaghfirullah hal azim ....
Seketika wajahnya memerah karena malu, ia menyesal karena tidak lagi melihat penampilannya tadi. Ternyata lipstiknya belepotan gara-gara ulah sang suami.
Zahra pun dengan cepat menghapus lipstiknya,
"Pakek ini sayang!?" ucap ummi sambil menyerahkan selembar tisu, "Dan ini lipstiknya lagi!"
"Ummiiiii!!" keluh Zahra yang sudah terlanjur malu.
"Nggak pa pa, ummi juga pernah muda, bibi juga kan bi?" tanya ummi pada bibi agar Zahra tidak semakin malu.
Bibi puj menganggukkan kepalanya, "Iya neng, bibi juga pernah begitu!" ucap bibi sambil tersenyum.
Bukannya kata ummi bibi belum pernah nikah ....
"Bibi belum pernah nikah kan ummi?" dasar Zahra yang memang tidak bisa menjaga bibirnya membuat ummi dan bibi malah saling pandang.
"Upsss, Zahra salah ngomong ya!?" Zahra jadi semakin salah tingkah.
"Sudah, sudah. Ayo berangkat. Jangan sampai kita terlambat lagi, kasihan bu nyainya!" ucap ummi yang berusaha mengalihkan pembicaraan.
Akhrinya bibi dan Zahra pun hanya saling diam sepanjang perjalanan. Sepertinya ada yang salah dari perkataan itu.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
Ig @tri.ani5249
Happy reading 🥰🥰🥰
__ADS_1