
...Tak perlu buru-buru, karena kamu punya beribu kesempatan untuk mengucapkan beribu kata cinta untukku suatu saat nanti...
...🌺🌺🌺...
Kini tinggal Zahra dan ustad Zaki yang masih terdiam di tempatnya,
"Dek," ucap ustad Zaki tapi Zahra segera menggelengkan kepalanya.
"Biarkan Zahra sendiri sebentar ya!?" ucap Zahra dan ustad Zaki hanya terdiam, Zahra segera mengambil kunci rumah yang masih tersimpan di bawah vas bunga dan membuka pintu, ustad Zaki membuatkan Zahra masuk sendiri sedangkan ia memilih untuk duduk di kursi yang ada di teras.
Melihat Zahra sedih hatinya juga ikut terluka,
Cemburu...
Mungkin saja ini rasa cemburu, tapi lebih besar rasa cintanya dari pada rasa cemburunya.
Zahra melempar tasnya begitu saja di sofa yang ada di dalam kamar dan ia pun segera menjatuhkan tubuhnya ke tempat tidur,
Kenapa rasanya sesak begini? Aku kira tidak akan sesakit ini berpisah dengan Bayu ..., air mata Zahra tidak terbendung lagi, ia menelungkupkan tubuhnya di tempat tidur, mengeluarkan semua air matanya hingga ia tertidur karena begitu lelah menangis.
Sedewasa apapun seorang Zahra, ia tetaplah anak perempuan berusia 18 tahun yang masih sangat labil.
Bahkan ia tidak tahu apa yang di sebut cinta itu sendiri, ia hanya merasakan perasaan nyaman yang membuatnya ingin terus tinggal.
Atau mungkin perasaan kagum pada sesuatu yang membuatnya hangat.
***
Tok tok tok
"Dek sudah sore, mas sudah buatkan makanan untukmu, mas berangkat ke masjid dulu ya! Assalamualaikum!"
Ini sudah ketukan yang ke sekian kali, tapi ustad Zaki tidak pernah memaksa untuk masuk, ia tetap ingin memberi privasi pada sang istri.
"Waalaikum salam!" jawab Zahra lirih, Zahra mengucek matanya, melihat ke arah jarum jam rupanya sudah pukul lima sore.
"Ahhh, aku ketiduran!" gumamnya sambil meregangkan tubuhnya, ia merasakan wajahnya sangat tidak nyaman kali ini.
Zahra segera merubah posisinya menjadi duduk, tidak terdengar lagi suara sang suami di luar kamar,
"Mungkin mas ustad sudah berangkat!"
krukukkkk
Zahra segera memegangi perutnya yang terasa lapar,
"Ahhhh, hari ini baru terisi bakso aja. Pantes lapar!"
Seperti anak remaja lainnya, setelah tidur ia seakan lupa dengan kesedihan yang menderanya sebelum tidur.
Ia segera beranjak dari tempat tidur, tapi saat melintas di depan cermin segera langkahnya terhenti, melihat pantulan wajahnya di dalam cermin,
"Ya Allah jelek banget wajahku!" ia mendapati kantong matanya yang besar karena terlalu banyak menangis tadi.
Ia pun dengan cepat ke kamar mandi dan membersihkan diri, ia juga mengambil wudhu segera ia melaksanakan sholat ashar sebelum waktunya habis.
Setelah menyelesaikan kewajibannya, ia kembali melihat ke arah cermin dan rupanya kantong mata itu masih terlihat jelas,
__ADS_1
"Hehhhhh, masih kelihatakan!"
Zahra pun memutuskan untuk keluar kamar dan di dapur ia sudah mendapati Bu Marni,
"Nduk,"
"Budhe, sudah lama?"
"Baru saja datang, itu tadi ustad pesen sama budhe, katanya makanannya kalau nduk Zahra nggak makan, suruh angetin lagi!"
"Zahra makan kok budhe, budhe duduk aja!"
"Nanti dulu nduk, ini budhe masih ada pekerjaan!"
Zahra pun akhirnya memutuskan untuk duduk di meja makan dan menyantap makanan yang sudah di siapkan oleh sang suami.
"Oh iya kata Weni besok sudah mulai magang ya, nduk Zahra juga?" tanya Bu Marni yang berbicara dari dapur, ia hanya sesekali menoleh pada Zahra yang tengah sibuk makan.
"Zahra masih lusa budhe," jawab Zahra.
"Ohhh, budhe kira barengan!?"
"Cuma selisih sehari aja kok budhe!"
Hingga ba'dha isya' barulah Bu Marni berpakitan pulang seperti biasanya setelah ustad Zaki kembali, tapi kali ini ustad Zaki kembali lebih malam.
"Maaf ya Bu, saya pulangnya agak telat!" ucap ustad Zaki saat Bu Marni sudah berada di depan rumah.
"Tidak pa pa ustad," ucap Bu Marni, tapi segera ia melanjutkan pertanyaannya, "Oh iya ustad, apa ustad dan nduk Zahra ada masalah?"
Bu Marni memang selama ini sudah biasa dengan ustad Zaki, bahkan ia seperti ibu kedua bagi ustad Zaki. Semejak kedatangannya ke tempat ini, Bu Marni lah yang sudah mengurusnya.
"Ya sudah, saya pulang dulu ya. Jangan biarkan nduk Zahra berlarut sedihnya."
"Iya Bu."
"Assalamualaikum!"
"Waalaikum salam!"
Ustad Zaki menunggu hingga Bu Marni berlalu, barulah ia masuk ke dalam rumah.
"Assalamualaikum!" sapanya saat melihat Zahra tengah duduk di depan tv.
"Waalaikum salam!"
Ustad Zaki pun menusuk Zahra duduk di sana,
"Dek, sudah belajar?" tanyanya dan saat Zahra menoleh ia bisa melihat kantong mata sisa Zahra menangis tadi siang, mungkin itu yang membuat Bu Marni bertanya seperti itu tadi.
"Boleh nggak hari ini Zahra absen belajarnya?" Zahra bicara dengan penuh harap membuat ustad Zaki tidak tega.
"Baiklah, tapi hari ini saja ya!"
"Hmmm!" Zahra mengangukkan kepalanya sambil tersenyum.
Ustad Zaki tertarik untuk melihat apa yang tengah di tonton Zahra, rupanya ia tengah menonton drakor kesukaannya.
__ADS_1
"Bagaimana perasaan dek Zahra sekarang?" tanya ustad Zaki lagi setelah Zahra kembali fokus ke menonton.
Zahra kembali menoleh pada sang suami, ia tengah memastikan sesuatu,
"Apa mas ustad tidak marah pada Zahra?"
"Beri satu saja alasan untuk mas marah sama kamu?" ustad Zaki malah balik bertanya.
"Karena aku menangisi pria lain,"
"Itu hak dek Zahra. Mau bagaimanapun Bayu atau siapapun itu pernah ada di dalam masa lalu dek Zahra, dan mas tidak bisa menghapusnya begitu saja dengan kedatangan mas. Tapi_!" ustad Zaki menghentikan ucapannya.
"Tapi?" tanya Zahra penasaran.
"Tapi dek Zahra harus ingat, akulah yang akan ada diasa depan dek Zahra."
Ucapan ustad Zaki berhasil membuat Zahra terharu,
Ya ampun, sebenarnya laki-laki seperti apa yang sudah aku nikahi ini, kenapa dia baik sekali?
Srekkkk
Dengan cepat Zahra berhambur memeluk sang suami,
"Ya ampun, aku benar-benar terharu!?" ucap Zahra.
"Hanya terharu?"
Zahra kembali menarik tubuhnya dan mendongakkan kepalanya agar bisa menjangkau wajah sang suami,
"Maksudnya?"
"Ya misalnya, selain terharu, apa dek Zahra sudah mencintai mas?"
Zahra terdiam, ia tidak tahu yang namanya cinta itu yang mana.
"Kenapa malah diam?" ustad Zaki menakuk wajah Zahra dengan lembut.
"Apa Zahra harus menjawabnya sekarang?"
"Tidak perlu, karena aku yakin Allah pasti memberi banyak waktu untuk berjuta kata cinta yang akan dek Zahra katakan pada mas nanti, jadi jangan buru-buru!"
Ya ampun ..., sweeet bangettttt ...
Sekali lagi pria dewasa di depannya itu benar-benar berhasil meluluhkan hatinya hingga benar-benar lebur.
"Jadi bagaimana, boleh aku mencium dek Zahra sekarang?"
"Hahhh?" Zahra malah terkejut di buatnya tapi dengan cepat ustad Zaki menarik punggung Zahra dengan satu lengannya hingga tidak ada jarak lagi diantara mereka.
"Aku cium ya?" tanya ustad Zaki dengan lebih bahkan hembusan nafasnya kini sudah menyapu wajah Zahra, seketika tubuh Zahra seperti kehilangan tulang-tulang nya.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
__ADS_1
Ig @tri.ani5249
...Happy Reading 🥰🥰🥰...