Menikahi ustad tampan

Menikahi ustad tampan
Bonschap 2 (Hinaan)


__ADS_3

Sesampainya di masjid ustad Zaki tampak celingukan, ia mencari-cari seseorang.


"Lihat apa sih mas?" tanya Zahra yang ternyata memperhatikan sang suami.


Bukannya langsung menjawab pertanyaan dari Zahra, ustad zaki malah tersenyum saat manik matanya melihat Bu Narsih tengah berjalan memasuki area masjid.


"Itu ibu,"


"Tahu," sahut Zahra yang ternyata juga melihat ke arah Bu Narsih.


Beruntung Bu Narsih menghampiri mereka, mungkin karena melihat Zahra.


"Assalamualaikum," sapa Bu Narsih.


"Waalaikum salam," sahut mereka bersamaan dan Zahra pun segera meraih tangan Bu Narsih dan mencium punggung tangannya.


"Loh kenapa Zahra ikut?" tanyanya terlihat sedikit khawatir, pasalnya meskipun dokter sudah memperbolehkannya jalan-jalan tetap saja ia tahu bagaimana kelakuan bar bar putrinya itu.


"Zahra mau sholat magrib Bu."


Mendapat jawaban dari Zahra, Bu Narsih malah menoleh pada menantunya.


"Nggeh Bu, insyaallah nggak pa pa. Zaki titip dek Zahra sama ibu ya."


"Iya, iya. Biar Zahra sama ibu."


Setelah memastikan Zahra aman, ustad Zaki pun menuju ke wilayah wudhu laki-laki untuk mengambil wudhu. Sebenarnya dari rumah ustad Zaki sudah punya wudhu, tapi sepanjang jalan ia terus menggandeng tangan Zahra.


Sedangkan zahra dan Bu Narsih pun menuju ke area perempuan, satu tahun terakhir warga yang sholat jama'ah di masjid memang cukup banyak.


Selesai sholat magrib, beberapa orang memilih untuk menunggu hingga sholat isya' tapi Zahra malah merengek pada ibunya dan mengajaknya pulang.


Entah apa karena bawaan bayi, tapi semejak hamil Zahra jadi sangat cengeng dan manja

__ADS_1


"Nggak pa pa Bu, Zahra pulang dulu aja sama ibu, Zahra sudah ngantuk."


"Ya sudah kalau begitu biar ibu bilang dulu sama suami kamu, takutnya nyariin nanti."


"Zahra tunggu di teras ya. Itu ada Ina juga."


"Hmmm,"


Selagi Bu Narsih menemui sang menantu, Zahra menunggu di teras. Ia ikut duduk bersama para gadis kampung seumuran dengan Zahra.


Sebenarnya bukan hal aneh jika Zahra tidak banyak komunikasi dengan mereka karena memang sejak dulu pun seperti itu.


"Dengaren ke masjid, Jah." Ina langsung nyeletup nyolot dan Zahra tersenyum. Bukan Zahra namanya jika tidak bisa menjawabnya.


"Mending aku yang jarang ke masjid tapi punya suami ustad."


"Ihhh bangga banget jadi istri ustad. Istri ustad kok nggak kuliah, nggak takut di ambil uhti uhti berpendidikan?!" ucap Ina dengan bibir yang ikut mencar mencor membuat Zahra ingin meremas bibirnya.


Jika terlihat mungkin saat ini kepala Zahra keluar asap hitam.


'Awas aja kalau aku nggak hamil, aku Jambak rambut mu, Na.'


"Kenapa melotot seperti itu? Benar ya yang akh katakan?"


Baru saja hendak membuka mulutnya, tapi Bu Narsih sudah lebih dulu menghampiri mereka.


"Ayo nduk, ibu wes ngomong sama suami kamu,"


Jelas zahra tidak mungkin membalas ucapan kesar mereka di depan ibunya,


"Iya Bu."


Zahra dan Bu Narsih berjalan menuju ke rumah, sepanjang jalan Zahra hanya diam. Meskipun awalnya Zahra tidak berniat memikirkan hal itu, tetap saja ternyata tidak bisa.

__ADS_1


"Nduk, opo opo Ojo gampang di lebokne ati (Apa apa jangan mudah di masukkan ke hati)." ucapan tiba-tiba Bu Narsih berhasil membuat Zahra menoleh padanya.


"Buk,"


"Seng penting urip ora ngrepoten, ora njaluk wong e. Ora usah di gawe gede, seng penting bojomu Trimo Yo uwes (Yang penting hidup tidak merepotkan, tidak minta dia. Tidak perlu di buat besar, yang terpenting suami kamu terima ya sudah)." sambung Bu Narsih.


"Ibuk dengar apa yang di katakan Ina tadi?" tanya Zahra dan Bu Narsih pun mengangukkan kepalanya


"Sitik (dikit)!" ucap hu Narsih lagi.


Sedikit tenang setelah mendapat nasehat dari ibunya, tapi sepertinya rasa ngantukkan sudah hilang entah kemana.


Sesampai di rumah orang tuanya, Zahra bukannya langsung ke kamar untuk tidur zahra lebih memilih menikmati acara tv sambil ngemil krupuk puli buatan ibunya.


"Nggak jadi tidur?" tanya bu Narsih.


"Nggak Bu, Zahra di sini saja sambil nunggu mas ustad. Mas Imron sama bapak belum pulang?"


"Yo belum, katanya masih dua hari lagi di Surabaya."


"Hehhhh, lama ya buk."


Setalah Zahra pulang dari rumah sakit, Imron sengaja membawa pak Warsi ke rumah sakit Surabaya untuk melakukan pengobatan. Meskipun sudah sembuh bukan tidak mungkin akan kambuh lagi dan agar resiko itu bisa di minimalisir dengan melakukan serangkaian pengobatan.


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga yang banyak biar bisa up tiap hari


Follow akun Ig aku ya


Ig @tri.ani5249


...Happy Reading 🥰🥰🥰...

__ADS_1


__ADS_2