Menikahi ustad tampan

Menikahi ustad tampan
Bertemu dengan Anwar


__ADS_3

Pagi ini mereka sudah bersiap-siap untuk bertemu dengan Anwar, Imron sudah menunggu pasangan suami istri itu di depan penginapan, tidak ingin menghampiri mereka di kamarnya karena takut menggangu.


"Assalamualaikum, mas! Gimana sudah siap?" sapa ustad Zaki yang datang bersama Zahra.


"Waalaikum salam, Alhamdulillah sudah!" tapi segera Imron mengerutkan keningnya.


"Zahra ikut?" tanyanya sambil memperhatikan adik perempuannya itu.


"Iya mas, Zahra juga pengen tahu."


Imron sedikit mengkhawatirkan adik perempuannya itu apalagi saat ia ingat dengan apa yang ia lihat tadi malam, beruntung ustad Zaki datang tepat waktu hingga Zahra tidak harus melihat hal yang memang tidak pantas untuk ia lihat.


"Kenapa kamu tidak jalan-jalan saja, aku rasa itu lebih baik." ucap Imron berusaha untuk membujuk sang adik.


"Aku sudah kebanyakan jalan-jalan, jadi nggak nafsu tuh buat jalan-jalan." Zahra masih bersikeras untuk ikut, Imron pun beralih menatap saudara iparnya dan meminta pendapat padanya.


"Tidak pa pa mas, insyaallah dek Zahra mengerti!" ucap ustad Zaki dengan begitu tenangnya.


"Baiklah, jika menurutmu seperti itu. Aku ikut saja!"


"Apa pak Dul belum kesini?" tanya ustad Zaki lagi sambil memperhatikan sekitar, ia tidak menemukan pria itu di sekeliling mereka.


"Ohhh, pak Abdul ya? Tadi ijinnya ke toilet sebentar!" jawab Imron, ia tidak mengenal pria bernama Dul itu tapi seingatnya tadi sambil menunggu ustad Zaki dan Zahra ada seorang pria yang menghampirinya dan mengatakan kalau dia sopir ustad Zaki,


Kemudian tatapannya tertuju pada seseorang yang baru saja meninggalkan toilet, "Nahhh itu orangnya!" ucapnya sambil menunjuk pria yang menghampiri mereka.


"Maaf ustad, saya baru dari toilet!" ucapnya sedikit mereda bersalah karena telah membuat ustad Zaki menunggu.


"Tidak pa pa pak Dul, kami juga baru datang!" seperti biasa ustad Zaki selalu berkata dengan begitu ramah, "Bagaimana, sudah siap semua kita berangkat sekarang!?"


Akhirnya mereka pun sepakat untuk meninggalkan penginapan dan menuju ke tempat di mana mereka melakukan janji ketemu dengan Anwar.


Mereka sudah berada di sebuah restauran tidak jauh dari kafe yang mereka kunjungi kemarin malam, suasananya jelas jauh berbeda dengan suasana kemarin malam.


Pak Dul memilih menunggu di mobil sedangkan Imron dan Zahra memilih tempat duduk yang berbeda dengan ustad Zaki, Anwar hanya ingin bertemu dengan ustad Zaki.


Kini ustad Zaki duduk sendiri menunggui kedatangan Anwar. Sedangkan Imron dan Zahra sibuk memperhatikan pria yang duduk dengan begitu tenang itu.

__ADS_1


"Aku nggak sabar mas pengen cepet lihat pria yang namanya Anwar itu." ucap Zahra tanpa berpaling dari menatap suaminya, sesekali ustad Zaki juga membalas tatapan Zahra dan tersenyum.


"Nanti kamu juga tahu."


"Semakin ke sini, aku merasa mas ustad semakin misterius. Rasanya masih butuh waktu yang lama untuk mengenali mas ustad." ucap Zahra saat memperhatikan suaminya, jelas ia bukan hanya seorang ustad dengan titel lulusan pesantren saja, apalagi saat ia melihat titel di belakang nama suaminya, dia seorang sarjana juga, S2 bisnis, lulusan pesantren.


"Aku rasa juga seperti itu,"


Ucapan Imron yang mengambang tapi berhasil membuat Zahra tersadar dan mulai memperhatikan sang kakak laki-lakinya,


"Maksud mas Imron?"


"Hahhh?" sepertinya Imron tidak begitu sadar dengan perkataannya, rupanya ia juga tengah tidak fokus. Ia tengah terus memperhatikan saudara iparnya itu, apalagi dengan .keberadaan pak Dul, rasanya bukan sebuah kebetulan. Bagaimana mungkin seorang ustad kampung bisa punya sopir, ustad Zaki jelas bukan ustad yang biasa Wira Wiri di televisi, rasa-rasa nya cukup aneh jika hanya ceramah di kampung-kampung sampai punya sopir pribadi.


"Mas Imron juga merasa ada yang aneh kan?" tanya Zahra lagi mencoba mencari pembenaran atas apa yang tengah ia pikirkan.


"Mungkin!"


"Jadi benar!?" Zahra mengangukkan kepalanya berkali-kali karena merasa tebakannya beralasan.


"Tapi kan masih ada kemungkinan mas."


"Ya begitulah. Oh iya, kamu tahu kalau pak Dul itu sopir ustad Zaki?" tanya Imron memastikan.


"Enggak, kata mas ustad pak Dul yang menemaninya dari Blitar." ucap Zahra tapi kemudian ia tiba-tiba sadar, "Jadi maksudnya pak Dul sopir mas ustad?" tanyanya lagi begitu tersadar.


"Husssstttt, diam dulu. Itu Anwar datang!" belum sampai Imron menjawabnya, pria yang di tunggu-tunggu sedari tadi akhirnya datang juga menghampiri ustad Zaki.


"Gilaaaa, mirip banget!" Zahra sampai menutup mulutnya karena terkejut.


"Nggak juga, biasa aja!" Imron yang memang sudah bertemu dengannya Anwar sudah tidak terkejut lagi.


"Itu mirip mas, ya sih tapi masih gantengan mas ustad banyak-banyak!"


"Husssttttt, diam dulu!" akhirnya Imron menghentikan obrolan mereka.


Pria yang tengah mereka bicarakan benar-benar menghampiri ustad Zaki,

__ADS_1


"Zaki ya?" tanyanya saat sudah berdiri tepat di samping tempat duduk ustad Zaki, ustad Zaki pun segara mendongakkan kepalanya dan tersenyum,


"Assalamualaikum, iya benar!" sapa ustad Zaki sambil mengulurkan tangannya tapi Anwar hanya tersenyum tipis dan memilih duduk di kursi kosong yang berada di depan ustad Zaki.


"Jadi benar, rupanya ini yang membuat Imah melampiaskan perasaannya padaku!" ucap Anwar dengan nada dinginnya, ada luka yang tengah ia pendam dalam ucapannya.


"Jadi mas Anwar benar mengenal Imah?" tanya ustad Zaki, ia pun segera mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan sesuatu pada Anwar, "Jadi benar ini mas Anwar?" tanyanya lagi.


Anwar mengambil ponsel ustad Zaki dan memperhatikan foto itu, ia mengerutkan keningnya,


"Dari mana kamu dapatkan foto ini?" tampak dari wajahnya jika dia juga tidak tahu menahu soal foto itu.


"Karena foto ini, saya mendapatkan fitnah!" ucap ustad Zaki yang masih bersikap tenang, ada perasaan lega juga. Setidaknya beberapa foto itu memang terbukti bukan dirinya.


Anwar tersenyum kecut dan menggeser kembali ponsel itu hingga berada di depan ustad Zaki,


"Bukankah ini bagus, Imah gadis yang Sholehah sangat cocok jika bersanding dengan pria Sholeh sepertimu, bukan?"


"Justru kedatangan saya ke sini ingin meluruskan semuanya."


"Apa? Ingin mempertegas kalau kalian memang cocok, kalian memang pantas bersatu? Nggak masalah, lagi pula saya sudah menyerah. Imah begitu mengagumimu, bahkan ia melihat bayangan dirimu padaku. Tapi itu hanya sebuah bayangan karena aku bukan pria Sholeh sepertimu, dan bayangan itu akan hilang bersama ku yang telah pergi. Tidak seharusnya kamu mencariku lagi, sudah cukup dan aku tidak akan menggangu Imah lagi, kalian bisa hidup bahagia tanpa aku, pastinya!"


"Mas Anwar salah!"


"Apa lagi yang salah? Semua sudah jelas, Imah hanya mencintai kamu, bukan aku!"


"Imah bukan mencintai saya, dia hanya terobsesi terhadap saya. Dan asal mas Anwar tahu saya tidak akan mungkin bersatu dengan Imah karena saya sudah beristri!"


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya


IG @tri.ani5249


...Happy Reading 🥰🥰🥰...

__ADS_1


__ADS_2