
Zahra sudah menatap berjejer pil kontrasepsi dan juga vitamin itu di atas meja, pada dasarnya ia bukan pencinta vitamin, meski telah membeli cukup banyak vitamin ia tidak pernah berniat untuk meminumnya,
Ia menyanggah dagunya dengan tangan Sedangkan tangan yang satunya ia gunakan untuk mengetuk-ngetuk meja yang ada di depannya,
"Ini semua mau aku apain, coba!" gumamnya sambil memegangi satu per satu vitamin dan pil kontrasepsi itu,
"Mana aku nggak tahu lagi cara minumnya, kenapa di sini ada tanggalnya juga?" ia kembali membolak-balikkan pil yang ia yakini pil KB itu,
"Ini vitamin kok juga sama sih bentukannya, kalau aku Meleng dikit pasti salah minum kalau kayak gini!"
"Apa aku tanya ibuk aja ya!" gumamnya lagi.
***
Pagi ini terlihat Zahra sudah siap lebih awal dari pada biasanya,
"Dengaren nduk, yah mene wes siap? Ada angin apa?" tanya Bu Narsih yang masih sibuk menyiapkan sarapan.
"Ndak po po buk, sengaja mau bantu ibuk!"
"Wes nggak usah, malah berantakan nanti!"
"Ya enggak lah buk, ini kan yang mau di taruh di meja?" tanyanya sambil menunjuk sebaskom sayur lodeh tahu dan rebung.
"Iya!"
Zahra pun segera mengangkatnya dan membawanya ke meja makan,
"Bapak kemana buk, pagi-pagi kok sudah Ndak ada?" tanya Zahra begitu menyadari bapaknya sudah tidak di rumah.
"Jam segini burungnya di sawah banyak, bapakmu lagi ngusir burung!"
Kesempatan bagus nih ...., Zahra pun dengan cepat mendekati ibuknya lagi.
"Buk," panggilnya ragu.
"Hmmm?" tampak Bu Narsih masih tetap sibuk menggoreng tempe.
"Buk,"
"Opo sih Zah? Ibuk denger, ngomong aja nggak usah panggil-panggil terus kayak anak kecil aja."
"Abis ibuk nggak mau noleh ke arah Zahra sih!?" protes Zahra.
"Ya gosong, Zah. Tempenya, sudah ngomong aja ibuk denger!"
"Baiklah!" akhirnya Zahra menyerah, lagi pula kalau ibunya tidak menatap matanya, ia tidak akan tahu jika Zahra tengah berbohong begitulah pikir Zahra,
"Ibu tahu nggak caranya minum pil KB?"
__ADS_1
Seketika Bu Narsih meletakkan seroknya dan menoleh ke arah Zahra,
"Kenapa tanya seperti itu? Kamu mau pakek pil KB?"
"Emmm_!" Zahra tampak ragu untuk menjawab pertanyaan ibunya.
"Jangan macam-macam ya Zah, apa-apa itu tanya suami kamu dulu, apalagi ini masalah pil KB, itu masalah besar. Kamu tahu itu, Ranti anaknya pak Darman, dia sudah lima tahun menikah nggak cepet-cepet di karuniai anak gara-gara pas pengantin baru sama suaminya di suruh minum pil KB dulu sampai dua tahun, nggak takut kamu!?"
Yahhhh belum-belum sudah di omelin gini ..., batin Zahra. Ia sampai tidak punya kesempatan untuk bicara.
"Enggak Bu,"
"Pokoknya ibuk nggak setuju ya, nanti kalau kamu nggak sanggup momong anak, biar ibuk yang momong, ibuk juga masih kuat kalau cuma momong bayi."
"Ya Allah buk, Zahra kan tadi cuma tanya! Udah ahhh, Zahra mau berangkat aja!" Zahra memilih meninggalkan ibuknya.
"Kebiasaan ya kamu, ibuk belum selesai bicara!" teriak Bu Narsih dari dapur dan Zahra sudah berada di dalam kamarnya.
"Nanti aja buk pulang magang, bicaranya lagi!" teriak Zahra yang tidak mau kalah.
Ahhh syukurlah ..., Zahra bernafas lega saat mobil pak Dul berhenti di depan rumahnya, suaranya terdengar dari kamarnya.
"Zahra berangkat buk, assalamualaikum!" ia benar-benar tidak ingin membuang waktu.
"Waalaikum salam!" Bu Narsih hanya bisa menepuk dadanya memikirkan kelakuan putrinya itu.
"Ayo pak berangkat!" ajak Zahra dan pak Dul malah bingung, biasanya ia harus menunggu hampir setengah jam hanya untuk menunggu Zahra bersiap-siap.
"Hehhh?"
"Tadi saya sengaja datang lebih pagi biar mbak Zahra tidak terburu-buru!"
Zahra pun melihat jam yang melingkar di tangannya dan benar saja masih setengah tujuh,
"Ahhhh, nggak pa pa pak, kita bisa cari sarapan nasi pecel dulu di pasar! Iya kan Wen?" Zahra meminta persetujuan Weni yang duduk di kursi belakang.
"Iya mbak, Weni juga belum sempat sarapan!" ucap Weni jujur karena hari ini pak Dul datang lebih pagi dari biasanya hingga ia merasa sungkan jika membuat pak Dul menunggu.
"Ayo berangkat pak Dul!"
"Baik mbak!"
Akhirnya mobil pun melaju, seperti yang di katakan oleh Zahra. Ia mengajak pak Dul dan Weni mampir di pasar, ia punya langganan nasi pecel di sana.
"Ayo ayo pak Dul, Weni, pesan aja. Nanti kalau mau tambah, tambah aja, aku yang bayarin!" ucap Zahra dengan begitu percaya diri, ia baru tahu kalau ternyata sang suami menyisipkan sebuah amplop yang berisi uang di tas rangselnya yang jumlahnya lumayan banyak untuk uang jajannya selama dua Minggu.
"Iya mbak!" jawab Weni dan pak Dul bersamaan.
Setelah menyelesaikan sarapannya, mereka pun melanjutkan perjalanan ke kedai lalapan.
__ADS_1
Beberapa karyawan sudah mulai bekerja meskipun kedai belum di buka,
Zahra dan Weni pun segera memakai seragamnya. Mereka segera membantu teman-teman yang lain bersih-bersih,
"Nanti ada tamu dari pihak bank, tolong siapkan dokumennya ya, soalnya aku mau ada acara keluar!" ucap pak Dul pada gadis yang bernama Desi itu, Zahra yang kebetulan berada di samping Desi ikut mendengarkan.
"Iya pak Dul!"
"Jangan lupa di tungguin sampai selesai!"
"Iya pak!"
Pak Dul pun segera meninggalkan mereka, ia benar-benar terlihat sibuk setiap hari.
Zahra yang penasaran pun mendekati Desi,
"Mbak Des, sudah berapa hari ya kita nggak ketemu?" tanya Zahra berbasa-basi, tapi memang benar semenjak hari itu ia tidak melihat Desi masuk.
"Ohhh, iya. Empat hari ini aku sibuk di luar, makanya kasir di serahin sama mbak Indah. Ada apa?"
"Nggak pa pa, penasaran aja sama kelanjutan ceritanya yang kemarin!"
Desi tampak mengerutkan keningnya, ia sepertinya lupa terakhir kali bicara apa sama Zahra,
"Apa?"
"Tentang pemilik kedai ini!"
"Ohhh itu_!" Desi tampak berpikir.
Kan sama pak Dul nggak boleh cerita, gimana nih ..., batinnya bingung.
"Oh iya, aku harus nyiapin dokumen. Nanti aja ya ceritanya!" Desi segera meninggalkannya, ia masuk ke sebuah ruangan yang kata para karyawan ruangan itu adalah ruangan bos dan hanya yang berkepentingan saja yang boleh masuk.
"Yahhh, tambah penasaran kan!?" gumam Zahra kesal. Ia pun melanjutkan mengelap meja kasir sambil terus menggerutu.
...
Ijinkan aku untuk terus membuatmu bahagia karena kebahagiaanmu adalah hal terindah dalam hidupku...
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
Ig @tri.qni5249
__ADS_1
...Happy Reading 🥰🥰🥰🥰...