Menikahi ustad tampan

Menikahi ustad tampan
Titik Terang


__ADS_3

"Kalian siapa ya, apa saya kenal?" tanya gadis berhijab lebar itu, mungkin karena penampilan Zahra dan Nur yang masih memakai seragam putih abu-abu sangat mencolok jika mereka bukan anak kampus yang sama.


"Kita sebelumnya memang nggak kenal mbak, tapi kami kebetulan kenal dengan mbak Imah!" ucap Zahra memulai pembicaraan.


"Ahhh iya, aku jadi lupa. Jadi kalian kenal dengan Imah?"


"Iya, kami satu kampung dengan mbak Imah!" nur ikut menambahkan.


Gadis dengan hijab lebar itu akhirnya tersenyum, "Kebetulan sekali, Imah sudah beberapa hari ini tidak masuk kuliah, apa dia sedang sakit?"


Zahra dan Nur saling berpandangan, dan Nur meminta zahra untuk bicara,


"Jadi gini mbak, ada sedikit masalah dengan mbak Imah dan berimbas pada kehidupan saya. Sebenarnya maksud kedatangan kami ke sini pengen tahu banyak tentang kehidupan mbak Imah di kampus, siapa tahu bisa membantu menyelesaikan masalah kami."


"Kalau saya bisa, insyaallah akan saya bantu!"


"Alhamdulillah!" Zahra dan Nur mengusap dadanya bersamaan, ada perasaan lega di sana.


"Kami ingin tahu siapa saja teman-teman mbak Imah, atau akhir-akhir ini mbak Imah tengah dekat dengan siapa? Terutama cowok, mbak!" tanya Zahra bak seorang wartawan.


"Jadi ini masalah cowok?" gadis itu tampak terkejut, ia sampai mengerutkan keningnya hingga kedua alis tebalnya menyatu.


"Ya begitulah!"


Gadis itu tampak berpikir keras, "Kalau anak kampus kayaknya nggak ada deh, tapi_!" gadis itu menghentikan ucapannya dengan ekspresi yang kurang yakin.


"Tapi apa mbak?" Zahra tampak antusias menunggu kelanjutannya.


"Tapi aku nggak yakin, kalau tidak salah_!"


***


Kini Zahra dan Nur sudah sampai di depan rumah Zahra,


"Besok kita pergi lagi ya Nur!" ucap Zahra sambil melepas helmnya.


"Insyaallah aku usahain pokoknya!" ucap nur sambil menerima uluran helm dari tangan Zahra.


Belum sampai Nur beranjak dari tempatnya, Bu Narsih tampak menghampiri mereka,


"Kalian dari mana saja? Itu ustad Zaki sudah nungguin dari tadi, dia ke sekolah dan kata satpam semua siswa sudah pulang dari tadi!?"


Zahra dan Nur kembali saling berpandangan yang sebelumnya menyambut tangan Bu Narsih dan mencium punggung tangannya.


"Bu, tadi pagi kan Zahra sudah ngomong sama ibuk, kalau kita ada pekerjaan kelompok!"


Bu Narsih beralih menatap Nur, selama ini Zahra sering berbohong jadi membuatnya tidak terlalu percaya dengan putrinya itu.


"Bener kok Bu lek, kami memang ada pekerjaan kelompok ke salah satu kampus!"


"Ya sudah kalau kalian tidak berbohong! Mampir dulu Nur!"


"Lain kali aja bulek, Nur pulang dulu sudah sore, assalamualaikum!"


"Waalaikum salam!"


Setelah motor nur berlalu dari hadapan mereka , Zahra pun kembali menoleh pada ibunya,


"Beneran mas ustad ke sini, buk?" tanya Zahra, ia benar-benar merindukan pria itu. Tapi ia juga harus menahan rasanya.


"Iya, itu nunggu di dalam. Ibuk mau ke warung dulu, kamu cepetan temui suami kamu!"

__ADS_1


Bu Narsih segara berlalu meninggalkan Zahra sendiri,


"Buk, tapi_!" Zahra kembali memanggil ibunya tapi Bu Narsih memilih melambaikan tangannya tanpa membalik badannya.


"Yahhh, ibuk!" gumam Zahra, saat ini jantungnya tengah berdetak kencang. Berada jauh dari sang suami sehari semalam saja sudah cukup membuat jantungnya tidak karuan saat akan bertemu lagi.


"Aku harus gimana sekarang? Masak aku harus kabur sih, tapi kalau aku mau nemuin mas ustad aku harus bersikap bagaimana? Kalau aku nggak bisa mengendalikan diri bagaimana?" Zahra tampak gundah, bahkan kakinya tidak berniat untuk beranjak dari tempatnya, tangannya terus merem*s ujung kemeja putihnya yang sengaja tidak dimasukkan.


"Tapi kan juga pengen ketemu!"


Deg


Jantungnya semakin berdenyut saat melihat seseorang keluar dari dalam rumah, ustad Zaki tersenyum di depan pintu menyambut kedatangannya.


Ya ampun ...., kenapa keluar sihhhh ...


Zahra tidak bisa kabur lagi sekarang, perlahan ia melangkahkan kakinya mendekati sang suami,


"Assalamualaikum dek!" sapa ustad Zaki dengan senyum khasnya.


Zahra sengaja memasang wajah datarnya, tapi ia tetap melakukan kebiasanya dengan mencium punggung tangan sang suami,


"Waalaikum salam, kenapa mas ustad ke sini?"


"Mas khawatir sama dek Zahra!" ucap ustad Zaki sambil menggenggam tangan Zahra.


"Hanya khawatir?"


"Hahhh?" ustad Zaki tampak bingung.


"Lupakan!" Zahra segera menarik tangannya, "Sekarang sudah tahu kan kalau Zahra tidak pa pa, Zahra mau istirahat. Sebaiknya mas pulang aja!"


"Dek, mas akan pergi ke luar kota untuk beberapa hari ke depan."


Hahhh, maksudnya? batin Zahra tapi ucapan ustad Zaki berhasil menahan Zahra, ia kembali berbalik.


Setelah melihat Zahra berbalik, ustad Zaki kembali tersenyum tipis,


"Mas harap, dek Zahra bisa jaga diri. Mas ke sini cuma mau mengatakan hal itu!"


"Hmmm!"


"Baiklah, mas akan berangkat sore ini juga, insyaallah mas akan pergi selama dua hari ke depan!"


"Hmmm!"


"Assalamualaikum!"


"Waalaikum salam!"


Akhirnya ustad Zaki benar-benar berlalu dari hadapan Zahra, ia mengendarai motornya yang terparkir di seberang jalan entah sejak kapan.


"Yahhhh, kok cuma gitu sih! Dia nggak cium aku gitu, tega banget!" Zahra masuk ke dalam rumah dengan kesal.


***


Kini Zahra dan Nur sudah berada di depan sebuah toko buku,


"Beneran ini kan tokonya?" tanya Zahra pada Nur.


"Iya Zah, tuh lihat nama tokonya, sama kan?"

__ADS_1


"Iya sih!"


"Ya sudah, ayo masuk!"


Mereka mendatangi toko buku yang biasa di datangi Imah, kata gadis bernama Indah yang mereka temui kemarin, Imah belakang ini kerap datang ke toko buku itu untuk menemui seseorang, salah satu karyawan toko buku itu.


Kini mereka sudah berdiri di depan meja kasir,


"Mau cari buku apa dek?" tanya pegawai toko itu saat Zahra dan Nur berdiri di depan mejanya.


"Maaf mbak, kami mah cari karyawan sini yang namanya Anwar!"


"Anwar?" karyawan itu balik bertanya.


"Iya mbak, ada kan?"


"Ada sih, tapi Anwar sudah tidak kerja di sini sejak dua Minggu lalu!"


"Yahhhhh!?" Zahra merasa kecewa karena tidak bisa menemukan yang mereka cari.


"Kalau boleh tahu, Anwar sekarang tinggal di mana ya, mbak?" tanya Nur kemudian.


"Kurang tahu sih dek, eh tapi ada sih di sini yang berasal dari kota yang sama dengan Anwar, katanya Anwar pulang kampung!"


"Bisa panggilkan diam nggak mbak!?"


"Baiklah, bentar ya!" wanita penjaga kasir itu pun meninggalkan tempatnya untuk memanggil orang yang di maksud.


***


Kini Nur dan Zahra sudah kembali keluar dari toko buku itu dengan berbekal sebuah alamat.


"Kamu yakin Zah mau ke Trenggalek?" tanya Nur sambil memperhatikan alamat itu.


"Mau bagaimana lagi, aku harus ke sana Nur!"


"Sendiri?"


Zahra terdiam, orang tuanya tidak mungkin akan mengijinkannya pergi sendiri.


"Ada mas Imron!"


"Yakin kamu mau jujur sama mas Imron?"


"Nggak ada pilihan lain, Nur! Aku yakin mas Imron pasti bersedia!"


"Baiklah, aku mendukung apapun keputusanmu!"


"Makasih ya Nur,"


"Biasa aja kali...!"


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya


IG @tri.ani5249


Happy Reading 🥰🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2