
"Iya nek, dia istri saya!" Imron segera memotong ucapan Zahra, ia tidak mau berlama-lama membahas status mereka. Itu akan cukup membuang waktu. "Oh iya nek, boleh kami lihat foto Anwar, Nek?"
Nenek menatap Imron, sepertinya nenek mulai curiga,
"Bukankah kalian sudah saling kenal, kenapa minta foto?"
"Iya nek. Kami hanya takut saja jika ternyata Anwar ini bukan Anwar teman kamu, iya kan dek?" Imron segera meminta dukungan pada Zahra.
"Iya nek!"
Setelah menerima alasan Imron dan Zahra, akhirnya sang nenek bersedia untuk menunjukkan foto sang cucu.
***
Zahra terus menatapi layar ponsel mas nya, ia terus saja menatap.
"Mau sampai kapan kamu lihatin foto itu?!" keluh Imron,
Kini mereka sudah duduk di sebuah bangku yang ada di depan penginapan,
"Zahra benar-benar nggak percaya mas, ini benar-benar mirip sama mas ustad."
"Nggak juga,"
"Ahhh mas nih!" Zahra masih belum puas menatap foto itu, ia merasa foto itu benar-benar mirip dengan suaminya hanya saja sedikit hitam.
"Oh iya mas!" Zahra kemudian teringat sesuatu,
"Apa?"
"Kata nenek itu, kemarin ada yang cari juga kan cucunya. Kira-kira siapa ya?"
"Mas juga nggak tahu, nggak mungkin juga kalau orang suruhannya kyai Rosyid kan!"
"Hehhhh, benar juga. Kurang kerjaan banget kalau kayak gitu!"
"Sudah, nggak usah di pikirin. Bagaimana mau lanjut pencarian sekarang atau besok aja?"
"Lebih baik sekarang aja mas, lagi pula kan kafe biasa buka kalau malam."
"Baiklah, tapi sebaiknya setelah sholat magrib sekalian biar nggak nanggung!"
***
Tepat setelah sholat magrib, Zahra dan imron sudah siap menuju ke tempat yang di tunjukkan oleh sang nenek. Mereka tidak mau membuang waktu, mereka ingin segera membuktikan jika foto yang di tunjukkan oleh kyai Rosyid pada orang-orang kampung itu bukan ustad Zaki melainkan Anwar.
Tepat pukul tujuh malam mereka sampai juga di depan sebuah kafe yang tampak mulai ramai dengan pengunjung,
__ADS_1
"Aneh kafe nya, mas!" Zahra mulai curiga dengan tempat itu, kafe itu tidak seperti kafe-kafe pada umumnya. Beberapa pengunjung bahkan berpakaian begitu seksi.
"Nggak pa pa, kan ada mas!" Imron segera menggenggam pergelangan tangan adiknya agar tidak terlepas dari dirinya, seorang penjaga langsung memeriksa mereka, setelah tidak di temukan benda mencurigakan mereka pun di persilahkan untuk masuk.
Aroma-aroma aneh nan menyengat mulai menusuk hidung saat mereka melangkahkan kakinya masuk, lampu-lampu tidak menyala sewajarnya, beberapa lampu berkedip seirama dengan alunan musik yang cukup membuat bising telinga.
"Masih sepi!?" gumam Zahra, ia tidak tahu kemana perginya orang-orang yang lalu lalang tadi, hanya ada beberapa orang saja di sana tengah menikmati minumannya.
"Mungkin memang seperti ini kafenya!" Imron yang sudah mulai curiga dengan tempat yang mereka kunjungi itu semakin mengeratkan pegangannya pada sang adik perempuan.
"Lebih baik kita duduk di sana!" Imron menunjuk sebuah bangku yang tidak berpenghuni,
"Kok malah duduk sih mas, bukannya nyari Anwar!?" gerutu Zahra tidak setuju.
"Kita belum tahu persis tempat ini, lebih baik kita menunggu sampai Anwar muncul, Zah!"
"Tapi pasti lama!"
"Nggak akan, ayo!" Imron kembali menarik tangan Zahra dan membawanya ke tempat yang tidak begitu mencolok dari berbagai sisi.
Satu jam kemudian ....
Belum ada tanda-tanda kedatangan atau kemunculan Anwar, tapi mereka masih setia menunggu di tempatnya, entah sudah berapa kali pelayan menawari mereka menuman dan Imron masih terus menolaknya.
"Aku haus mas!" keluh Zahra sambil memegangi letak kerongkongannya.
Imron segera memesan dua gelas orange jus.
"Di sini nggak ada makanannya ya mas, Zahra lapar nih!?"
"Nggak ada,di tahan aja nunggu nanti kalau sudah keluar!"
"Mas Imron nggak ingin tanya siapa gitu!? Mungkin tanya sama mbaknya tadi."
Imron mengerutkan keningnya, ia merasa setuju dengan usul Zahra. mereka tidak mungkin berlama-lama di sana tanpa kepastian, apalagi mereka sudah menunggu satu jam lebih dan pria yang bernama Anwar tidak juga kembali.
"Baiklah, tunggu sebentar ya!"
"Hmmm!"
Imron pun akhirnya memilih beranjak dari duduknya, menghampiri pelayan yang tengah berdiri di belakang meja bartender.
"Permisi!?"
Pelayan cantik dengan tato mawar di atas dadanya itu menoleh pada Imron, "Iya?"
"Apa di sini ada yang namanya Anwar? Kalau ada saya ingin bertemu!"
__ADS_1
"Anwar?"
"Iya!"
Zahra memperhatikan masnya dari tempatnya, walaupun ia menajamkan telinganya tetap saja tidak bisa mendengarkan pembicaraan mereka karena suara musik di ruangan itu begitu keras dan memekakan telinga, tapi anehnya saya mereka di luar tadi bahkan suara musik itu sama sekali tidak terdengar dari luar, sepertinya memang tempat itu ada peredam suaranya.
Hingga akhirnya Imron kembali lagi menghampiri Zahra,
"Gimana mas?" Zahra begitu penasaran.
"Anwar memang di sini!" ucap Imron dengan ragu, Zahra yang begitu bersemangat segera beranjak dari duduknya dan menarik tangan Imron, tapi Imron menahannya membuat Zahra mengerutkan keningnya tidak mengerti,
"Ada apa lagi mas, ayo!"
"Kamu nggak boleh masuk ke sana,"
"Trus?"
"Mas juga nggak mungkin biarin kamu sendiri di sini!"
Hahhhh ....
Zahra menghela nafas dan kembali lagi duduk, ia memang ini secepatnya bertemu dengan Anwar, tapi ia juga tidak mungkin mengabaikan peringatan masnya. Saat ini ia mulai faham dengan tempat ini, tempat yang mereka kunjungi itu. Tempat ini bukanlah sebuah kafe, melainkan sebuah club' malam yang berkedok kafe.
"Zahra di sini aja mas, insyaallah Zahra bisa menjaga diri. Lagi pula tidak akan ada yang berani mendekati Zahra dengan pakaian Zahra yang seperti ini!"
Ya_, kali ini Zahra tengah memakai jilbab segi empat, ia sengaja memakainya saat jauh dari sang suami, sengaja untuk menjaga dirinya di situasi seperti ini.
Setelah mendapatkan bujukan dari Zahra, akhirnya Imron bersedia meninggalkan Zahra sendiri di tempat itu.
"Tapi ingat, tetap di sini dan jangan menyapa siapapun, mengerti!"
"Iya mas jangan khawatir, mas lupa siapa Zahra!? Zahra ini masih Zahra yang tidak kenal takut, jangankan seorang laki-laki hidung belang, preman aja Zahra lawan."
"Baiklah, kalau merasa ada bahaya, segeralah keluar dari sini, mengerti!"
"Iya, bawel!"
Imron mengusap kepala adiknya yang tertutup jilbab itu dan benar-benar meninggalkannya. Seorang pelayan mengantarnya bertemu dengan pria yang bernama Anwar.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
IG @tri.ani5249
__ADS_1
...Happy Reading 🥰🥰🥰...